menu

Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2015

AKU RINDU KESAKTIANMU




48 tahun silam
begitu dramatis dirimu menepis peluru-peluru komunis
tameng dadamu tak bergeming
meski darah membasahi negeri
Bintang tetap berpijar
menghempaskan atheisme

inilah kesaktianmu
menjunjung tinggi bintang
mengesakan Tuhan

kini...
Pijarmu meredup tertutup tafsir eksklusif
menghancurkan liyan
berdalih membasmi kemungkaran
menegakkan kemakrufan

aku rindu kesaktianmu memendarkan
cahaya bintang yang menyinari
cahaya bintang yang menghangatkan
dalam keesaan Tuhan

karat ketamakan menistakan persamaan
karat nafsu pribadi melecehkan kebersamaan
Karat keserakahan menghancurkan kemanusian
Rantaimu hampir putus
manusia sudah tak peduli keadilan
semua serba memikirkan dirinya sendiri
manusia sudah tak beradab
semua yang penting didapat

aku rindu kesaktianmu menghapus
karat yang merapuhkan manusia
menjadi tak adil dan beradab

begitu pula kegersangan
mengancam kerindangan beringinmu
perkara kecil memicu tercerabutnya akar persatuan
tidak makan akar dicabut
tidak sefaham akar dicabut
tidak searah akar dicabut
semua tercerabut, beringin pun goyah
Persatuan akan punah

aku rindu kesaktianmu menyemai
memupuk akar mengokohkan beringin
menghijaukan persatuan

keliaran juga merasuk di banteng-bantengmu
banteng lupa sebagai banteng
bertugas menjadi wakil rakyat
menyampaikan hikmah dan kebijaksanaan
banteng sibuk menyeruduk yang berbeda
tak peduli itu rakyat atau apa
yang penting ia terus mengunyah
persetan dengan rakyat
banteng mewakili untuk berkuasa
bukan untuk memimpin

aku rindu kesaktianmu menjinakkan
banteng liar menjadi penurut
mengemban amanah menghikmahkan kebijaksanaan

ketandusan bagi padi dan kapasmu
juga menjalar seram
orang kaya saja yang menikmati padi
orang berpangkat saja yang menyandang kapas
Rakyat kecil dihempaskan
tak peduli benar salah
orang besar dijunjung
tak peduli pangeran atau bajingan
tak ada namanya keadilan sosial
yang ada hanya untuk segelintir orang

aku rindu kesaktianmu menyuburkan
menumbuhkan padi dan kapas
membagi dengan adil

aku rindu kesaktianmu Pancasila


Bunder, 01 Oktober 2013
AYUNG NOTONEGORO


Sabtu, 26 September 2015

SURAT DI PENGHUJUNG FAJAR


 
“Ping!”

Ponsel lelaki berjanggut tipis itu berdenting. Membangunkan dari tidurnya. Ia terperanjat dan segera bergegas. ia membasuh muka dan berwudlu. 

Kemudian, ia beranjak menelusuri tangga. Anak tangganya tak sepenuhnya terlihat. Keburaman fajar – fajar yang menuju penghujung – menutupinya. Cahaya biru, tak seberapa lama, berpendar lembut. Disusul kemudian pendar cahaya yang lebih terang dari layar benda berwarna hitam itu.

Sebuah laptop menyala. Sinarnya menerangi ruang dan sepotong wajah lelaki berjanggut tipis itu. Sisa ruang dan bagian belakang tubuh lelaki berjanggut tipis itu masih dibalut oleh keburaman cahaya fajar – fajar yang menuju penghujung.

Tampaknya pesan di ponsel lelaki berjanggut tipis itu menyerunya untuk segera membuka laptop. Jari-jarinya terlihat lincah melompat-lompat di atas keyboard laptop itu. Beberapa saat kemudian tampak deretan kata dari layar yang terang itu. Sebuah surat.

Memang, saat ini, surat tak hanya berupa kertas berperangko pada sampulnya. Surat elektonik begitu orang menyebutnya. Cukup dengan akses internet, surat menyurat dapat berlangsung dalam hitungan detik. Tak peduli jarak sejauh apapun membentang.

Sorot mata lelaki berjanggut tipis itu pun lansung dihujamkan ke surat itu. Sekejap saja keheningan dan kekhusuan menenggelamkannya. Andai ada microskop canggih yang mampu memindah kerja otak, mungkin akan terlihat pijar-pijar saraf di otak lelaki berjanggut tipis itu. Memercikkan kenangan dan letupan refleksi. 

***
Buku bersampul hijau bergambar sebuah daun berwarna coklat memercik terlebih dahulu dari pijar kenangan lelaki itu. Sebuah novel yang entah siapa nama asli penulisnya itu. Mengisahkan cinta gadis ingusan hingga beranjak dewasa. Lengkap dengan derita hidup dan kehampaan tanpa seorang ayah. Dibumbui dengan kedatangan seorang lelaki bak malaikat yang menjadi penolong. Lelaki yang seolah berperan sebagai ayah sekaligus kakak laki-laki dan seiring waktu menjelma menjadi orang terkasih.

“Aku tak berusaha membandingkan diriku dengan lelaki dalam novel itu.” Desis lelaki yang berjanggut tipis itu dalam kesunyian fajar, fajar yang menuju penghujung.

Selalu ada sebuah pesan yang tak tertulis diantara rimbun kata yang tertulis. Bahkan dalam rentetan kata yang membuku. Setebal apapun buku itu. Mendialogkan kata dengan aliran darah, kemudian membincangkannya dengan kesahduan jiwa adalah bagian dari upaya-upaya mengais pesan yang tak sempat terketik itu.

“Aku menangkap satu pesan dalam novel itu. Sebuah pesan bahwa apapun dalam hidup ini bisa terjadi. Terkadang pahit, sangat pahit atau bisa pula sebaliknya. Manis dan sangat manis. Dan fitrah kita dalam hidup hanyalah menerima serta berusaha untuk bisa menikmatinya.”

“Bukankah hidup itu soal keberanian menghadapi yang tanda tanya?” Lelaki itu menggumamkan penggalan puisi Soe Hok Gie yang masyhur itu, “Tanpa pernah kita mengerti, tanpa pernah memahami. Terimalah dan hadapilah.” Pungkasnya.

Sorot mata lelaki berjanggut tipis itu kembali menghujam ke surat itu.

Bibirnya yang tak bergetar itu tampak mengeluarkan sesuatu. Mungkin desahan. Bisa pula rintihan.
Tidak. Lelaki berjanggut tipis itu menggumam lirih. Kesunyian fajar – fajar yang menuju penghujung – sekalipun, tak akan bisa mendengarnya. Begitu lirih.

“Kisah itu seperti musik klasik. Menyenandungkan kegetiran di satu waktu. Kadangkala kebahagiaan di waktu yang lain.”

“Tak peduli engkau menuturkannya dengan riuh, seriuh kicau burung di pagi hari. Aku tak pernah bosan mendengarnya. Dengan termangu aku menyimaknya.”

Sorot mata lelaki berjanggut tipis itu kembali menghujam ke surat itu.

Pelupuk mata lelaki itu seolah berbicara. Ingin menyampaikan satu potong kenangan yang tersirat dari penggal paragraf surat di waktu fajar – fajar yang menuju penghujung – itu.

“Puncak itu menjadi mercusuar penuntun diriku menuju pulau jiwamu.”

“sengalan-sengalan nafasmu yang mengais oksigen kala menuju puncak itu tak ubahnya pesan-pesan pendekku selama beberapa bulan ini. Sebuah pesan – yang tak salah kuingat – awal kali padamu adalah ungkapan terima kasihku atas kehadiranmu di acara itu. Acara yang pertama kali aku mengenalmu. Entah bagaimana ceritanya, acara itu pun dihelat di lereng puncak gunung yang menjadi mercusuar penuntunku melabuhi pulau jiwamu.” Buliran mata di mata lelaki berjanggut tipis itu melontarkan cerita.

“Seandainya di lereng itu, engkau tak bersikap acuh.” Mata itu terpejam. Buliran itu mengalir. Membasahi pipi.

Selang beberapa detak jarum merah di jam dinding, mata lelaki berjanggut tipis itu kembali terbuka.
Sorot mata lelaki berjanggut tipis itu kembali menghujam ke surat itu.

“Benar kiranya, jarak terjauh adalah lupa. Hanya dengan itu, jangankan hanya sekedar masalah letak, masalah waktu pun bisa terlipat. Membincang kenangan adalah membincang jarak dan waktu. Hanya lupa yang bisa menyingkirkannya.” Kerut-kerut dahi lelaki berjanggut tipis itu seolah berteori.

“Aku pun serupa. Jemari tanganmu yang lentik, pundakmu yang tak begitu kukuh, lingkar tubuhmu yang sepegelangan tanganku, dan juga ranum merah jambu bibirmu telah menjadi fosil dalam benakku. Kenangan yang menjadi prasasti. Yang membuncahkan kegundahan tiap kali mengingatnya.”

Kembali jatuh sepotong, semacam embun, terjatuh dari kelopak mata lelaki berjanggut tipis itu.

“Teringat memang berbeda dengan sengaja mengingat. Tapi bagiku itu sama. Ingatan yang datang silih berganti dalam sadar dan tak sadarku.”

 Sorot mata lelaki berjanggut tipis itu kembali menghujam ke surat itu.

Lekat-lekat ia menyusuri paragraf demi paragraf. Giginya terdengar gemeretak. Mengeratkan suatu penyesalan akan satu keteledoran. Satu kesalahan yang berujung fatal.

“Aku kadang berfikir, mungkin ini cara Tuhan untuk menuntunku pada satu kepastian. Kepastian yang telah aku tetapkan sejak aku belum mengenalmu.” Bibir bergetar itu menggumam sahdu.

“Kepastian itu tak ubahnya sembilu di mata jelitamu. Menghujam jiwa dengan serentetan caci maki yang seharusnya itu terhujam didahiku. Letupan-letupan sumpah serapah yang seharusnya memborbardirku. Bukan kamu.”

Gigi lelaki itu gemeretak. Mengernyitkan suara yang pilu.

“Adakah sesuatu yang lebih hebat dari sepotong kata maaf?” Buliran itu kembali mengalir di ceruk hidung dan pipinya.

Sorot mata lelaki berjanggut tipis itu kembali menghujam ke surat itu.

Dalam sergapan hawa dingin di waktu fajar – fajar yang menuju penghujung – lelaki itu terus menyelami suratnya. Surat yang mengaduk samudera jiwa. Menggelorakan gelombang tinggi di pulau hatinya. Meluapkan suatu kisah yang berujung nestapa. Tidak. Kisah itu masih belum berujung, meski telah menukik curam.

“Tahukah engkau dimana letak diri ini?”

