menu

Kamis, 20 Agustus 2015

MERDEKA: AYO BERLITERASI

Merdeka: Penggiat Literasi Merayakan Kemerdekaan Indonesia di Puncak Ijen

“Negeri Indoensia ketika itu merdeka, tetapi penduduk Indonesia, rakyat jelata Indonesia, Marhaen Indonesia adakah ia merdeka? Marhaen Indonesia tidak pernah merdeka.” Mereka hanya menjadi perkakas saja dari raja-raja itu dengan segala bala keningratannya...”

Penggalan dari buku Mencapai Indonesia Merdeka, tulisan Ir. Soekarno itu dibacakan oleh Saifudin Zuhri – kelak dia menjadi Menteri Agama, begitupula anaknya yang bernama Lukman Hakim Saifudin juga menjadi Menteri Agama RI untuk saat ini - dihadapan para pengurus takmir masjid. Kemudian para takmir itu berdiskusi tentang kemerdekaan dan penjajahan. [1]

Kisah masa kecil KH. Saifudin Zuhri yang ditulis autobiografinya, Berangkat Dari Pesantren, itu menggambarkan bahwa dunia literasi ikut memainkan peran penting dalam mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Dengan segala keterkungkungan penjajah Belanda, media tulis menulis menjadi solusi. Lewat tulisan – tulisan, baik berupa buku, koran ataupun pamflet – gagasan kemerdekaan, propaganda perlawanan terhadap penjajah dan hal ihwal upaya pencerdasan segenap anak bangsa disebarkan.

Setelah era politik etis – akhir abad ke-19 – yaitu dengan dibukanya lembaga pendidikan (sekolah) yang mengajarkan cara membaca dan menulis dalam huruf latin, perkembangan dunia literasi latin pun bergeliat. Pada awal kebangkitan nasional, hampir setiap organisasi atau kumpulan apapun mempunyai produk literasi. Baik berupa buku, jurnal, majalah ataupun koran. Misalnya, dr. Wahidin Soedirohoesodo (1857-1917) – inspirator berdirinya organisasi Budi Utomo – menerbitkan majalah Ratnadoemilah. Adapula jurnal Bintang Hindia yang diterbitkan pertama kali di Belanda pada tahun 1902 oleh Abdul Rivai (l. 1871). Dan banyak lagi terbitan lainnya.

Memang pada beberapa dekade menjelang kemerdekaan (1900-1930) itu, tak banyak orang yang bisa membaca huruf Latin. Sebagaimana sensus yang dilakukan pemerintah kolonial pada tahun 1930, jumlah penduduk seluruh kepulauan di Indonesia tak lebih dari 7,4 % saja. Perinciannya: di Sumatera 13,1 %, di Jawa dan Madura 6% serta di Bali dan Lombok 4%. Dan presentase terbesar berada di Ambon yang mencapai 50% [2]. Namun hal tersebut tidak menghalangi rakyat Indonesia untuk berliterasi.

Sebagaimana dikisahkan oleh Saifudin Zuhri diawal tulisan ini, orang yang bisa membaca bertugas untuk membacakan buku tersebut didepan para audien yang tidak bisa mengakses bacaan. Kemudian yang mendengarkan itu mendiskusikannya antar sesama pendengar dan pembaca itu sendiri. Proses yang demikian tak ubahnya sistem pengajaran di pesantren, yaitu sistem bandongan. Sistem bandongan adalah sistem pembelajaran kitab kuning di pesantren dimana qori (pembaca kitab), membacakannya dihadapan para santri.

Namun sebenarnya, peranan literasi dalam membangun kesadaran nasional dan kemerdekaan serta perlawanan terhadap penjajah tidak hanya baru muncul pada awal abad ke-20 saja. Sebelum diterapkannya politik etis yang mengajarkan aksara Latin, penduduk Indonesia sejatinya telah berliterasi. Baik dengan menggunakan aksara Jawa, aksara Pegon maupun aksara Arab.

Proses literasi dalam kerangka melawan penjajah berkembang pada abad ke-17. Banyak karya tulis yang mengabadikan dan menyerukan perlawanan terhadap penjajah. Diantaranya adalah karya Syekh Abdus Samad al-Falimbani (1116 -1203 H / 1704-1788 M), yang berjudul Nasihatul Muslimin wa Tazkiratul Mukminin fi Fada’ilil Jihad fi Sabilillah wa Karamatil Mujahidin (Nasihat bagi orang-orang muslim dan pengingat bagi orang-orang mukmin tentang keutamaan jihad di jalan Allah dan kemulyaan orang-orang yang berjihad). Kitab yang ditulis menggunakan aksara dan bahasa Arab ini sendiri merupakan kajian dalam bidang fiqih dan tasawuf, namun sarat dengan seruan untuk melawan penjajahan. Dari kitab inilah, salah satu pahlawan nasional dari Aceh, Tengku Cik Di Tiro terinspirasi untuk melakukan perlawan terhadap penjajah [3].

Di Indonesia timur juga muncul banyak karya tulis yang menyerukan tentang perlawanan terhadap penjajah. Rijali, seorang penulis asal Ambon, menulis Hikayat Tanah Hitu, dalam bahasa Melayu dan menggunakan aksara Arab Pegon yang mekonstruksi sejarah Ambon, dimana meletakkan Portugis dan Belanda sebagai penjajah “kafir” yang harus dilawan. Di Makasar juga muncul karya literasi berjudul  Syair Prang Makasar yang dianggit oleh Encik Amin. Tulisan tersebut menggunakan aksara Arab Pegon dan bahasa Melayu. Isinya berupa pujian pada Pangeran Hasanudin yang melawan penjajah Belanda [4].

Pasca perang Jawa (1725 – 1730 M), banyak para pengikut Pangeran Diponegoro yang notabane-nya adalah para ulama dan pendakwah mengubah stategi perlawanan terhadap penjajah. Selain masih menggunakan konfrontasi fisik, mereka juga mulai melakukan kaderisasi strategis dengan mengedepankan pendidikan (pesantren). Lewat pesantren itulah, dunia literasi sebagai bagian dari perjuangan melawan penjajah dilaksanakan.

Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Kyai Abdus Salam. Selain seorang pendekar pilih tanding, eks pasukan Pengeran Diponegoro ini juga merupakan juru dakwah dan ulama. Usai ditangkapnya Pangeran Diponegoro, Kyai Abdus Salam menggeser area perjuangannya dari Tegalrejo menuju ke arah timur, Tambakberas Jombang. Disini beliau mendirikan pesantren yang kelak dikenal dengan pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang. Dari keturunan Kyai Abdus Salam dikemudian hari lahir para faunding faather bangsa Indonesia. Diantaranya adalah KH. Hasyim Asyari dan KH. Wahab Hasbullah yang kelak memprakarsai resolusi jihad pada perang kemerdekaan [5].

Keberadaan pesantren kala itu, tidak hanya mengajarkan literasi ilmu-ilmu keagamaan saja. Namun, beragam ilmu militer guna melawan penjajah juga diajarkan. Diantara naskah yang diajarkan dan kemudian dirampas Belanda dan kini tersimpan di perpustakaan Lieden, yaitu satu teks dengan kode Lor 5738 bis yang berjudul Mbedil (menembak) [6].

Ilmu-ilmu kemiliteran ini, dipelajari dari teks-teks Spanyol-Portugis dan Turki-Utsmaniyah yang diterjemahkan oleh kalangan santri-mustami’ (meminjam istilah Ahmad Baso), di Bontoala-Makasar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Bugis dan Makasar. Diantara teks tersebut ditulis oleh komandan artileri Raja Katela (spanyol), Andrea Ri Monyona dibuat pada tahun 1635 dan 1652. Dan juga tulisan Haji Bankatasi (dialek Bugis dari Haji Bektash), yang merupakan komandan artileri Kesultanan Turki Utsmani asal Anatolia [7].

Banyaknya pesantren yang menjadi basis perlawanan terhadap penjajah, membuat Belanda seringkali melakukan razia ke pesantren. Salah satu diantara targetnya adalah dengan merampas kitab-kitab pesantren yang menjadi media perjuangan literatif. Sebagaimana sebuah surat yang ditulis oleh Snouck Hurgronje tentang perampasan ini:

“Akhirnya saya memperoleh sejumlah naskah yang saya bawa dari Hindia-Belanda untuk saya sampaikan. Berikut ini terlampir koleksi naskah-naskah yang sebagian berbahasa Arab, sebagian lagi dalam bahasa Jawa (dalam huruf Jawi atau Arab Pegon). Beberapa tahun lalu naskah-naskah itu saya peroleh sari kota Serang (Banten) yang sebelumnya tersimpan dan ditahan selama 16 tahun, yang kemudian saya bawa ke Batavia. Kebanyakan naskah-naskah tersebut bertema keagamaan, yang disita dari seorang pribumi yang dituduh melakukan agitasi anti pemerintah [kolonial].” [8].

Dari fakta sejarah diatas dapat disimpulkan bahwasannya literasi memiliki peranan yang tidak kecil dalam mencapai kemerdekaan bangsa ini. Dengan literasi menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemerdekaan dan perjuangan melawan penjajah serta peningkatan aneka ragam ilmu pengetahuan. Maka, diperingatan 70 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia kali ini, kesadaran akan pentingnya literasi pun harus kembali digalakkan. Membaca dan menulis tentang penyadaran dan pencerdasan kehidupan bangsa menjadi instrumen penting dalam mengisi kemerdekaan ini.

Ayo berliterasi...!

Ayung Notonegoro
Penggiat Literasi

Fotenoot:
1.      Berangkat Dari Pesantren, KH. Saifudin Zuhri, LkiS: Yogyakarta, Cet. 1, 2013. Hal. 99 – 102.
2.      Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008 (terjemah), MC. Ricklefs. Serambi: Jakarta, Cet. 1, 2008. Hal. 346.
3.      Ensiklopedi Penulis Pesantren: Biografi Singkat Para Penulis Pesantren (Mulai Abad 14 Hingga 21 Masehi), A. Mubarok Yasin. Pustaka Tebuireng: Jombang, Cet. 1, 2009. Hal. 39-41.
4.      Pesantren Studies 2a, Ahmad Baso, Pustaka Afid: Jakarta, Cet. 2, 2013. Hal. 275
5.      Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad, Zainul Milal Bizawie. Pustaka Compass: Jakarta. Cet. 1. 2014. Hal.50-51
6.      Ibid, Ahmad Baso. Hal. 303
7.      Ibid, Ahmad Baso. Hal. 275-276.
8.      Naskah surat asli tersebut dapat dilihat di , Witkam, Inventory, vol.6 hal.159-60. Diterjemahkan oleh Ahmad Baso dalam catatan kaki buku Pesantren Studies 2a, halaman 144.



Tidak ada komentar: