menu

Kamis, 07 Februari 2013

Dilema Valentine


“Wah, parah ni.”  Irul yang baru datang di camp bersungut-sungut seraya membanting badannya duduk dikursi.

Opo’o?”  Tanya Kholik yang sejak tadi berada di camp.

“Coba pikir Lik, sekolahan sebelah itu diliburkan karena besok mau ngadain festival valentine day, parah nggak?” Irul menjelaskan dengan meletakkan jari telunjukknya dikening.

Di camp, tempat berkumpul  para pemuda dari beragam latar belakang, itu Rohim menanggapi,
Loh, masalah buat kamu?”

“Jelas dong. Sekolah itu lembaga pendidikan, pendidikan ilmu pengetahuan ataupun pendidikan moral. Masa’ pake ngadain valentine-an. Itu kan acara amoral.”

“Kok bisa amoral?”

Loh wong disana diumbar berbagai kemaksiatan. Memang sih di sekolah tersebut tidak ada acara minum minuman keras atau pesta mesum, tapi apa dijamin kelanjutannya diluar?” Irul memburu.

“Benar, tahun kemarin aja, ada beberapa siswi yang ditemukan mabuk waktu valentine.”  Dani menguatkan argumentasi Irul.

“Iya ya….”  Ibnu yang sejak tadi sibuk membaca koran terpancing.

“Kenapa sih kok diadakan acara valentine-an segala, kalau cuma untuk merayakan hari kasih sayang? Bukankah ini semacam ada konspirasi internasional untuk merusak moral pemuda dengan dalih hari kasih sayang?” Lanjut Ibnu.

“Ya jika dilihat dari sejarahnya sendiri, memang ada semacam momentum untuk dijadikan sebagai peringatan hari kasih sayang. Dimana seorang uskup rela mati demi membela cinta. Ya mungkin semacam peringatan maulid Nabi Muhammad, kenapa harus menunggu bulan robiul awal kalau untuk meneladani kanjeng nabi?”  Rohim menimpali.

“Ya tidak bisa kita samakan begitu saja dengan peringatan maulid nabi. Jelas beda.” Irul membantah.

“Yang bermasalah itu isinya, jika maulid nabi diisi dengan pengajian tapi jika valentine diisi dengan kemaksiatan.” Dani menyambung.

“Nah, kemaksiatan ini lah yang saya kwatirkan sebagai bentuk  konspirasi besar.” Ujar Ibnu.

“Maksudnya?”

“Ada pihak-pihak yang sengaja mempropaganda hari valentine sebagai hari kasih sayang. Diiklankan diberbagai media massa, diagendakan berbagai acara besar dan hebat untuk memperingatinya, disediakan berbagai keperluan untuk itu, dengan begitu publik akan mudah tertarik.” Jelasnya.

“Benar. Kalau kita mau berfikir jernih, sebenarnya valentine bukanlah ditujukan untuk memperingati hari kasih sayang, tapi menjadi semacam komoditas kapitalis. Dengan dipropagandakannya valentine, industri coklat laris, penjual bunga laku besar, tempat wisata ramai, hotel-hotel pun ramai, belum lagi media yang mendapatkan iklan dan pelaku bisnis hiburan.” Kholik mengimbuhi.

“Bukankah dengan begitu akan meningkatkan perekonomian masyarakat?” Tanya Rohim.

“Kalau begitu saja sih tidak masalah, tapi ada ekses negatif yang mengiringi.” Kholik menimpali sambil mengembuskan asap rokok dari hidungnya.

“Bahkan saya pernah mendengar, coklat-coklat yang diperuntukkan untuk valentine itu didalamnya dicampur semacam zat adiktif agar yang memakannya menjadi teransang. Ini kan ekses negatif?” Lanjutnya.
“Wah yang bener?”
“Iya lah, buktinya banyak cewek-cewek yang rela melepas keperawanannya waktu hari valentine, mungkin salah satu sebabnya karena teransang coklat yang diberikan pacarnya?” Kholik berprasangka.

Semakin malam perbincangan semakin seru. Irul, Rohim, Kholik, Dani, Ibnu, dan beberapa pemuda lainnya biasa berkumpul di rumah Yusri, yang biasa disebut dengan camp, untuk berdiskusi berbagai hal.

“Tapi ini kan masih prasangka, bukan berdasar fakta yang empirik. Kalau menurut saya, penyimpangan-penyimpangan dalam merayakan hari valentine itu lebih kepada permasalahan individu masing-masing. Jika otak mereka kotor, ya mesum hasilnya. Jika jiwa mereka bejat, ya mabuk jadinya. Tapi, jika dirinya berfikir dan berjiwa positif, ya hasilnya pun akan positif.” Rohim menyangkal.

“Kopi-ne wes mateng, ngombe sek, bene penyar pikirane.”  Yusri menyelingi perbincangan dengan membawa seteko kopi beserta gelasnya.

“Wah mantap.” Dani dan Ibnu hampir bersamaan mengucapkannya.

Mereka menuang kopi ke gelasnya masing-masing. Tak lupa pula menyalakan rokok.

“Sruuuupt….” Ibnu menyuruput kopi dari gelasnya, kemudian menyedot batang rokonya dan menghembuskan asapnya dan diikuti oleh lainnya.

