menu

Sabtu, 25 Februari 2012


Ayunk Nitinegara

Faktor Ekstrinsik Kelulusan.
.
Ujian Nasional (UN) sebentar lagi. Kalau tidak salah tanggal 16 april 2012. Sebagian pelajar harap-arap cemas menghadapinya, bisa lulus ataukah tidak.
Sepintas, untuk bisa lulus dari ujian nasional ini, para peserta ujian cukup hanya mempersiapkan faktor-faktor yang berkaitan lansung dengan UN, seperti peningkatan penguasaan materi pelajaran. Namun pada realitanya UN banyak menimbulkan berbagai “misteri”. Adakalanya, peserta ujian yang menonjol ketika masa pembelajaran di sekolah, namun ketika pengungumuman kelulusan mendapat hasil yang sangat mengecewakan, tidak lulus. Tapi, peserta ujian yang biasa-biasa saja ketika sekolah, namun dengan sangat mengejutkan menempati urutan pertama dalam perolehan danum kelulusan. Sobat, believe or not itulah faktanya.
Dari fakta seperti itulah, penentuan kelulusan UN tidak hanya dipengaruhi faktor-faktor instrinsik (dari dalam diri sendiri) saja, seperti peningkatan kompetensi intlektual, persiapan mental dan performa tubuh, serta kecakapan dalam prosedural teknis UN, misalnya pengisian LJK. Tapi juga ada faktor-faktor ekstrinsik yang ikut berperan dalam menentukan kelulusan, yaitu ridho dan doa orang tua, baik ayah-ibu maupun guru.
Ridho dan doa guru tidak kecil peranannya dalam kelulusan dan terlebih lagi pasca kelulusan. Karena ridho dan doa guru bersangkutan erat dengan kemanfaatan ilmu. Banyak kejadian dimana seorang pelajar yang berprestasi disekolah, tetapi ketika terjun kemasyarakat tidak menjadi apa-apa, seolah-olah sederet prestasinya ketika bersekolah tak ada gunanya. Hal-hal seperti inilah berkorelasi penuh pada ridho dan doa guru untuk menyampaikan ilmunya pada anak didiknya. Sedangkan anak yang tidak terlalu menonjol kemampuan akademisnya, karena kebaikan dan akhlaknya pada guru sehingga mendapat ridho dan doa dari guru, bisa mendapat posisi yang terhormat ketika berkecimpung pada masyarakat luas.
Dalam kitab Ta’limul Muta’alim karya Syekh Az Zarnuji (w. 597 H) menerangkan, untuk bisa mendapatkan ridho dan doa guru, yaitu dengan menghormatinya, menghindari membuat guru murka dan menjunjung tinggi segala perintahnya selama tidak melanggar perintah agama. Jika hal itu bisa dilakukan, insyallah kelulusan akan kita gapai dan kenikmatan hidup pun akan dapat kita peroleh.
Selain doa dan ridho guru, doa dan ridho orang tua sangatlah penting dalam setiap langkah hidup kita, apalagi hanya sekedar untuk mendapat kelulusan, doa dan ridho orang tua sangatlah penting.
Ada cerita – entah nyata atau fiktif – dari guruku ketika masih duduk di bangku SMA, tepat saat menjelang UNAS, seperti saat ini. Ada salah seorang siswa di sebuah sekolah di Banyuwangi. Si siswa tersebut tergolong siswa yang cerdas. Pada suatu hari ketika anak tersebut akan pergi untuk bimbingan pelajaran, ternyata sang ibu dari siswa tersebut memanggilnya dan menyuruhnya untuk membelikan sesuatu di toko, namun dengan ketus anak tadi menolak dan ngeluyur pergi. Malihat reaksi anaknya yang seperti itu, sang ibu murka, “ percuma kamu Nak, pintar dan rajin belajar, tapi kalu seperti itu (kurang ajar, pen ) tidak akan lulus kamu Nak…”.
Di luar dugaan, si siswa tadi yang pandai dan menjadi rujukan teman-temannya dikelas ketika UNAS dan digadang-gadang bakal memperoleh nilai tertinggi, ternyata menjadi satu-satunya siswa yang tidak lulus dari kelasnya, padahal teman-temannya yang notabene-nya dia beri jawaban, lulus semua dengan nilai yang cukup memuaskan. Sungguh doa dan ridho orang tua itu sangat penting. Rosulullah bersabda:
“ridhonya Allah tergantung ridhonya orang tua, murkanya Allah juga tergantung murkanya orang tua”