“Ya, direlung hati. Disana ada satu tempat yang absurd. Tak seorang pun mampu mengunjunginya. Bahkan diri sendiri pun tak kuasa memasukinya walau sekedar untuk menata atau merapikan tempat itu. Ia hanya bisa dimasuki oleh sublimasi kenangan yang telah terekstrak oleh jiwa. Disanalah hembusan sesuatu yang lebih lembut dari angin ditiupkan. Menebarkan aroma senyum atau derai air mata. Ditempat itu, aku meletakkanmu.”

“Mungkin ditempat seperti itu pula engkau meletakkanku. Tanpa pernah bisa engkau mengubahnya. Bahkan dalam mimpi pun engkau tak kuasa menyentuh tempat itu.” 

Buliran serupa embun itu kembali terurai.

Sorot mata lelaki berjanggut tipis itu kembali menghujam ke surat itu.

Tak lama kemudian, tubuh lelaki berjanggut tipis itu tertunduk. Menghela nafas panjang dan merebahkan dirinya. Matanya yang terus berlinang itu, menatap langit-langit atap. Keburaman fajar – fajar yang menuju penghujung – menyelimutinya.

“Jemari tanganmu tak sehangat biasanya malam itu. Sorot mata yang engkau alihkan lebih tajam menancap di ceruk sukmaku. Sepanjang waktu aku menahan getaran jiwa. Rasa yang begitu nyilu. Tak terperikan.”

“Mungkin nyilu ini tak sebanding dengan perih yang engkau rasakan. Aku terima. Bahkan jika ada siksa yang lebih perih dari itu, aku rela menerimanya.”

“Terang bulan itu, terasa gerhana.”

Lelaki berjanggut tipis itu mengeluhkan nafas panjang. Menyaingi nafas muadzin subuh yang lamat-lamat berkumandang. Menandakan fajar telah mencapai penghujung.

***
Tak begitu lama lelaki berjanggut tipis itu beranjak. Air bekas wudlu bercampur air mata itu masih membasahi janggutnya. Ia tunaikan panggilan Sang Kuasa di pangkal hari itu. Kemudian ia bersimpuh. Matanya terpejam. Kedua telapak tangannya mengatup di depan wajahnya. Selayaknya orang berdoa. 

Tak ada yang tahu apa yang dirapal lelaki berjanggut tipis itu. Mungkin, malaikat pencatat doa pun tak mendengarnya. Atau jangan-jangan ia hanya terdiam. Membisikkan doa pada Tuhan tanpa kata. Tanpa getar hati. Hanya kepasrahan kemana Tuhan menghembuskan penghujung kisahnya di penghujung fajar itu.

“Bukankah kepasrahan adalah bentuk dari doa pula?” (*)


Banyuwangi, 27 September 2015
Pemilik Ruang Absurd

Selasa, 20 Januari 2015

Kemarin

Rasanya baru kemarin nenek itu duduk dengan suaminya tercinta
Rasanya baru kemarin nenek itu melayani suaminya yang sedang sakit
Rasanya baru kemarin nenek itu menceritakan kepergian suaminya yang telah tiada
Rasanya baru kemarin nenek itu mengeluh dengan sakit yang di deritanya
nenek yang selalu menyayangi anak dan cucunya
nenek yang selalu menutupi kesedihan nya di depan anak dan cucunya
nenek yang selalu bertekad menjadikan anak cucunya menjadi orang-orang baik
kini
hari ini
nenek itu telah pergi untuk selamanya...
bertemu dengan suami tercinta semasa hidupnya
aku panggil beliau nyai...
Nyai Mutiah...



Surabaya 12/1/2015

Rabu, 27 Februari 2013

Bhotho Lurah


Desa Pelaosan begitu meriah. Gambar-gambar bertebaran di setiap sudut desa. Mulai dari yang ukuran polio sampai ukuran baliho. Ada yang bergambar orang memakai dasi yang dipadu dengan jas sebagai bukti keprofisionalan dan keintelektualannya. Ada juga yang berkopiah dan baju koko putih seolah-olah menampakkan keberagamaannya. Dan adapula yang bersafari sambil mengacungkan genggaman tangannya untuk menggambarkan semangatya.

Pilihan kepala desa kali ini berbeda dengan pemilihan kepala desa – kepala desa sebelumnya, dimana hanya memasang gambar hasil kebun, seperti jagung, kelapa, pisang, singkong, dan lainnya sebagai lambang setiap kandidat. 


Tak hanya sebatas gambar wajah, tapi juga sudah memakai berbagai slogan yang saling bersaing mutu untuk merebut simpati rakyat.

“Lanjutkan kepemimpinan cerdas dan bersih”. Begitu bunyi slogan dari Drs. Soeharto yang menjadi calon incumbent.

Beda latar belakang kandidat beda slogan pula. Haji Abdullah atau akrab dipanggil Haji Dullah, salah seorang tokoh masyarakat yang memimpin salah satu ormas keagamaan, memakai jargon, “Wujudkan desa agamis yang sejahtera”.

Begitu pula calon ketiga yang menjadi representasi para pemuda, Mulyono atau familiar disebut Cak Mul, mungusung jargon, “Dengan semangat muda, mengubah desa menjadi kota”.

Demam pemilihan kepala desa menjalar ke berbagai penjuru, tidak hanya dalam desa bahkan sampai pula ke luar desa. Pemilihan kepala desa selalu menjadi topik utama.

“Kaya’e Pak Lurah bakal kepilih lagi.” Ujar Sarmin di pos ronda.

“Iya.. Keputusannya membuat lapangan bola baru akan mampu merebut simpati para pemuda untuk memilihnya.” Timpal Kardi menganalisis kebijakan Pak Lurah dengan gaya bak pengamatan politik yang sering muncul di televisi.

“Kalau saya menjagokan Haji Dullah.” Rahmat menanggapi.

“Dia sosok yang baik dan agamis, gak neko-neko hidupnya. Pasti banyak yang simpatik kepada beliau.” Lanjutnya.

“Benar Haji Dullah berpeluang menempel ketat Pak Lurah. Setelah saya melakukan survey kecil-kecilan dibeberapa kantong suaranya Pak Lurah banyak yang mendukung Haji Dullah.” Ujar sang pengamat politik kampung, Kardi.

“Kalau menurutmu peluangnya Mulyono bagaimana?” Tanya Sarmin ke Kardi.

“Dia tak ubahnya pion yang hanya dijadikan tumbal dalam setiap pertarungan. Tumbang dia.” Jawab Kardi.
“Alah sok tahu kamu Kar.” Bentak Karmin yang merupakan saudara jauhnya Mulyono.

“Kamu saja Min yang kurang pergaulan.” Kardi tersulut emosinya.

“Wes..wes…” Sarmin melerainya.

Semakin dekat waktu pemilihan semakin panas dan sensitif perbincangan tentang pilkades, pemilihan kepala desa. Apalagi dibumbui gerak para petaruh yang memanaskan situasi. Namun perbincangan calon kepala desa mengerucut kepada dua kandidat, Lurah lama dan Haji Dullah. Pada bursa taruhan para Bhotho Lurah, menempatkan keduanya sebagai calon kuat. Sedangakan Cak Mul dianggap sebagai bawang alias pelengkap.

“Kamu cari sebanyak mungkin bhotho-bhotho cilik dari dalam desa yang pegang Mulyono. Kamu kasih penawaran yang menguntungkan mereka agar mereka mau memilih Mulyono. Gunakan uang ini untuk notoi Pak Lurah dan Haji Dullah.” Tarmin, si Bhotho besar, menginstruksikan kepada kedua anak buahnya, Udin dan Tarjo.

Meluncurlah dua bhotho suruhan Tarmin untuk melakukan transaksi perjudian. Ada yang model ashor setengah yaitu dua suara Pak Lurah atau Haji Dullah sama denga satu suara Cal Mul. Ada juga yang model ngepoor yaitu perhitungan suara Pak Lurah atau Haji Dullah dimulai dari min, mulai min seratus, min seratus limapuluh, bahkan sampai min duaratus suara.

Taruhannya beragam. Mulai dari uang limaratus ribu, satu juta, bahkan sampai mendekati sepuluh juta. Ada pula yang mempertaruhkan kambing, sapi, sepeda motor atau bahkan menggadaikan sertifikat rumah atau kebun dan sawahnya. Perjudian yang tak hanya bemotif uang tapi juga gengsi dan tradisi.

Udin dan Tarjo sukses menjalankan perintah sang bos. Semua petaruh-petaruh kelas rencek menjagokan Cak Mul. Sedangkan Pak Lurah dan Haji Dullah dimonopoli oleh Udin dan Tarjo saja. Jika ada yang menjagokan Pak Lurah dan Haji Dullah, Udin atau Tarjo akan menantangnya dengan penawaran yang menguntungkan lawannya. Jika tidak mau, maka musuh dari lawannya tersebut dibeli agar mau bertaruh dengan Udin atau Tarjo saja. Tentunya juga dengan penawaran yang lebih menggiurkan.

Malam menjelang hari pemilihan adalah malam yang paling mendebarkan. Disetiap sudut desa banyak masyarakat yang bergadang. Malam itu menjadi malam penentuan siapa yang bakal menjadi kepala desa. Dari kalangan pemercaya mistis, mereka akan sering melihat ke langit untuk memastikan jatuhnya andaru, si bintang jatuh yang dipercaya sebagai perlambang keberuntungan. Rumah yang terlihat kejatuhan andaru ini dipercaya akan menjadi pemenang. Berbeda dengan para simpatisan kandidat kepala desa, mereka akan menjaga sekitar rumah si calon untuk memastikan tidak ada serangan ghaib, semacam sihir, yang dipercaya bisa merusak suara si calon. Selain itu, mereka juga berjaga-jaga dibeberapa tempat yang rawan dan sepi dari bentuk serangan fajar yaitu pembagian uang atau sembako untuk membeli suara masyarakat besok di hari pemilihan. Serangan fajar tidak hanya diotaki oleh tim sukses salah satu kandidat, tapi yang paling bahaya adalah yang dilakukan oleh para bhotho.

Ratusan masyarakat tumplek blek di lapangan untuk menyaksikan perhitungan suara setelah jam satu ditutup kesempatan pemungutan suara. Para bhotho hilir mudik memantau jalannya perhitungan. Ada yang berwajah tegang, harap-harap cemas, ada yang khusu’ seolah memanjatkan doa, ada pula yang menahan senyum melihat jagoannya memperoleh suara banyak. Tampak pula Udin dan Tarjo yang juga tidak kalah tegangnya. Maklum dia berdua menjadi bintang diantara ratusan bhotho yang hadir.
“Bos celaka, jagoan kita kalah semua.” Udin melaporkan hasil perhitungan suara pemilihan kepala desa kepada sang bos, Tarmin.

“Ha…ha…ha….” Diluar dugaan, Tarmin malah ketawa keras memperlihatkan gigi-gigi emas di gerahamnya.

“Kalah kok malah ketawa Bos?” Tarjo tidak memahami prilaku bosnya yang telah memodalinya duaratusan juta untuk taruhan kepala desa.

“Goblok kamu. Kalian berdua itu hanya umpan. Saya sengaja mengarahkan bhotho-bhotho cilik itu untuk menjagokan Mulyono. Sehingga mereka nantinya yang akan menggembosi suaranya Lurah dan Haji Dullah. Kita tidak perlu berkeringat mencari suara, biar mereka yang menyogok dan membujuk saudara dan teman-temannya.” Tarmin menjelaskan dengan diiringi gelak tawa.

“Terus uangnya gimana bos?” Udin masih belum faham.

“Hahahaha… saya ini bhotho kelas kakap musuhnya pun kelas kakap. Aku megang Mulyono melawan Koh Liong, bos tambak desa sebelah. Kamu tahu tidak?” Tanya Tarmin.

Udin dan Tarjo menggeleng.

“Empat ratus juta.” Ujar Tarmin memberitahu anak buahnya.

“HA HA HA….” Tarmin tertawa sekali lagi diikuti oleh Udin dan Tarjo. Mereka mentertawakan proses demokrasi yang telah dikangkangi oleh para bhotho lurah protolan sekolah dasar. 


Ayung Notonegoro

Sabtu, 09 Februari 2013

Sang Penambang



“Huh…huh…huh” Nafas Karmin memburu.
Shubuh itu sudah ketiga kalinya Karmin menelusuri tebing-tebing kaldera gunung ijen memikul dua keranjang belerang sekitar delapan puluh kilogram.
Seiring nafasnya yang terus berpacu cepat, Karmin melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak berkelok sepanjang tiga setengah kilometer mulai dari dapur tempat menambang belerang di mulut kawah hingga di tempat penimbangan di Paltuding. Dengan rute sempit menyusuri kelok tebing yang bersanding jurang. Suatu pekerjaan yang senantiasa dibayangi maut.
Pekerjaan yang sudah duapuluh tahun ditekuninya, bersama dengan ratusan penambang lainnya, tak pernah menimbulkan tanya, kapan aku harus berhenti bekerja mempertaruhkan nyawa seperi ini?
Kesadaran alam pikir mereka hanyalah kecemasan membayangkan kehidupan.
“Kenapa sampean mau bekerja seperi ini?” Tanya seorang pengunjung kawah Ijen kepada salah satu penambang.
“Saya takut?” Jawabnya.
“Takut kenapa pak?”
“Takut lapar” Jawabnya penuh ironi
Ketakutan seperti itulah yang membayangi hari-hari para penambang, termasuk Karmin di shubuh itu.
Karmin terus memaksa otot-ototnya yang membatu laksana tebing-tebing gunung untuk memikul belerang dengan harapan memperoleh upah tujuhratus rupiah perkilonya. Tak lebih. Tak pernah terlintas pikiran tentang alur bisnis indusri belerang yang ratusan ton perharinya dengan omzet ratusan juta itu mengalir ke kantong-kantong siapa? Karmin tak pernah mengerti dengan gurita kapitalis yang terus menyedot keringat buruh-buruh sampai ke sumsum tuk mengeruk untung sebesar-besarnya. Karmin hanya faham bahwa dia harus memikul belerang sebanyak mungkin untuk mendapatkan uang yang cukup agar bisa makan dan membayar biaya sekolah anak-anaknya.
Semua kekayaan alam, air, bumi dan isinya yang menyangkut hidup orang banyak dikuasai pemerintah unuk kesejahteraan rakyat Kalimat indah yang terpampang gagah di undang-undang dasar seakan mimpi yang hanya terjadi disurga kelak. Karmin tak peduli dengan semua itu, Karmin hanya teringat kata-kata istrinya semalam.
“Pak anake nedi kiriman damel mbayar SPP kale ujian…uhug..uhug” ungkapnya sambil diiringi batuk yang sudah setengah bulan tak terobati.
“Piro dek?”Tanya Karmin sambil meninabobokan anak-kecilnya yang baru diam dari tangisnya menahan lapar.
“Duaratus tujuhpuluhlimaribu.” Ungkap isrinya tanpa ada harapan kepastian.
Duaratus tujuhpuluhlimaribu itulah kata-kata yang terus terngiang ditelinga Karmin. Pikiran pendeknya bermatematika sederhana, uang untuk sekolah anak duaratus tujuhlimaribu ditambah biaya berobat isrti duapuluhlimaribu, beli beras dan kebutuhan sehari-hari enampuluhribu selama satu minggu, maka harus memikul belerang setidaknya limaratuslimabelas kilogram dengan harga tujuhratus rupiah per kilonya. Limaratuslimabelas kilogram belerang harus dibawahnya sebanyak enam sampai tujuh kali dengan beban tujuhpuluh sampai delapan puluh kilogram. Betapa beratnya.
Jam satu dini hari, Karmin berangkat seorang diri mendaki gunung ijen dengan tekad bulat dan kecemasan yang telah memenuhi seluruh simpul otaknya. Sebuah sugesti kecemasan absurd yang menjadi multivitamin para penambang menghadapi dinginnya puncak ijen dan menyengatnya bau belerang.
Dengan berkaos tipis hadiah dari partai politik bergambar calon legeslatif, yang sekarang entah kemana janji-janjinya memperjuangkan rakya miskin, dilapisi dengan mantel plastik ala kadarnya, sepatu boat usang,  lampu senter terikat di kepala, dan tak lupa keranjang belerang, Karmin menembus kegelapan malam berkabut gunung ijen.
Hanya bermodal bismillah dan nekad tanpa berfikir keselamatan jiwa pada medan perang pengancam jiwa tanpa senjata, tebing-tebing kawah ijen. Apalagi harapan untuk mendapat asuransi jaminan sosisal tenaga kerja. Mungkin mereka dianggap bukan manusia pekarja yang perlu diasuransi?
Wolongpolohtelu kilo” Ujar penimbang yang menimbang belerang dibawa Karmin di pos penimbangan. Satu kilometer sebelum puncak.
Empatratus tigapuluhdua kilogram kekurangan belerang yang harus dipikul melecut Karmin untuk segera bangkit menyonsong belerangnya. Diiringi koor tangis anaknya semalam yang terus terngiang-ngiang ditelinga menjadi penyemangat, lebih tepatnya pemilu hati, untuk segera memenuhi targetnya.
Shubuh, Karmin mendaki untuk kedua kalinya.

Kamis, 07 Februari 2013

Dilema Valentine


“Wah, parah ni.”  Irul yang baru datang di camp bersungut-sungut seraya membanting badannya duduk dikursi.

Opo’o?”  Tanya Kholik yang sejak tadi berada di camp.

“Coba pikir Lik, sekolahan sebelah itu diliburkan karena besok mau ngadain festival valentine day, parah nggak?” Irul menjelaskan dengan meletakkan jari telunjukknya dikening.

Di camp, tempat berkumpul  para pemuda dari beragam latar belakang, itu Rohim menanggapi,
Loh, masalah buat kamu?”

“Jelas dong. Sekolah itu lembaga pendidikan, pendidikan ilmu pengetahuan ataupun pendidikan moral. Masa’ pake ngadain valentine-an. Itu kan acara amoral.”

“Kok bisa amoral?”

Loh wong disana diumbar berbagai kemaksiatan. Memang sih di sekolah tersebut tidak ada acara minum minuman keras atau pesta mesum, tapi apa dijamin kelanjutannya diluar?” Irul memburu.

“Benar, tahun kemarin aja, ada beberapa siswi yang ditemukan mabuk waktu valentine.”  Dani menguatkan argumentasi Irul.

“Iya ya….”  Ibnu yang sejak tadi sibuk membaca koran terpancing.

“Kenapa sih kok diadakan acara valentine-an segala, kalau cuma untuk merayakan hari kasih sayang? Bukankah ini semacam ada konspirasi internasional untuk merusak moral pemuda dengan dalih hari kasih sayang?” Lanjut Ibnu.

“Ya jika dilihat dari sejarahnya sendiri, memang ada semacam momentum untuk dijadikan sebagai peringatan hari kasih sayang. Dimana seorang uskup rela mati demi membela cinta. Ya mungkin semacam peringatan maulid Nabi Muhammad, kenapa harus menunggu bulan robiul awal kalau untuk meneladani kanjeng nabi?”  Rohim menimpali.

“Ya tidak bisa kita samakan begitu saja dengan peringatan maulid nabi. Jelas beda.” Irul membantah.

“Yang bermasalah itu isinya, jika maulid nabi diisi dengan pengajian tapi jika valentine diisi dengan kemaksiatan.” Dani menyambung.

“Nah, kemaksiatan ini lah yang saya kwatirkan sebagai bentuk  konspirasi besar.” Ujar Ibnu.

“Maksudnya?”

Rabu, 09 Januari 2013

BALADA NEGERI HIJAU

BALADA NEGERI HIJAU




















Ini balada suatu negeri\\
Negeri yang berebut menjadi paling hijau\\
Saling aku benar tuduh salah\\
“Bukan engkau, akulah yang hijau”\\
Tanpa sadar hijaunya pucat\\
Tercemar hijau yang tak sehat\\
“Bukan begitu, hijaulah”\\
Coba mengasih tahu\\
Meski dirinya mulai membiru\\
“Sekali hijau, tetaplah”\\
Bentak hijau yang suram\\
Kepada hijau yang beragam\\
“Inilah aku, hijau saat ini”\\
Menawarkan kehijauannya\\
Walau masih ranum warnanya\\
“Semua hijau, menghijaulah\\
Hijau sejahtera hijau damai”\\
Pungkas hijau murni\\


Oleh: Ayung Nitinegara\\

Senin, 03 Desember 2012

Demokrasi la Royba Fih


Demokrasi la Royba Fih

Sinar mentari menyapu kegelapan subuh, menerobos pintu, menghangatkan tubuh para santri yang duduk bersilah di mushollah. "Pemimpin itu laksana tiang rumah. Jika tiang itu rapuh, maka rumah itu pun rapuh. Namun jika tiang itu kuat, maka rumah akan kokoh." Nasihat Pak Kyai yang duduk menghadap ke timur, menghadap ke para santri.

Lima belas menit berlalu, para santri berhamburan keluar seiring keluarnya Pak Kyai yang diiringi para ustadz dan pengurus pondok.

Hari itu, akan diadakan "pesta demokrasi" untuk pertama kalinya di pondok pesantren An-Nur. Pesta demokrasi itu berupa pemilihan ketua asrama Al-Ghazali. jangan membayangkan kalau pemilihan ketua asrama sama dengan pemilihan umum pada umumnya yang memajang poster dimana-dimana, melakukan kampanye, melobi sana-sini, sampai-sampai money politic dan berbagai cara curang lainnya.Beda sekali.

Demokrasi di pondok merupakan sebuah bentuk demokrasi yang telah dimodifikasi. "Pemilihan secara lansung itu bukan cara yang tepat, tapi hanya akal-akalan Yahudi. Itu merupakan konspirasi yang hanya ingin mengerdilkan umat islam. Masak suara Kyai sama dengan suara pelacur? padahal kan tidak sama kwalitas pendapat keduanya! apalagi dalam urusan mencari pemimpin, bisa celaka!" Ustad Thoriq memaparkan pendapatnya dalam rapat pengurus pondok pesantren dalam rangka menentukan ketua asrama Al-Ghazali.

"Ngapunten Ustad" Ustad Ibrahim menimpali "Tapi dengan perkembangan zaman seperti sekarang, dimana keterbukaan dan kebebasan berpendapat terjadi dimana-mana, termasuk di pesantren, maka kita juga harus mempertimbangkan hal itu." lanjut Ustad Ibrahim.
"Justru kebebasan itu harus ditekan di pondok ini Ustad. Bisa berbahaya jika mereka dibiarkan saja." Ustad Thoriq mempertahankan pendapatnya.
"Begini Ustad, jika kebebasan berpendapat itu tidak diapresiasi maka anak-anak akan melakukan hal-hal yang tidak terkontrol sebagai bentuk penyaluran gagasannya. Apalagi melihat kondisi pondok ini yang terbuka." Ustad Ibrahim berargumen.

"Semuanya benar.Memang sistem demokrasi yang ada saat ini ada nilai negatif dan nilai positifnya." Ustad Romli berdiplomasi. "Oleh karena itu, perlu adanya modifikasi pada sistem demokrasi jika ingin diterapkan disini. Khud maa shofa wa da' maa kadaro."  Lanjutnya.

"Lalu bagaimana bentuk modifikasi itu Ustad?" Tanya Ustad Ibrahim.

"Pertama kita seleksi terlebih dahulu para kandidat yang terbaik. Dari hasil seleksi tersebut kemudian kita serahkan kepada para santri untuk memilih." Jawab Ustad Romli.

Akhirnya rapat pengurus menyepakati usulan Ustad Romli untuk memodifikasi sistem demokrasi bagi pemilihan ketua asrama Al-Ghazali.

Seminggu setelah rapat pengurus terpilihlah tiga kandidat ketua asrama Al-Ghazali berdasarkan seleksi tim formatur yang terdiri dari lima orang ustad dan pengurus pondok.

kandidat pertama bernama Ahmad Mustofa, santri senior yang sudah enam tahun nyantri. Namun karena perangainya yang agak slengean, perkembangan intelektualnya tertinggal dari pada rekan-rekan santri lainnya yang sepantaran dengan dia. Namun, karena faktor senioritas dia disegani oleh para juniornya. Atas pertimbangan inilah, dia terpilih oleh tim formatur dengan harapan bisa menjadi pengatur para juniornya.

Kandidat kedua namanya Badrun Munif. Dia tergolong santri baru, baru tiga tahun lebih dia mondok. Namun karena kecerdasannya dan kemampuannya mengorganisir teman-temannya, dia dinilai layak oleh tim formatur untuk menjadi kandidat ketua asrama. Namun, dari sisi akhlaq dia dinilai kurang terlalu bagus. Agak urakan.

Kandidat ketiga bernama Mohammad Muhlisin. Dia adalah tipe santri yang tawadhu', sangat menjunjung akhlaqul karimah. Dia juga termasuk santri senior, karena usianya yang tua tapi masih baru di pondok. Karena itulah dia terpilih menjadi kandidat ketua asrama. Namun, kecakapannya dalam memimpim masih dipertanyakan.

Paska launching kandidat ketua asrama oleh tim formatur, para santri asrama Al-Ghazali terpolarisasi menjadi tiga kelompok pendukung.

"Pokoe Kang Tofa gudhu dadi ketua asrama." Kata Randi, salah satu santri asrama Al-Ghazali pada teman-teman kamarnya.
"Lek Kang Tofa kang dadhi ketua asrama, pokoe Al-Ghazali pasti tentrem. Karena seorang pemimpin itu harus dipimpin oleh santri senior. Jika yang memimpin lebih muda, maka akan terjadi kesenjangan."  Randi berkampanye."Coba kita perhatikan, ketua pondok juga dipilih berdasarkan senioritas. iya gak?" Randi berargumen.
Beda kamar, beda pula pilihannya.Di sebelah kamar Randi adalah kamar Selamet. "Sudah saatnya, pemilihan ketua asrama harus dipilih berdasarkan kemampuannya dalam memimpin. Tidak hanya dipandang dari segi senioritas." Ungkap Selamet ke teman-teman kamarnya. "Bukankah Nabi pernah bersabda, jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya?" Lanjutnya.
"Lalu siapa Kang yang mampu menjadi ketua asrama?" tanya salah seorang santri.
"Jika menurut pengamatan saya, berdasarkan track record ketiga kandidat, Kang Badrun yang lebih mampu memimpin. Tentunya terlepas dari faktor kekurangan pada sisi lain." Jawab Selamat mantap.

Begitu pula dengan pendukung Muhlisin tak kalah vokalnya.
"Kita ga' butuh pemimpin yang cerdas. Apalagi pemimpin yang menganggap dirinya senior. Tapi kita butuh pemimpin yang berakhlaq mulia. Bukankah negara kita hancur karena para pemimpinnya tidak berakhlaq?" Sulaiman berpidato di depan teman-teman kamarnya.
"Kang Muhlis adalah orang yang tepat untuk kita jadikan ketua asrama, bukan yang lain." Putus Sulaiman.
Perbincangan mengenai calon ketua asrama menjadi topik hangat tidak hanya di asrama al-ghazali, tapi sudah menjalar ke asrama lainnya, bahkan menyebrang sampai ke pondok putri. Singkat kata, pemilihan ketua asrama al-ghazali telah menjadi buah bibir seluruh pondok pesantren An-Nur.

Pagi itu, pagi yang telah ditunggu oleh para santri asrama Al-Ghazali karena pada hari itu akan diadakan pemilihan lansung ketua asrama. Sebelum pemilihan dilansungkan, para kandidat terlebih dahulu dijejer di depan para santri untuk memaparkan visi misi kepemimpinannya nanti.

"Rekan-rekanku sekalian.Mungkin selama ini saya bukanlah santri yang bisa menjadi teladan bagi kalian semua. Tapi perlu diingat, akan menjadi cambuk yang sangat keras bagi saya, selaku santri senior, jika tidak mampu membawa asrama Al-Ghazali menjadi lebih baik." Cetus Mustofa menyampaikan pandangannya kelak saat menjadi ketua asrama.
Sontak saja, pidato Mustofa disambut tepuk tangan para pendukungnya. Tentunya juga diiringi teriakan "huuuu..." dari lawan-lawan "politiknya."

Giliran kedua adalah Badrun Munif untuk menyampaikan visi misinya.
"Mengutip pesan Pak Kyai tadi pagi, bahwa pemimpin itu ibarat tiang rumah. Oleh karena itu rekan-rekan santri semua, seasrama sepondok. Agar rumah kokoh, kita harus memilih tiang yang kuat. Maka saya berharap kepada teman-teman semua untuk memilih tiang yang kuat, meski masih muda. Jangan hanya memilih tiang yang tua, tapi keropos." Pidato Badrun membikin suasana bergemuruh.
"Sudah saatnya yang kreatif, yang muda, yang memimpin." Badrun memungkasi pidatonya.

Tepuk tangan dan gemuruh huuuu....berebut tempat di aula tempat pemilihan tersebut. Sampai-sampai keamanan pondok turun tangan untuk menenangkan masa.

Terakhir, giliran Muhlisin menyampaikan pidatonya.

"Rencang-Rencang, asline kulo mboten siap dadhos ketua asrama. tapi lek rencang-rencang sedanten meleh kulo dados ketua asrama, kulo mboten ate nyia-nyiaken kepercayaane jenengan sedanten." singkat, jelas, tenang, dan mantap pidato Muhlisin.

Selang beberapa menit setelah pemaparan visi misi pemilihan ketua asrama secara lansung dimulai untuk pertama kalinya di Pondok pesantren An-Nur.

Animo para santri begitu besar untuk mengikuti pemilihan lansung tersebut. Tak lebih dari dua jam, seratus santri asramaAl-Ghazali telah selesai menetukan pilihannya. Tanpa seorang santri pun yang golput.

Tibalah waktunya perhitungan suara.
Ustad Romli yang bertugas untuk menghitung surat suara para pemilih yang telah dimasukkan ke dalam kotak.

"Saya akan menyebut satu untuk kandidat Mustofa, dua untuk kandidat Badrun, dan tiga untuk kandidat Muhlisin" Ustad Romli memaparkan.
kemudian Ustad Romli menuang seluruh surat suara dari kotak ke dalam wadah terbuka dan menunjukkan kotak suara telah kosong.
Kemudian surat suara pertama dibuka. Dengan hati-hati Ustad Romli meneliti surat suara dengan ditunjukkan kepada semua hadirin. "Sah satu.." Teriak Ustad Thoriq. Yang kemudian diikuti oleh Ustad Ibrahim yang menuliskan garis di papan skor.
Tepuk tangan bergemuruh. Namun segera diredam oleh keamanan.
"Mohon diam dulu. biar semua berjalan dengan tenang. Kita perhatikan dengan seksama proses perhitungan ini dengan khidmat agar tidak mengganggu petugas." Bentak Kepala Keamanan pondok.

Acara perhitungan terus berlanjut.

"Sah satu"
"Sah satu"
"Sah dua"
"Sah tiga"

"Sah tiga"
"Sah dua"
"Sah tiga"
"Sah dua"
Surat suara semakin menipis, ketiga kandidat terus berkejaran sama kuat.
Keajaiban terjadi. Ketiga kandidat memperoleh suara sama, tigapuluh tiga.
"Perolehan suara sama dan surat suara tinggal satu. Mari kita saksikan bersama, siapakah yang akan menjadi ketua asramaAl-Ghazali" Ustad Romli
Suasana hening. Dada berdebar.
Pelan-palan lipatan surat suara dibuka. Dipampang kearah depan.
"Tidak sah..." Teriak Ustad Romli.
Seakan mendengar suara halilintar. Semua terhenyak.
Terus siapa yang menjadi ketua asrama Al-Ghazali????? Pertanyaan tersebut menggaung di seluruh aula. Laksana jutaan lebah yang terbang mengitari aula.Tiba-tiba, ditengah kekacauan dan hiruk pikuk terdengar bisikan yang lirih tapi semua orang di aula mendengar.Tidak tahu siapa yang berkata. Semacam bisikan gaib. Suasana seketika hening."Istihoroh ae"
 "Istihoroh ae""Istihoroh ae"
Suara itu menjadi gaduh. Mungkinkah itu ilham dari malaikat yang diberikan kepada para santri untuk memilih ketua asrama dengan metode istihoroh, bukan demokrasi?

Banyuwangi, 4 Desember 2012