Demokrasi la Royba Fih
Sinar mentari
menyapu kegelapan subuh, menerobos pintu, menghangatkan tubuh para
santri yang duduk bersilah di mushollah. "Pemimpin itu laksana tiang
rumah. Jika tiang itu rapuh, maka rumah itu pun rapuh. Namun jika tiang
itu kuat, maka rumah akan kokoh." Nasihat Pak Kyai yang duduk menghadap
ke timur, menghadap ke para santri.
Lima belas menit berlalu, para santri berhamburan keluar seiring
keluarnya Pak Kyai yang diiringi para ustadz dan pengurus pondok.
Hari itu, akan diadakan "pesta demokrasi" untuk pertama kalinya di
pondok pesantren An-Nur. Pesta demokrasi itu berupa pemilihan ketua
asrama Al-Ghazali. jangan membayangkan kalau pemilihan ketua asrama sama
dengan pemilihan umum pada umumnya yang memajang poster dimana-dimana,
melakukan kampanye, melobi sana-sini, sampai-sampai
money politic dan berbagai cara curang lainnya.Beda sekali.
Demokrasi di pondok merupakan sebuah bentuk demokrasi yang telah
dimodifikasi. "Pemilihan secara lansung itu bukan cara yang tepat, tapi
hanya akal-akalan Yahudi. Itu merupakan konspirasi yang hanya ingin
mengerdilkan umat islam.
Masak suara Kyai sama dengan suara
pelacur? padahal kan tidak sama kwalitas pendapat keduanya! apalagi
dalam urusan mencari pemimpin, bisa celaka!" Ustad Thoriq memaparkan
pendapatnya dalam rapat pengurus pondok pesantren dalam rangka
menentukan ketua asrama Al-Ghazali.
"
Ngapunten Ustad" Ustad Ibrahim menimpali "Tapi dengan
perkembangan zaman seperti sekarang, dimana keterbukaan dan kebebasan
berpendapat terjadi dimana-mana, termasuk di pesantren, maka kita juga
harus mempertimbangkan hal itu." lanjut Ustad Ibrahim.
"Justru kebebasan itu harus ditekan di pondok ini Ustad. Bisa
berbahaya jika mereka dibiarkan saja." Ustad Thoriq mempertahankan
pendapatnya.
"Begini Ustad, jika kebebasan berpendapat itu tidak diapresiasi maka
anak-anak akan melakukan hal-hal yang tidak terkontrol sebagai bentuk
penyaluran gagasannya. Apalagi melihat kondisi pondok ini yang terbuka."
Ustad Ibrahim berargumen.
"Semuanya benar.Memang sistem demokrasi yang ada saat ini ada nilai
negatif dan nilai positifnya." Ustad Romli berdiplomasi. "Oleh karena
itu, perlu adanya modifikasi pada sistem demokrasi jika ingin diterapkan
disini.
Khud maa shofa wa da' maa kadaro." Lanjutnya.
"Lalu bagaimana bentuk modifikasi itu Ustad?" Tanya Ustad Ibrahim.
"Pertama kita seleksi terlebih dahulu para kandidat yang terbaik.
Dari hasil seleksi tersebut kemudian kita serahkan kepada para santri
untuk memilih." Jawab Ustad Romli.
Akhirnya rapat pengurus menyepakati usulan Ustad Romli untuk
memodifikasi sistem demokrasi bagi pemilihan ketua asrama Al-Ghazali.
Seminggu setelah rapat pengurus terpilihlah tiga kandidat ketua
asrama Al-Ghazali berdasarkan seleksi tim formatur yang terdiri dari
lima orang ustad dan pengurus pondok.
kandidat pertama bernama Ahmad Mustofa, santri senior yang sudah enam tahun
nyantri. Namun karena perangainya yang agak
slengean, perkembangan intelektualnya tertinggal dari pada rekan-rekan santri lainnya yang
sepantaran
dengan dia. Namun, karena faktor senioritas dia disegani oleh para
juniornya. Atas pertimbangan inilah, dia terpilih oleh tim formatur
dengan harapan bisa menjadi pengatur para juniornya.