Untuk bisa memperoleh ridho dan doa yang baik dari orang tua kita harus mempunyai adab atau tatakrama kepada beliau. Dalam kitab Maroqil Ubudiyah karya Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi mengklasifikasikan adab pada orang tua itu ada tiga belas yang intinya yaitu berlaku sopan santun, menyayanginya, mematuhi perintahnya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama, berbuat baik, lemah lembut dan rendah hati, serta selalu bepergian setelah mendapat izinnya. Bahkan kepada orang tua kita yang kafir pun kita harus mempergauli beliau dengan baik dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan agama
Lalu bagaimana jika kita telah terlanjur menyakiti hati guru dan orang tua kita?
Memohon maaf dan segera merubah segala perangai kita yang bisa membuat beliau-beliau murka kepada kita sehingga menghalangi ridho dan doa baiknya kepada kita.
Sobat, lagi-lagi ada cerita tentang hal ini. Temanku sekolah, sebut saja Bejo (nama samaran), [hampir] tidak ada kelakuan terpuji darinya. Orang tua, Guru, teman-temannya mengakui kenakalannya. Tidak hanya nakal tapi juga “kurang pandai” dalam hal pelajaran. Jika harus ikut ujian UN, mungkin setiap orang akan memprediksinya tidak akan lulus. Saya pun berani bertaruh apapun, jangankan taruhan motong telinga, terlalu kecil, atau potongan leher, terlalu besar, tapi terserah wez mau milih yang mana? Hehehehe….., dia tidak akan lulus UN. Tapi ternyata, keajaiban datang, anak yang super nakal dan lemot tadi lulus dengan nilai yang tidak terlalu mengecewakan dan tergolong besar untuk tingkatan dia. Lalu pertanyaannya, “Apa rahasianya?”
Ketika seminggu sebelum UN dilaksanakan, anak yang begitu nakalnya ini bersimpuh menangis tersedu-sedu di kaki ibunya, memohon maaf atas segala kelakuannya yang telah mengecewakan sang ibu. Sungguh sang ibu tidak menyangka dan dengan reflek sang ibu menangis dan dengan turut menangis itulah keikhlasan memaafkan terjadi sehingga menghapus segala kesalahannya pada orang tuanya. Tidak cukup itu, ibunya lalu diajak kepada masing-masing gurunya untuk memohonkan maaf atas segala kenakalannya di sekolah, reaksi yang hamper sama dang sang ibu pun, dia terima dari setiap guru.
Ada seorang guru kimia yang membenci temanku karena kenakalannya begitu pula temanku tadi. Pada saat berkunjung ke rumah Bu Guru kimia tadi, saya ikut menemani temanku dan ibunya meminta maaf. Sungguh saya disuguhi sebuah drama kehidupan yang sangat mengharukan. Melebihi keharuan dan dramatisnya flim bollywood dan telenovela, apalagi sinetron Indonesia, hehehe….
Dengan mimik yang jujur dan penuh ketulusan, suara yang agak berat keserakan, mata yang yang sendu, serta dengan kepala tertunduk, terdengar kata-kata yang sangat dalam dan Ku kenang hingga sekarang. Kata temanku pada sang bu guru kimia,” Bu, kulo sadar ,,, kulo niki mboten lebih sae dugi romot, duso kulo teng jenengan luwih ageng tinimbang gunung, kulo semerep, jengan angel nyepunten kulo, mboten mungkin jenengan nrimo kelakuane kulo lantaran mong nedi sepunten,,,, sa’niki kulo kerso nopo mawon kang bade jenengan hukumaken teng kulo, lan kulo ikhlas le’ jenengan ngutuk kulo mboten lulus ujian,,, memang terae kulo mbotan pantes lulus,,, Le’ jenengan mboten kerso nyepunten kulo, kulo mong nedi pendungane jenengan mawon, dunga’aken kulo dadi tiang sae kang saged dadi aken penyepurane tiang katah teng sedantene keaslahane tingkah kulo…”.
Kata-katanya mampu menghipnotis bu guru tadi yang sangat terkenal killer di sekolah, air mata mengalir pelan di pipi bu guru seraya terdengar rintihan doa, “ yo wes le,,, mugi-mugi kon dadi tiang sae”. Sajak saat itulah perangai temanku berubah 180 derajat.
Boleh percaya atau tidak, nggak masalah, tapi yang menjadi entry point-nya adalah ridho dan doa orang tua dan guru harus segera kita peroleh. Dan, jika kita terlanjur berbuat salah sesegera mungkin meminta maaf dengan setulus hati.
Semoga teman-teman sekalian yang akan menghadapi ujian nasional lulus semua dengan hasil yang terbaik. Amin!

Catatan: Penulis adalah mantan siswa yang merasakan UN tingkat SMA dua kali berturut-turut dengan sekali tidak ulus dn sekali lulus, plus sekali ikut ujian paket C, hahaha

Tidak ada komentar: