menu

Minggu, 28 Juni 2015

PETUALANGAN KITAB TA'LIMUL MUTA'ALLIM

Kitab Ta'limul Muta'allim

Siapa yang tak mengenal dengan kitab Ta’limul Muta’alim ? Ya, hampir semua orang yang pernah berkecimpung di dunia pendidikan pesantren mengenal dengan kitab ini. Kitab yang berisi tentang tata cara dan etika menjadi seorang penuntut ilmu ini seakan menjadi kitab wajib yang harus diajarkan kepada para santri. Terutama para santri baru.

Kitab yang ditulis oleh Syekh al-Zarnuji ini ditulis sekitar abad ke-VI Hijriyah. Tak ada catatan pasti tentang kapan awal kali ditulisnya kitab tersebut. Hal ini sama misteriusnya dengan biografi penulisnya sendiri. Al-Zarnuji sendiri bukanlah nama yang spesifik mengacu terhadap satu orang. Al-Zarnuji adalah nama yang disandangkan berdasarkan daerah asal si penulis, yaitu daerah Zarnuj. Daerah ini menurut al-Quraisy dalam al-Jawahirul Mudliah diduga berada di daerah Iraq. Sedangkan menurut Yusuf al-Hamawi dalam Mu’jamul Buldan diduga berada di daerah Turkistan yang kini masuk wilayah Afganistan.

Tak ada identitas lain yang bisa dilacak dari Syekh al-Zarnuji. Hanya ada beberapa nama gurunya yang tertulis dalam kitab Ta’limul Muta’alim  tersebut yang bisa dilacak. Seperti Burhanuddin Ali bin Abu Bakar al-Marghinani (w. 593 H / 1197 M), Ruknul Islam Muhammad bin Abu Bakar yang terkenal dengan nama Imam Zadeh (w. 573 H / 1177 M), Syekh Hammad bin Ibrahim (w. 576 H / 1180 M), Syekh Fakhruddin al Kasyani (w. 587 H / 1191 M), Syekh Fakhruddin Qadli Khan al Ouzjandi (w. 592 H / 1196 M), dan Rukhuddin al Farghani (w. 594 H / 1198 M). Kesemuanya adalah ulama fiqih bermadzab Hanafiyah. Dapat diduga Syekh al-Zarnuji ini pun adalah seorang ahli fiqih dari madzab Hanafiyah pula.

Perjalanan kitab yang berjudul lengkap Ta’limul Muta’alim Thariqatut Ta’allum  tersebut pun tak ada catatan yang menjelaskan. Baru pada tahun 996 H, Syekh Ibrahim bin Ismail menuliskan syarah (penjelas) untuk kitab tersebut. Dalam syarah yang berjudul sama tersebut, Syekh Ibrahim bin Ismail menjelaskan bahwa kitab tersebut adalah kitab populer dilingkungan pendidikan kala itu. Terutama pada Kerajaan Ottoman dibawah pemerintahan Sultan Murad III (Murad Khan bin Salim Khan). Sultan Murad III sendiri memimpin pada rentang waktu 908 – 1003 H / 1574 – 1595 M.

Dalam catatan Yusuf Alyan Sarkis pada Mu`jam al-matbu`at al-`arabiyah wa-al-mu`arrabah menjelaskan perjalanan panjang kitab Ta’limul Muta’alim tersebut. Naskah kitab tersebut diketahui pertama kali dicetak di Jerman pada tahun 1709 oleh seorang orentalis bernama Ralandus. Kemudian pada tahun 1838 M dicetak ulang oleh orentalis Jerman, Kaspari di kota Liepzig, Jerman. Dalam edisi ini mendapatkan catatan tambahan oleh M. Plessner. Diketahui pula pada tahun 1265 H dicetak  di Marsadabad. Lalu, dicetak di Qazan pada tahun 1898 M dengan format 32 halaman. Lantas pada tahun 1901 M dicetak dengan masih 32 halaman namun dengan sedikit penambahan dihalaman belakang.

Kitab ini juga ditemukan dicetak di Tunisia pada tahun 1286 H dengan format 40 halaman. Lalu, di Tunisia Astana pada tahun 1292 H berubah menjadi 46 halaman dan tahun 1307 H diringkas menjadi 24 halaman saja. Sedangkan di Mesir baru diketahui dicetak pada tahun 1300 H dengan format 40 halaman, lalu pada tahun 1307 H membengkak menjadi 52 halaman dan bertahan sampai cetakan pada tahun 1311 H. Perbedaan jumlah halaman tidak dipengaruhi isi kitab yang berubah, hanya disebabkan oleh penggunaan huruf dan tata letak saja.

Haji Khalifah dalam Kasyfud Dhunun juga mencatat kitab tersebut pernah dialihbahasakan dalam beberapa bahasa. Diantaranya dalam bahasa Turki oleh Abdul Majid bin Nushuh bin Israel dengan judul Thalibin fi Ta’limil Muta’allimin.

Petualangan di Indonesia

Lantas, bagaimana naskah kitab Ta’limul Muta’alim bisa sampai ke Indonesia? Ada beberapa asumsi yang disampaikan. Pertama, diduga kitab ini masuk ke nusantara bersama dengan masuknya Islam awal yang dibawa oleh Wali Songo. Menurut Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menilai aturan tata krama dalam Ta’limul Muta’alim menyerupai aturan Guru Bakti. Yaitu sistem pendidikan yang menjadi cikal bakal pesantren.

Sedangkan ada pula yang menduga masuknya kitab tersebut bersama dengan meningkatnya intensitas pendidikan ke Timur Tengah. Yaitu berkisar pada abad ke-XVIII akhir dan ke-XIX. Adapun jika dilihat dari kemadzaban, diduga kitab ini masuk lebih akhir. Syekh az-Zarnuji  yang bermadzab hanafiyah masuk akhir-akhir ini, karena pada dasarnya Islam di Nusantara menganut madzab syafi’iyah.

Terlepas dari awal masuknya kitab tersebut ke Nusantara, namun penyebarannya begitu masif. Selain banyak dikaji di pesantren – pesantren salaf hingga saat ini, juga banyak karya yang dilahirkan oleh ulama Indonesia. Ada sebuah naskah yang dikeluarkan oleh Penebit Al Miftah, Surabaya yang berupa naskah berharakat (musyakalah). Lalu ada pula karya KH. Hammam Nasiruddin dari Grabag, Magelang yang menerbitkan naskah kitab ini dalam format bahasa Jawa dengan makna jenggot. Yaitu sistem pemaknaan yang dituliskan artinya dibawah kalimat yang diartikan dengan huruf Arab Pegon dengan model italic.

Makna Gandul: Arab Pegon yang tertulis italic ke bawah

Terjamah terbitan Menara Kudus


Adapula terjemah kitab Ta’limul Muta’allim karya Drs. Aly As’ad, MM dengan judul Terjemah Ta’limul Muta’allim Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan. Buku yang diterbitkan oleh Menara Kudus. Buku yang pertama kali dicetak pada tahun 1976 tersebut telah mengalamai cetak ulang berulang kali. Pada tahun 2007 saja telah mencapai cetak ulang ke-27.


Dan begitulah sekelumit petualangan kitab Ta’limul Muta’allim di dunia pendidikan Islam. Kitab tersebut terus bergulir menebar manfaat hingga batas yang jauh ke depan. Selama pendidikan pesantren masih eksis, maka selama itu kitab Ta’limul Muta’allim akan terus dipergunakan.

Ayung Notonegoro
Penggiat Literasi

Kamis, 25 Juni 2015

ADA EKSAK DI PESANTREN

suasana pembelajaran pesantren tempo dulu

Ketika berbicara pesantren maka yang terbayang adalah hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam saja. Mulai dari pelajaran tentang al-Qur’an, ibadah, fiqih, tasawuf, akhlaq, dan hal-hal komplementer seperti pelajaran bahasa Arab dan sejarah Nabi. Namun ternyata pesantren-pesantren dahulu ketika sebelum penjajahan Belanda tidak hanya melulu mengajarkan tentang seluk-beluk agama saja.

Pesantren kala itu, benar-benar menjadi pusat pendidikan masyarakat Nusantara. Baik dalam pendidikan agama maupun pendidikan yang bersifat duniawi. Sebut saja pelajaran-pelajaran ilmiah atau biasa dikenal dengan ilmu eksak.

Setidaknya hal ini terlihat dari buku – buku yang beredar dikalangan pesantren pada masa – masa itu. Banyak ditemukan teks – teks khas pesantren yang membahas tentang ilmu kedokteran, biologi, geografi, astronomi, bahkan tentang ilmu teknik. Selain ditulis dalam bahasa Arab, buku – buku tersebut juga banyak yang ditulis dengan huruf Arab Pegon dengan bahasa pengantar Melayu atau Jawa.

Dalam bidang kedokteran, misalnya, ada beberapa teks yang tersimpan di Perpustakaan Lieden. Teks dengan kode LOr 5684 yang berjudul Kitab al-Mawahib al-Laduniyah fil Minah al-Muhammadiyah yang ditulis oleh al-Qastallani dalam bahasa Arab yang berisi tentang perihal kedokteran. Begitu pula teks Lor 5777 ditulis dengan model tembang dalam bahasa dan tulisan Jawa yang mengupas diantaranya adalah penyakit pes.

Ada pula satu teks dengan kode Lor 5606 yang membahas tentang palmoscopy, yaitu cabang ilmu kedokteran dan fisiognomi. Dalam teks berbahasa Jawa dan menggunakan huruf pegon tersebut, palmoscopy disebut dengan ilmu ikhtilaj. Ilmu ini membahas tentang gejala suatu penyakit dan tanda-tandanya.

Di Museum Pusat (Perpustakaan Nasional Jakarta), ada juga teks dengan kode MI 832. Teks tersebut ditulis dengan bahasa Melayu aksara Arab Pegon. Judulnya adalah Kitab Tib, tebal 440 halaman dan membahas perihal manusia dan pengobatannya, jenis-jenis penyakit dan juga tentang membuat jimat.
Dina Nawangningrum, dkk dalam tulisannya di jurnal Makara; Sosial Humaniora, vol.8, no.2, Agustus 2008 dengan judul “Kajian Terhadap Naskah Kuna Nasantara Koleksi Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia: Penyakit dan Pengobatan Ramuan Tradisional” mengupas lebih banyak.  Ada delapan naskah yang diteliti yang ditulis dengan  Arab Pegon berbahasa Melayu dan berbahasa Jawa. Dari teks berbahasa Melayu diidentifikasi ada 118 penyakit, sedangkan dalam teks berbahasa Jawa ada 282 penyakit. Adapun tanaman obat yang diidentifikasi ada 500 jenis dalam bahasa Jawa dan 265 jenis tanaman obat pada teks bahasa Melayu.

naskah kuno pesantren

Tak hanya dalam bidang kedokteran, ada pula ilmu Matematika. Dalam Perpustakaan Nasional Jakarta ada teks ilmu matematika dalam bahasa Arab berjudul Mukhtashar fi Ilmi-l-Hisab dengan kode A 455a dan 455b. Ada pula teks kode A 436 dengan judul an-Nuzhah fli Ilmi-l-Hisab. Demikian pula, dalam koleksi naskah A 655 ada teks dengan judul Jadawilu Ilmi-l-Faraidh karangan Ahmad bin Muhammad bin Ali Ibnu al-Ha’im (w. 815 / 1412). Teks – teks tersebut berisi penerapan rumus – rumus aritmatika.

Sedangkan pada naskah MI 262 berbahasa Melayu dengan aksara Arab Pegon dari abad 19 koleksi Perpustakaan Nasional berisi tentang ilmu bumi (geografi). Dalam naskah yang setebal 31 halaman tersebut terdiri dari 22 pelajaran. Dalam ilmu biologi pesantren banyak belajar dari Kitab Ajaibul Makhluqat wa Gharai’bul Maujudat yang ditulis oleh Syekh Zakariya bin Muhammad al-Qazwini (w. 682 / 1283). Naskah ini berada di Perpustakaan Nasional dengan kode  A 413 berbahasa Arab yang berasal dari abad ke-19.

Naskah – naskah tersebut, meski sudah tidak dipelajari lagi di pesantren saat ini, begitu identik dengan pesantren. Pola penulisan dengan menggunakan huruf Arab Pegon diperkenalkan dan dikembangkan oleh masyarakat pesantren. Huruf Arab Pegon tersebut masih dapat dikenal di pesantren dewasa ini.

Ilmu eksak yang dikembangkan di pesantren sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Pesantren selain mengelaborasi khazanah keilmuwan asli Nusantara juga melanjutkan keilmuwan Islam di Timur Tengah. Berbicara keilmuwan Islam di Timur Tengah maka akan banyak jejak ilmuwan muslim yang menekuni  ilmu pasti disamping ilmu agama. Sebut saja Ibnu Sina atau dikenal dengan nama Avicena.

Ibnu sina yang lahir tahun 980 M semasa Dinasti Samaniyah adalah seorang ulama dan juga ilmuwan. Pada usia 10 tahun Ibnu Sina telah berhasil menghafalkan al-Qur’an. Karirnya semakin cemerlang dalam berbagai bidang, mulai filsafat, matematika, astronomi, dan kedokteran. Pada bidang terakhir itulah Ibnu Sina mencapai puncak karir akademisnya dengan masterpiece-nya berjudul al-Qonun fil Thibb. Buku tersebut menjadi salah satu buku pelajaran standar di Eropa selama enam abad setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Menurut Nancy G. Siraisi dalam Avicenna in Renaissance Italy (Princenton University Press, 2005), buku Ibnu Sina tersebut diterbitkan sampai 60 edisi dari tahun 1500 sampai 1674 M.

Pesantren dewasa ini, umumnya kurang memperhatikan terhadap keilmuwan eksak. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh penjajahan Belanda yang berlangsung ratusan tahun. Banyak aturan yang diterapkan oleh penjajah Belanda dalam rangka memangkas kehebatan pesantren. Pesantren yang dulu kala menjadi basis perlawanan terhadap penjajah Belanda mengakibatkan Belanda berupaya keras untuk mengkerdilkan pesantren. Diantara upayanya adalah merazia buku-buku yang berpotensi menggelorakan perlawanan dan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Pesantren pun diarahkan hanya berkutat pada bidang keagamaan saja. Lambat laun pun kajian pesantren dibidang eksak semakin memudar.

Daftar Pustaka:

Ahmad Baso, Pesantren Studies 2a, Jakarta: Pustaka Afid. 2013

Ehsan Masood, Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern, Jakarta:   Gramedia. 2009.

 Ayung Notonegoro
 Pegiat Literasi

Rabu, 24 Juni 2015

PETHUK, PAHLAWAN LITERASI ISLAM NUSANTARA

Santri dan tumpukkan kitab kuning produksi Pethuk
Bulan Ramadhan, bagi santri pesantren, adalah waktunya huduran. Yaitu ngaji kilatan beberapa kitab kuning. Biasanya yang populer dikaji adalah kitab pethuk-an. Yaitu kitab yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren Hidayatut Thullab yang berada di Dusun Pethuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Pesantren Hidayatut Thullab atau lebih dikenal dengan Pesantren Pethuk layak disebut dengan pahlawan literasi bagi keberlansungan Islam Nusantara. Bagaimana tidak, Pesantren Pethuk tersebut banyak memproduksi kitab kuning yang menjadi langganan pesantren – pesantren di Indonesia. Bahkan konon juga dipergunakan di luar negeri seperti Malaysia, Brunai, Singapore, sampai Mesir.

Kutib kuning produksi Pesantren Pethuk dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama kitab yang dikenal dengan sebutan kitab bima’na Pethuk. Kitab ini adalah kitab kuning pada umumnya karya ulama Timur Tengah maupun ulama asli Nusantara. Misalnya, seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali atau kitab Sirajuththalibin anggitan KH. Ihsan Jampes. Uniknya, kitab – kitab tersebut, tidak seperti umumnya kitab kuning yang tampak kosong tanpa harakat. Kitab kuning keluran Pethuk telah diberi makna gandul. Yaitu makna kitab dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab Pegon.

Kitab bima’na Pethuk ini sangat membantu para pengkaji kitab yang memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa Arab. Selain itu, kitab jenis tersebut juga sering dijadikan muqabbalah  (pembanding), bagi para pengkaji kitab kuning ketika mengkaji kitab yang sama.

Jenis kedua yang diterbitkan Pesantren Pethuk adalah kitab karya pengasuh maupun santri senior di pesantren tersebut. Yaitu kitab dengan tema – tema tertentu yang bertema ringan. Biasanya berkisar antara 60 sampai 100 lembar. Diantara judul-judul kitabnya seperti Tafsir Surat Yasin, Tafsir Muqaddimah Al-Fatihah, Tafsir Muawwidzatain, Masailus Shiyam, Mauidotun bil Hikayah, dan lain sebagainya.

Menariknya, kitab-kitab jenis kedua ini berbentuk nukilan-nukilan dari berbagai sumber kitab muktabarah. Dari puluhan kitab dikutip pada bagian-bagian yang sesuai dengan tema kitab yang dibahas. Misalnya kitab Masailus Shiyam. Kitab tersebut berisi permasalahan seputar puasa, dimana isinya berupa permasalahan yang jawabannya berupa kutipa-kutipan dari kitab-kitab fiqih yang sudah masyhur. Seperti Ianatuth Tholibin, Al-Majmu’, Fathul Wahab dan lainnya.

Karena kitab-kitab tersebut merupakan nukilan dari sekian kitab-kitab, maka istilah yang dipergunakan penulisnya bukanlah muallif  (penulis), sebagaimana kitab kuning pada umumnya. Namun menggunakan istilah jama’a (mengumpulkan). Biasanya, sebelum diterbitkan kitab-kitab tersebut di-tashhih kebenarannya oleh KH. Idris Marzuki, pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri.

Kitab Pethuk jenis kedua ini cocok untuk pemula. Santri baru yang pertama kali bersentuhan dengan kitab kuning dan memaknai dengan huruf pegon amat terbantu dengan kitab jenis ini. Selain penggunaan kosakata da susunan gramatika bahasa Arabnya yang sederhana, juga tata letak hurufnya menggunakan font yang agak besar dan spasi yang cukup luas dibanding kitab kuning umumnya. Jadi, para santri baru dapat dengan mudah memaknai gandul.

Contoh kitab kuning terbitan Pethuk
Pesantren Pethuk dengan kitab kuningnya tidak terlepas dari sosok pendiri dan pengasuhnya, KH. Ahmad Yasin Asymuni. Beliau adalah alumni Pesantren Lirboyo, Kediri. KH. Asymuni merasa prihatin dengan nasibnya ketika di pesantren. Tak banyak kitab yang berhasil dipelajarinya karena untuk menghatamkan satu kitab membutuhkan rentang waktu yang lama. Pengalaman itulah yang mendorongnya untuk memproduksi kitab – kitab yang telah diberi makna sebagaimana waktu mengaji dulu (kitab bima’na pethuk).
Keprihatinan tersebut mulai direalisasikannya ketika mulai mendirikan Pesantren Hidayatut Thullab. Pesantren tersebut didirikan sejak tahun 1993. Semenjak itu pula produksi dua jenis kitab sebagaimana diatas dimulai. Rata-rata setiap tahun ada sepuluh judul kitab yang diproduksiya. Sampai tahun 2013 kemarin Pesantren Pethuk telah menghasilkan 188 judul kitab karya sendiri.
Tata kelola penerbitan kitab diurus langsung oleh koperasi pesantren. Omzet harian rata-rata satu juta, namun ketika menjelang Ramadhan bisa mencapa tiga sampai empat juta per hari. Hal ini karena banyaknya pesantren atau majlis taklim yang menyelenggarakan pengajian kilatan dengan mengkaji kitab-kitab Pethuk ini.

Sekali lagi, Pesantren Pethuk layak dianugerahi sebagai pahlawan literasi bagi Islam Nusantara. Bagaimanapun Islam Nusantara tidak bisa terlepas dari namanya kitab kuning. Kitab kuning bagi penganut maupun penggiat Islam Nusantara adalah referensi utama. Sudah barang tentu nasib Islam Nusantara bergantung pada keberlansungan kitab kuning. Atau jika dirunut, bergantung pada penggiat kitab kuning seperti halnya Pesantren Pethuk.


Ayung Notonegoro, Penggiat Literasi

Rabu, 27 Mei 2015

Si Kutu Buku dan Sang Putri


Pernikahan: John Nash dan Alicia

Buku memang tak ubahnya dunia lain. Ketika bisa masuk dan tenggalam dalam lautan aksara, seseorang bisa saja mengabaikan dunia nyatanya. Dia akan kesulitan untuk bersosialisasi dan ujung-ujungnya akan mengantarkannya pada kejombloan akut. Memang tidak semua begitu, tapi setidaknya ini berlaku pada kisah si kutu buku, John Forbes Nash Jr.

John Nash lahir tertanggal 13 Juni 1928 di Bluefield, West Virginia Amerika Serikat. Ia lahir dari pasangan John Nash Sr, seorang electrical engineer dan Margaret Virginia Martin, seorang guru Bahasa Inggris dan Latin. Terlahir ditengah keluarga terpelajar, John Nash junior mendapatkan bimbingan yang menekankan pada ilmu pengetahuan.

Sejak kecil John Nash dijejali oleh bapaknya dengan buku-buku teknik. Dengan sendirinya pun Nash tenggelam dalam aksara dan angka. Keranjingan membaca membentuk John Nash junior menjadi pribadi yang tak pandai bersosialisasi. Tak heran jika banyak teman sejawatnya yang menganggap John Nash sebagai pribadi yang aneh dan sombong.

Cibiran dari teman-temannya tak mempengaruhi kebiasaan John Nash membaca. Berawal dari kebiasaannya membaca itulah, John Nash membentuk “masa depannya” yang terinspirasi buku Eric Temple Bell berjudul Men of Mathematic. Buku yang membahas tentang matematika ini, memberikan motivasi kepada John Nash untuk menggeluti matematika yang kelak akan mengantarkannya menjadi seorang profesor dan meraih penghargaan Nobel.

Beasiswa dari Westinghouse yang dimenangkannya mengantarkan John Nash untuk mengenyam kuliah di Institut Teknologi Carnegie. Disinilah John Nash meraih gelar sarjana dan gelar masternya pada tahun 1948. Kecerdasannya yang luar biasa terus ditempa oleh John Nash di Universitas Princeton. Di kampus ini, puncak kegemilangan pemikiran John Nash memancar.

Tatkala teman-teman sekelasnya telah menentukan judul tesisnya, John Nash masih belum menentukannya. Sungguh aneh, John Nash yang terkenal dengan begitu cerdasnya belum menemukan judul tesis yang akan diajukan untuk meraih gelar Ph.D. John Nash berhari-hari mendekam di perpustakaan, bergelut dengan buku-buku. Dia ingin menuliskan sebuah tesis yang benar-benar original. Tanpa terpengaruh oleh hasil penelitian ilmuwan matematika lainnya. Albert W. Tucker, profesor pembimbingnya bahkan sampai menyarankan untuk mencari judul yang lebih mudah dikerjakan.

Kegigihan John Nash tidak sia-sia. Setelah banyak waktu dihabiskannya menelusuri referensi dan riset, John Nash berhasil menemukan suatu pemikiran yang orisinil (Original thinking) ketika menikmati segelas teh bersama teman sekamarnya. John Nash menemukan suatu teori permainan yang dikenal dengan Equilibrium Nash. Tak begitu tebal hasil penelitiannya tersebut. Penelitian yang diberi judul Equilibrium Points in N-person Games itu mengantarkannya mendapatkan gelar Ph.D diusianya yang baru menginjak 22 tahun.
Setelah lulus, John Nash memilih untuk mengabdikan diri di kampusnya, Massachusetth Institute of Technology (MIT) Universitas Princeton. Dia menjadi staf pengajar dan melakukan beberapa penelitian yang fenomenal. Pada 1953 John Nash menulis tentang ekonometrika yang konon lebih hebat dari metafora infisible hand-nya Adam Smith.

Namun dibalik kegemilangan intelektualitas John Nash dia tak lebih hanya seorang kutu buku yang hidup dilembaran aksaranya. Kesulitannya bersosialisasi membuatnya pun sulit untuk mendapatkan seorang kekasih. Pernah pada suatu saat John Nash hanya berdansa dengan setumpuk kursi karena begitu sulitnya meraih pasangan. Perawakannya sebagai anak veteran perang dunia pertama, John Nash dianugerahi badan yang tegap dan wajah yang rupawan. Namun, ketampanan dan kecerdasannya tertutup dengan sikap dinginnya terhadap lawan jenis. John Nash pun tetap menjomblo dikarir intelektualitasnya yang gemilang.

Sang Putri

Udara Amerika sedang panas, begitu pula di Universitas Princeton. John Nash dengan setumpuk buku dan wajah yang kaku masuk ke dalam kelas. Seperti biasanya, pintu dan jendela kelas semuanya ia tutup untuk mengurangi kebisingan. Udara yang panas dan jendela yang tertutup membuat suasana kelas semakin pengap. Para mahasiswa taka da yang berani menegur, kecuali satu orang mahasiswi.

Seorang mahasiswi dengan paras ayu dan penampilan yang begitu elegan, tiba-tiba maju kedepan. Membuka jendela yang sebelumnya ditutup oleh John Nash. Tatapan wanita jelita itu lekat ke pelupuk mata sang profesor. Kejengkelan John Nash pun sirna dengan kelembutan tutur kata gadis itu. Ya, dialah Alicia, sang putri.

Alicia bernama lengkapAlicia Lopez-Harrison de Lardé. Dia adalah perempuan jelita keturunan bangsawan El Salvador. Gadis kelahiran tahun 1933 itu adalah salah satu dari 16 perempuan angkatan pertama di M.I.T tahun 1955. Mahasiswi fakultas fisika nuklir ini lah yang kelak akan menjadi sang putri bagi si kutu buku ini.
Pada suatu saat, Alicia mengumpulkan tugas tatkala John Nash sedang berada di perpustakaan. Tak hanya mengumpulkan tugas, Alicia juga mengajak makan malam John Nash. Itulah awal mula John Nash berkencan dengan seorang perempuan. John Nash dan Alicia pun merajut hubungan asmara. Dan pada tahun 1957 keduanya melansungkan pernikahan.