“Jika kita mau realistis, sebenarnya masih banyak figur maupun momen yang bisa diangkat sebagai ikon untuk peringatan hari kasih sayang. Misalnya, sosok Nabi Muhammad, beliau adalah sosok penuh kasih sayang. Kasih sayangnya tidak terbatas hanya pada orang-orang yang mencintainya, tapi juga pada orang yang membencinya.” Yusri membuka kembali perbincangan. Rupanya ketika di dapur untuk memasak kopi, dia ikut menyimak.

“Tidak ada orang yang nilai kasih sayangnya melebihi beliau. Mana ada orang yang mau menyuapi orang yang senantiasa mencacinya, mana ada orang yang mau menjenguk orang yang selalu menyakitinya, mana ada orang yang mau mendoakan terhadap orang yang senantiasa menghujatnya. Ini sebenarnya nilai-nilai kasih sayang yang layak kita peringati.” Lanjut Yusri.

“Benar itu Cak.” Timpal Ibnu.

“Ini sebagai bukti bahwa valentine itu sebagai konspirasi  kapitalis yang hanya dijadikan sebagai objek komoditas dagangan.” Imbuhnya.

“Jika ngomong kapitalis, maka punjer nya ya Yahudi. Jika sudah Yahudi, ujung-ujungnya ya perusakan moral.” Irul melanjutkan.

“Sebenarnya kunci utama merebaknya virus valentine ataupun meredupnya peringatan ini tergantung pada media.”

“Kok bisa?”

“Dulu ketika televisi, radio maupun koran masih diawasi ketat dan berita yang disampaikan homogen, hampir tidak terdengar adanya hari valentine. Tapi sekarang, media cetak maupun elektronik,termasuk internet bisa menyiarkan apa saja dan bis diakses siapa saja dan dimana saja, maka informasi-informasi yang dinilai tidak baik, termasuk propaganda valentine, bisa masuk.” Terang Yusri.

“Jadi, jika kita ingin menghapus hari valentine, juga harus menggunakan media pula?” Tanya Dani.

“Kurang lebih begitu. Tapi sulit, karena media merupakan bagian dari jaringan kapitalis.” Jawab Yusri.


Malam semakin larut, jarum jam hampir mendekati angka dua belas, lima menit lagi tanggal tiga belas februari berganti menjadi empat belas februari. Hari yang dikenal dengan sebutan valentine day akan diselenggarakan sebagai bentuk momentum perayaan hari kasih sayang. Banyak cara orang untuk memperingatinya, ada yang pergi berwisata dengan keluarganya, ada yang mengadakan bakti sosial, ada yang menyumbang anak yatim dan orang miskin, ada yang kerja bakti merawat pasien di panti jompo. Namun ada pula yang menghabiskan hari valentine dengan makan malam bersama pacar, nonton konser, party, bahkan tidak sedikit yang mabuk-mabukkan dan melakukan sex bebas. Apapun model peringatannya, bagaimanapun gencarnya gugatan akan hari valentine, selama masih ada kepentingan dan keuntungan, valentine akan senantiasa dirayakan.

“Saya lebih condong pada subtansi. Apapun nama wadahnya, asalkan isinya baik, maka layak untuk dilaksanakan, namun meski bagus wadahnya tapi jelek isinya, sudah selayaknya untuk dienyahkan. Meski itu valentine day, tapi diperingati dengan kegiatan positif, layak untuk dipertahankan. Tapi jika ada, misalnya acara berkedok pengajian, tapi disana isinya berisi propaganda permusuhan dan penghancuran, maka sudah sepantasnya dibasmi.” Rohim mengutarakan pendapatnya.

“Kamu kok membela hari valentine sih?”

“Iya, dari tadi kamu itu selalu mendukungnya.”

“Jangan- jangan kamu itu anggota freemason?”

“Sadar Kang... sampean telah terkooptasi ideologi yahudi.”

Mereka semua yang berada di camp memojokkan Rohim. Dengan santai,  Rohim menyeruput kopinya.

“Tidak usah berprasangka begitu. Aku sengaja mengajukan antitesis terhadap pendapat kalian agar tidak terjadi kepincangan pendapat dan mempersempit paradigma. Mengkritik itu penting dalam rangka membangun, tapi jika hanya berhenti mengkritik tidak akan pernah tercapai tujuannya. Kita hanya berkutat pada pemikiran negatif dan tak jarang diri kita terlepas dari kontrol dan melakukan apa yang menjadi kritikan kita sendiri. Yang lebih penting adalah memahami.” Tungkas Rohim sambil menaruh gelasnya.

“Jika kita bisa memahami apa yang terjadi, maka kita akan bisa melihat suatu permasalahan dari berbagai dimensi perspektif. Misalnya hari valentine, kita jangan hanya memandang dari sudut pandang moral atau agama saja, tapi kita juga harus bisa memahami dari sudut pandang pemuda yang lagi kasmaran ataupun dari perspektif pelaku bisnis. Jika kita bisa memetakan semua tujuan mereka, maka kita bisa mengambil sikap yang terbaik sesuai dengan apa yang kita dan mereka harapkan. Itu baru solusi.” Rohim memungkasinya.

Suasana hening, mereka coba menghayati perkataan Rohim. Jarum jam menunjukkan jam dua belas.
Dering handphone Dani memecah kesunyian. Diikuti handphone Kholik, Irul, Ibnu kemudian Yusri. Hanya handphone Rohim yang tak berbunyi.  Astagfirullah rupanya handphone mereka mendapat sms yang sama dari pacarnya masing-masing.

“Happy val3nt!ne d4Y cHay4ngQue.”


Tidak ada komentar: