menu

Sabtu, 31 Desember 2011

Cerita lama bersemi kembali


Penyesalan yang tertunda

                Suasana tenang dan tegang ketika ujian akhir semester dimulai, lembar-lembar soal tergeletak diatas meja yang menjadi satu dengen kursinya, sementara dosen pengawas duduk manis di meja depan sembari menjaga pandangan  pada setiap mahasiswa seoalah tak mau terlwatkan dari setiap gerak-gerik mahasiswanya.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 menandakan waktu yang telah diberikan untuk mengerjakan soal-soal fisika I itu telah berjalan sekitar setengah jam-an dari 100 menit yang diberikan, dengan waktu 30 menit yang telah berlalu tak adapun satu coretan jawaban yang ada pada lembar jawaban, melainkan hanya ada identitas dan no ujian yang wajib di isi pada kolom pojok atas. 
                Entah apa yang ada dalam otak ido kala itu, seakan angka dan abjad yang tertera pada soal-soal tak pernahh ia lihat waktu kuliah, padahal untuk mengikuti ujian itu setiap peserta harus melunasi semua adminsitrasi kampus dan itu semua memerlukan biaya yang tidak sedikit. Ido sangat bingung, kepalanya sangat berat terasa sseperti membawa beban yang sangat berat dan berjalan digurun pasir yang panas.
                Waktu yang tersisa untuk mengerjakan soal tak terasa tersisa tinggal 20 menit lagi, tetapi lembar jawaban itu tak jauh beda dengan kondisi awalnya, yang bersih memang ido sangat kecil keinginan untuk bisa dan memahami dengan pelajaran iksak yang kali ini harus di selesaikan di depan matanya, meskipun sudah berusaha menggali dan mengingat-inagt lagi setiap keterangan yang telah diberikan dosen beberapa hari yang lalu sebelum hari tenang.
                Bagaimana tidak, setiap waktu setiap jam di buangnya sia-sia tak pernah ingat akan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa yang harus bisa menjadi panutan dan ppenerus keluuarga dan masyarakat bahkan bangsa Indonesia sekalipun.
                Ido pun tak mungkin lagi bisa mengerjakan soal-soal itu, yang ada dalam fikirannya hanyalah masalah-masalah yang menimpa dirinya sendiri sehingga tak ada satu soalpun yang dikerjakan hanya beberapa rumus yang tak jelas .
                Penyesalan dan harapan baru yang ada dalam fikirannya hanyalah menyesal, menyesal dengan apa yang ia lakukan. Dia sontak berfikir dan ingat pada kedua orang tuanya, yang hanya berprofesi sebagi buruh tani yang mempunyai keinginan mulia, mungkin beliau hanya ingin nasib anaknya tak sesulit dengan apa yang beliau kerjakan sekarang, tak banyak harapan yang di tuntut oleh orang tuanya.
                Tiba-tiba seorang dosen pengawas menegur seorang mahasiswa yang sedang menyontek pekerjaan teman disampingnya, membuat ido terbangun dari lamunannnya, tetapi tak terbesit sedikitpun di fikirannya untuk meniru tingkah temannya itu selain malu Ido juga berfikir tak pantas menyandang status mahasiswa yang sudah bukan anak SMU lagi, notabennya seorang calon sarjana teknik industri masak harus mengcopy pekerjaan temannya.
                Suara bel pun teredengar dari sudut ruangan B-12 untuk jurusan industri yang menandakan waktu ujian yang telah diberikan sudah habis, habis pula waktu untuk mengerjakan soal-soal itu, akan tetapi tak ada hasil yang didapat tak lain hanya lamunan, impian, dan penyesalan yang tertunda, yang seharusnya penyesalan itu terjadi pada jauh-jauh hari sebelum terjjadi perang fikiran. Waktu Ujian yang seharusnya untuk menyelesaikan soal-soal fisika I yang digunakan sebagai barometer apa yang telah dipelajari selama satu semester.
                Mungkin besok akan terulang lagi karena ada mata kuliah kalkulus, ma’af bapak, maafkan juga para dosen, tapi ido tetap bertekat karena masih ada 6 semster lagi yang sudah menyambut langkahnya untuk mencapi tujuan dan cita-cita sebagai generasi muslim yang berIPTEK dan IMTAQ, doakan…
Amin


Nyamplungan 19 januari 2009

katahati


Pengujung Tahun Masehi

Sudah tahu hidup sementara
mengapa manusia masih sulit di kata
sudah tahu hidup sementara
tapi masih ada ngefans dengan angkara murka
tahun baru
            tapi umur bumi semakin merunduk
            kapan waktu kita untuk tertunduk
            kepada sang kholiq
cukup ..
aku tak kuat memikirnya

                                                Surabaya, 1 januari 2012