Pernikahan seorang profesor jenius nan tampan dengan seorang putri bangsawan jelita nan cerdas, John Nash dan Alicia menjadi pernikahan yang luar biasa. Semua orang pun akan mendambakannya. Namun ternyata tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1959 kala Alicia mengandung, John Nash dideteksi mengidap penyakit Schizophrenia. Penyakit yang menyerang kesadaran seseorang ini, mengantarkan John Nash mendekam di rumah sakit jiwa. Akhirnya, Alicia memutuskan untuk bercerai dengan John Nash pada tahun 1963.

Meski bercerai Alicia tetaplah sang putri bagi si kutu buku. Alicia terus merawat dan menemani John Nash yang hidup dalam halusinasi itu. Dengan mengorbankan tenaga, karir dan hartanya Alicia mendampingi John Nash. Keikhlasan dan ketulusan Alicia pun membuahkan hasil. Berangsur-angsur kesadaran John Nash pulih. 

Seiring sembuhnya John Nash, mereka pun kembali rujuk, tepatnya pada tahun 1990. John Nash pun kembali menemukan kejeniusannya. Kiprah intelektualnya kembali dibangun. Dan pada tahun 1994, ia bersama  Reinhard Selten dan John Harsanyi mendapatkan penghargaan Nobel dalam bidang ekonomi. Dan pada tahun 2015, John Nash bersama Louis Nirenberg meraih penghargaan Abel atas penelitiannya mengenai persamaan diferensial parsial nonlinier.

****

Si kutu buku jenius itu kembali merengkuh kebahagiaan bersama sang putrinya. Kebersamaan mereka pun abadi sepanjang masa tatkala sebuah taksi yang mengangkut keduanya terlibat kecelakaan lalu lintas di New Jersey, AS. Sabtu, 23 Mei 2015 mereka meninggalkan dunia yang menjadi saksi kebersamaan abadi itu.


Nb: Penggalan kisah hidup keduanya dibukukan dan difilmkan dengan judul yang sama, A Beatiful Mind.


Ayung Notonegoro
Penggiat Literasi

Kamis, 21 Mei 2015

Karya Tulis Ulama Nusantara



Syekh Nawawi Al-Bantani: Ulama nusantara yang sangat produktif dalam dunia penulisan.



Ulama sebagai golongan terpelajar dengan kapasitas intelektualitas yang diakui tidak terlepas dari tradisi literasi, membaca dan menulis. Tradisi membaca kitab keagamaan seperti kitab fiqih, tafsir, hadist, tasawuf maupun akhlaqdan juga kitab – kitab populer seperti tarikh, hikayat, syair, dan lain sebagainya menjadi basis legitimasi terhadap status keulamaannya.


Efek dari menguatnya tradisi membaca, tentu adalah tumbuhnya tradisi menulis. Dalam tradisi pesantren yang merupakan basis terbesar kaderisasi ulama nusantara, ada beberapa tipologi penulisan. Mulai dari berbentuk terjemah, syarah (komentar/ penjelas), hasyiyah (catatan pinggir), mukhtashor (ringkasan),dari karya tulis terdahulu dan adapula berupa karya yang orisinil. Corak tulisannya pun beragam, mulai dalam bentuk kitab serius, hikayat, syair atau nadzom, serat dan babad. Tema yang ditulis tidak hanya berkutat pada ilmu keagamaan, tapi juga merambah keberbagai bidang keilmuwan seperti astronomi, pertanian, sejarah, dan beragam cabang ilmu lainnya. Dan bahasa yang digunakannya didominasi oleh bahasa Arab, Jawa dan Melayu.


Kapasitas intelektual para ulama yang tinggi menjadikan karya – karya ulama Nusantara tidak hanya diakui didalam negeri saja tapi juga diakui oleh kalangan terpelajar Islam diberbagai negara. Karya – karya tersebut didominasi oleh tema – tema keagamaan dengan pengantar berbahasa Arab. Salah satu karya ulama Nusantara yang telah melanglang buana adalah kitab  Aqidatul Awwam karya ulama Aceh, Syekh Ahmad Marzuqi (w. sekitar tahun 1864 M). Kitab yang membahas tentang tauhid dan ditulis dalam bentuk nadzom (puisi), menurut Petrus Voorhoeve dalam bukunya Hadlist of Arabic Manuscripts in the Library of the University of Lieden and the Other Collections in the Netherland (1980), menyebutkan kitab Aqidatul Awwam tersebut telah dicetak dalam bentuk litografi dibeberapa negara seperti di Bombay (1885), Konstatinopel, Turki (1889), dan Singapura (1896).


Intensitas hubungan ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah yang semakin intensif juga berpengaruh pada perkembangan karya tulis ulama nusantara. Pada periode Abad ke-18 banyak bermunculan komunitas ulama nusantara di Mekkah yang biasa dikenal dengan komunitas Jawi atau oleh orang Arab disebut dengan ashhabul jawiyyin. Dengan adanya komunitas tersebut, produktifitas karya tulis ulama nusantara makin pesat dan diakui dunia. Pada masa itu, muncul nama – nama ulama dengan karya – karyanya. Diantaranya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710 – 1812 M) yang menghasilkan Sabilal Muhtadin lit Tafaquh fi Amriddin yang mengkaji tentang ilmu fiqih dan menjadi rujukan umat Islam di Asia Tenggara (Mahsun Fuad:2005).


Adapula Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi (1860 – 1916) yang menghasilkan 49 karya tulis dengan publikasi tersebar di Syiria, Turki dan Mesir. Salah satu karyanya adalah  Hasyiyatun Nafahat ala Syarh al-Waraqat yang diselesaikan pada tahun 1306 H yang merupakan syarah (komentar) dari kitab al-Waraqat fil Ushulil Fiq karya ulama Mekkah, Imam Juwaini (419 – 478 H). selain itu, ada beberapa karya Syekh Khatib dalam bidang umum seperti  Raudhatul Hussab fi A'mali Ilmil Hisab (selesai ditulis 1307 H) yang membahas tentang ilmu matematika dan al-jabar.


Komunitas Jawi  di Mekkah semakin menancapkan reputasinya sebagai ulama dengan produksi karya tulis kaliber dunia. Ulama nusantara yang produktif menulis dan karya – karyanya bestseller serta masih dicetak di luar negeri maupun di Indonesia dan senantiasa dikaji sampai saat ini adalah kitab – kitab karya Syekh Nawawi al-Bantani (1813 – 1897 M). Karya – karyanya mencapai ratusan dalam beragam tema. Hal ini setidaknya berdasarkan kajian yang dilakukan oleh ulama Mesir, Syaikh 'Umar 'Abdul Jabbâr dalam kitabnya al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Harâm. Karya – karyanya yang ternama dan masih menjadi rujukan utama di dunia pesantren adalah al-Tausyîh / Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb, Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn, Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ dalam bidang fiqih. Karya – karyanya dalam bidang tauhid dan tasawuf meliputi Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah, Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd, Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm. Sedangkan dalam bidang tafsir dan hadist karya fenomenalnya adalah al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd dan Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts. Selain itu juga terdapat puluhan kitab lainnya dalam beragam tema.


Pada perkembangan selanjutnya juga banyak karya tulis ulama Nusantara yang mendunia selain dari komunitas Jawi  diatas. Salah satunya adalah KH. Ihsan Jampes (1901 – 1952 M), yang menulis kitab Sirajuth Tholibin yang merupakan syarah dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali. Kitab ini pertama kali diterbitkan oleh penerbit Musthafa al-Babul Halab Mesir pada tahun 1936. Kemudian kitab ini menyebar ke penjuru dunia dan tetap menjadi bahan kajian dalam bidang tasawuf dibeberapa perguruan tinggi Islam di Afrika dan Amerika.


Adapula KH Maksum bin Ali (w. 1933 M) yang mengarang kitab Amtsilatut Tasrifiyah, sebuah kitab yang berisi sistematika perubahan kata dalam bahasa Arab (ilmu shorof) dalam bentuk tabel. Karena begitu praktisnya, kitab ini tetap menjadi rujukan awal untuk pemula yang belajar bahasa Arab, baik di Indonesia maupun para pelajar di luar negeri.


Yang terbaru adalah karya almarhum KH. Sahal Mahfud (1937 – 2014). Ulama yang berasal dari Kajen Pati ini menelurkan beberapa karya. Salah satu karya fenomenalnya yang diakui dunia adalah Thariqat al-Hushul ila Ghayat al-Ushul yang merupakan syarah  dari kitab Ghayatul Wushul karya Syekh Zakariya al-Anshori pada abad ke-9. Kitab ini ditulis pada tahun 1960-an ketika beliau masih berusia duapuluh tahunan.


Masih banyak lagi karya – karya ulama nusantara yang berkwalitas dunia. Hal ini menggambarkan betapa hebatnya kapasitas intelektual ulama nusantara. Meskipun nusantara bukan termasuk pengguna bahasa Arab dalam percakapan sehari – hari, namun banyak ilmuwannya yang menelurkan karya.

Lantas, bagaimana dengan kita?



Ayung Notonegoro
Pegiat Rumah Baca Mawar