Kandidat kedua namanya Badrun Munif. Dia tergolong santri baru, baru
tiga tahun lebih dia mondok. Namun karena kecerdasannya dan kemampuannya
mengorganisir teman-temannya, dia dinilai layak oleh tim formatur untuk
menjadi kandidat ketua asrama. Namun, dari sisi akhlaq dia dinilai
kurang terlalu bagus. Agak urakan.
Kandidat ketiga bernama Mohammad Muhlisin. Dia adalah tipe santri yang
tawadhu', sangat menjunjung
akhlaqul karimah.
Dia juga termasuk santri senior, karena usianya yang tua tapi masih
baru di pondok. Karena itulah dia terpilih menjadi kandidat ketua
asrama. Namun, kecakapannya dalam memimpim masih dipertanyakan.
Paska
launching kandidat ketua asrama oleh tim formatur, para santri asrama Al-Ghazali terpolarisasi menjadi tiga kelompok pendukung.
"
Pokoe Kang Tofa
gudhu dadi ketua asrama." Kata Randi, salah satu santri asrama Al-Ghazali pada teman-teman kamarnya.
"Lek Kang Tofa
kang dadhi ketua asrama,
pokoe Al-Ghazali pasti
tentrem.
Karena seorang pemimpin itu harus dipimpin oleh santri senior. Jika
yang memimpin lebih muda, maka akan terjadi kesenjangan." Randi
berkampanye."Coba kita perhatikan, ketua pondok juga dipilih berdasarkan
senioritas. iya
gak?" Randi berargumen.
Beda kamar, beda pula pilihannya.Di sebelah kamar Randi adalah kamar
Selamet. "Sudah saatnya, pemilihan ketua asrama harus dipilih
berdasarkan kemampuannya dalam memimpin. Tidak hanya dipandang dari segi
senioritas." Ungkap Selamet ke teman-teman kamarnya. "Bukankah Nabi
pernah bersabda, jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya,
maka tunggulah kehancurannya?" Lanjutnya.
"Lalu siapa
Kang yang mampu menjadi ketua asrama?" tanya salah seorang santri.
"Jika menurut pengamatan saya, berdasarkan
track record ketiga kandidat,
Kang Badrun yang lebih mampu memimpin. Tentunya terlepas dari faktor kekurangan pada sisi lain." Jawab Selamat mantap.
Begitu pula dengan pendukung Muhlisin tak kalah vokalnya.
"Kita
ga' butuh pemimpin yang cerdas. Apalagi pemimpin yang
menganggap dirinya senior. Tapi kita butuh pemimpin yang berakhlaq
mulia. Bukankah negara kita hancur karena para pemimpinnya tidak
berakhlaq?" Sulaiman berpidato di depan teman-teman kamarnya.
"Kang Muhlis adalah orang yang tepat untuk kita jadikan ketua asrama, bukan yang lain." Putus Sulaiman.
Perbincangan mengenai calon ketua asrama menjadi topik hangat tidak
hanya di asrama al-ghazali, tapi sudah menjalar ke asrama lainnya,
bahkan menyebrang sampai ke pondok putri. Singkat kata, pemilihan ketua
asrama al-ghazali telah menjadi buah bibir seluruh pondok pesantren
An-Nur.
Pagi itu, pagi yang telah ditunggu oleh para santri asrama Al-Ghazali
karena pada hari itu akan diadakan pemilihan lansung ketua asrama.
Sebelum pemilihan dilansungkan, para kandidat terlebih dahulu dijejer di
depan para santri untuk memaparkan visi misi kepemimpinannya nanti.
"Rekan-rekanku sekalian.Mungkin selama ini saya bukanlah santri yang
bisa menjadi teladan bagi kalian semua. Tapi perlu diingat, akan menjadi
cambuk yang sangat keras bagi saya, selaku santri senior, jika tidak
mampu membawa asrama Al-Ghazali menjadi lebih baik." Cetus Mustofa
menyampaikan pandangannya kelak saat menjadi ketua asrama.
Sontak saja, pidato Mustofa disambut tepuk tangan para pendukungnya.
Tentunya juga diiringi teriakan "huuuu..." dari lawan-lawan
"politiknya."
Giliran kedua adalah Badrun Munif untuk menyampaikan visi misinya.
"Mengutip pesan Pak Kyai tadi pagi, bahwa pemimpin itu ibarat tiang
rumah. Oleh karena itu rekan-rekan santri semua, seasrama sepondok. Agar
rumah kokoh, kita harus memilih tiang yang kuat. Maka saya berharap
kepada teman-teman semua untuk memilih tiang yang kuat, meski masih
muda. Jangan hanya memilih tiang yang tua, tapi keropos." Pidato Badrun
membikin suasana bergemuruh.
"Sudah saatnya yang kreatif, yang muda, yang memimpin." Badrun memungkasi pidatonya.
Tepuk tangan dan gemuruh huuuu....berebut tempat di aula tempat
pemilihan tersebut. Sampai-sampai keamanan pondok turun tangan untuk
menenangkan masa.
Terakhir, giliran Muhlisin menyampaikan pidatonya.
"Rencang-Rencang, asline kulo mboten siap dadhos ketua asrama.
tapi lek rencang-rencang sedanten meleh kulo dados ketua asrama, kulo
mboten ate nyia-nyiaken kepercayaane jenengan sedanten." singkat, jelas, tenang, dan mantap pidato Muhlisin.
Selang beberapa menit setelah pemaparan visi misi pemilihan ketua
asrama secara lansung dimulai untuk pertama kalinya di Pondok pesantren
An-Nur.
Animo para santri begitu besar untuk mengikuti pemilihan lansung
tersebut. Tak lebih dari dua jam, seratus santri asramaAl-Ghazali telah
selesai menetukan pilihannya. Tanpa seorang santri pun yang golput.
Tibalah waktunya perhitungan suara.
Ustad Romli yang bertugas untuk menghitung surat suara para pemilih yang telah dimasukkan ke dalam kotak.
"Saya akan menyebut satu untuk kandidat Mustofa, dua untuk kandidat
Badrun, dan tiga untuk kandidat Muhlisin" Ustad Romli memaparkan.
kemudian Ustad Romli menuang seluruh surat suara dari kotak ke dalam wadah terbuka dan menunjukkan kotak suara telah kosong.
Kemudian surat suara pertama dibuka. Dengan hati-hati Ustad Romli
meneliti surat suara dengan ditunjukkan kepada semua hadirin. "Sah
satu.." Teriak Ustad Thoriq. Yang kemudian diikuti oleh Ustad Ibrahim
yang menuliskan garis di papan skor.
Tepuk tangan bergemuruh. Namun segera diredam oleh keamanan.
"Mohon diam dulu. biar semua berjalan dengan tenang. Kita perhatikan
dengan seksama proses perhitungan ini dengan khidmat agar tidak
mengganggu petugas." Bentak Kepala Keamanan pondok.
Acara perhitungan terus berlanjut.
"Sah satu"
"Sah satu"
"Sah dua"
"Sah tiga"
"Sah tiga"
"Sah dua"
"Sah tiga"
"Sah dua"
Surat suara semakin menipis, ketiga kandidat terus berkejaran sama kuat.
Keajaiban terjadi. Ketiga kandidat memperoleh suara sama, tigapuluh tiga.
"Perolehan suara sama dan surat suara tinggal satu. Mari kita
saksikan bersama, siapakah yang akan menjadi ketua asramaAl-Ghazali"
Ustad Romli
Suasana hening. Dada berdebar.
Pelan-palan lipatan surat suara dibuka. Dipampang kearah depan.
"Tidak sah..." Teriak Ustad Romli.
Seakan mendengar suara halilintar. Semua terhenyak.
Terus siapa yang menjadi ketua asrama Al-Ghazali????? Pertanyaan
tersebut menggaung di seluruh aula. Laksana jutaan lebah yang terbang
mengitari aula.Tiba-tiba, ditengah kekacauan dan hiruk pikuk terdengar
bisikan yang lirih tapi semua orang di aula mendengar.Tidak tahu siapa
yang berkata. Semacam bisikan gaib. Suasana seketika hening."Istihoroh
ae"
"Istihoroh
ae""Istihoroh
ae"
Suara itu menjadi gaduh. Mungkinkah itu ilham dari malaikat yang
diberikan kepada para santri untuk memilih ketua asrama dengan metode
istihoroh, bukan demokrasi?
Banyuwangi, 4 Desember 2012