menu

Selasa, 20 Januari 2015

Kemarin

Rasanya baru kemarin nenek itu duduk dengan suaminya tercinta
Rasanya baru kemarin nenek itu melayani suaminya yang sedang sakit
Rasanya baru kemarin nenek itu menceritakan kepergian suaminya yang telah tiada
Rasanya baru kemarin nenek itu mengeluh dengan sakit yang di deritanya
nenek yang selalu menyayangi anak dan cucunya
nenek yang selalu menutupi kesedihan nya di depan anak dan cucunya
nenek yang selalu bertekad menjadikan anak cucunya menjadi orang-orang baik
kini
hari ini
nenek itu telah pergi untuk selamanya...
bertemu dengan suami tercinta semasa hidupnya
aku panggil beliau nyai...
Nyai Mutiah...



Surabaya 12/1/2015

Jumat, 11 April 2014

Pulau Sempu

Indonesia Bagus, kata yang tepat untuk mendiskripsikan secara singkat tentang negara kita ini, tak perlu kita. harus ngurus paspor atau apapun kalau hanya ingin menikmati keindahan alam. salah satunya pulau sempu, yang terletak di kabupaten malang jawa timur.
bergerak dengan mobil rentalan dari surabaya menuju pulau sempu sekitaran 4 jam, Untuk menuju ke sana, kita harus menyambung perjalanan dengan menyewa kapal. Kalau di Palembang sih disebutnya kapal ketek karena bunyi mesinnya yang berbunyi, "etek..ketek..ketek.." Entah kalau di Sendang Biru disebutnya apa, saya juga lupa menanyakannya pada penduduk setempat.
Apa itu Sendang Biru? bukannya kita lagi membicarakan Pulau Sempu? Sendang Biru itu dermaga, mungkin seperti Pelabuhan Merak atau Bakaheuni dalam skala yang lebih besar. Kalau mau main air di sini tidak terlalu disarankan. Karena memang kurang seru menempuh perjalanan jauh-jauh hanya untuk bermain di Sendang Biru, yang sangat biasa pemandangannya. Belum bau anyirnya yang agak menyengat. Jadi kalau sudah ke Sendang Biru, jangan tanggung-tanggung, sekalian saja menyeberang ke Pulau Sempu.
hal yang perlu dilakukan pertama adalah mengurus perijinan terlebih dahulu, di pos penjagaan di sendang baru, dengan membayar ijin masuk Rp. 20.000 perkelompok, dan apabila menggunakan jasa pemandu jalan akan dikenakan biaya Rp.100.000, tapi pengunjung tidak usah khawatir karena jalan menuju pulau sempu tidak lah susah, meskipun masih hutan belantara jalan yang dilewati tidak sesusah yang di ceritakan oleh petugas pos alias sudah jelas dan tidak akan kesasar..heheheh
Tempat Perijinan ke Pulau Sempu

yang kedua mencari perahu untuk menyebrang dengan menunjukkan surat ijin yang telah di urus maka akan dihantarkan oleh bapak-bapak pemilik perahu, jangan lupa minta nomer HP sang empu perahu, perjalanan perahu ini dikenakan biaya Rp.100.000 pulang pergi.
Perahu yang nganter ke pulau sempu
Perjalanan ini menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit sampailah di pulau sempu, tapi perjalalnan belum selesai, yang ketiga kita harus ngetrip lagi kira-kira 1 jam untuk sampai tujuan, pemandangan hutan dan ditemani kera-kera liar seperti di pantai uluwatu, tapi jalannya hutan tapi enak (kalau ga ujan)
Jalan menuju segoro anakan 

nah setalah capek jalan barulah capek-capek kita dibayar dengan pemandangan yang haya satu di dunia, anaknya pantai (segoro anakan) cepat-cepat ganti baju yang mau renang atau dirikan tenda yang mau kemping, airnya dingin seger banget...
Segoro anakan
Dibalik tebing yang menutupi segoro anakan bisa langsung lihat induknya, samudra luas dengan tebing batu yang terjal membuat kita merasa kecil dan tidak penting di alam ini, sepatutnya kita menjaga dan melestarikannnya, sehingga anak cucu kita bisa menikmati keindahan alam indonesia
kalau naik ke tebing batu ini penampakannya
Hahh ... sangat memuaskan sekali perjalanan menuju segoro anakan bersama Foot Traveler (FT)

Jumat, 12 Juli 2013

Ramadan Bulan Membaca



ilustrasi

Ramadan adalah bulan spesial. Begitu spesialnya bulan ini sehingga banyak julukan yang disematkan. Ramadan disebut bulan ampunan (syahrul magfiroh) karena pada bulan ini Allah menebar ampunan kepada hamba yang memohonnya. Ramadan juga disebut bulan ibadah (syahrul ibadah) karena anjuran untuk memperbanyak ibadah dengan imbalan pahala yang berlipat. Ramadan juga layak disebut dengan syahrul qiroah, bulan membaca.

Ramadan layak disebut bulan membaca karena intensitas membaca umat Islam semakin meningkat dibanding bulan-bulan lainnya. Setidaknya hal ini terlihat dari tradisi tadarus dan huduran. Tadarus adalah tradisi membaca al-qur’an secara bersama-sama –  ada yang membaca dan ada yang menyimak –  setelah melaksanakan sholat tarawih atau setelah sholat-sholat fardu yang lain. Sedangkan huduran  adalah tradisi khas pesantren dimana para santri mengkhatamkan beberapa kitab kuning secara kilat selama Ramadan dengan metode bandongan. Huduran rata-rata ditempuh selama delapan jam per hari bahkan lebih. Seperti halnya di Pesantren Al-Anwari Kertosari Banyuwangi yang memulai huduran seusai sholat subuh sampai jam 08:30 WIB. Kemudian dilanjutkan setelah sholat duhur sampai menjelang magrib dengan istirahat sebentar untuk sholat ashar. Setelah sholat tarawih dilanjutkan lagi hingga jam sepuluh malam.

Ramadan juga layak disebut  bulan membaca karena pada bulan ini al-qur’an untuk pertama kalinya diwahyukan. Sebagaimana diketahui bersama, ayat yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca, iqra’ bismirobbikalladzi kholaq – bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (QS. Al-Alaq [96]:1). Hal ini berarti Ramadan tidak hanya diperingati sebagai hari turunnya al-qur’an (nuzulul qur’an), namun juga sebagai momentum peringatan perintah untuk membaca.

Peringatan perintah untuk membaca menjadi penting mengingat besarnya manfaat membaca. Terkait hal ini, Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan lafad iqra (bacalah) dikaitkan dengan bentuk ilmu. Menurutnya ilmu terbagi menjadi tiga, yaitu ilmu yang berbentuk ingatan/pemahaman (ilmud dahni), ilmu yang berbentuk ucapan (ilmul lisan), dan ilmu yang berbentuk tulisan (ilmul kitabah). Masing-masing ilmu memiliki ujung yang berupa ingatan, lafad, dan huruf. Sedangkan huruf itu sendiri telah menghimpun ingatan dan lafad. Dengan demikian melalui membaca dapat memperoleh tiga jenis ilmu sekaligus, sehingga Allah memerintah manusia untuk membaca.

Minggu, 07 Juli 2013

Atlas Wali Songo

Kepercayaan Kapitayan termasuk dalam kategori Nihlah, ada bekasnya tetapi tidak lagi diketahui siapa pembawanya dan ritual keagamaannya. meskipun demikian, berbagai hikmah yang ada di dalamnya patut kita ambil dan perlu kita selamatkan, sehingga keberagamaan kita berakar kuat dan memiliki pijakan historis. Menurut ahlusunnah waljamaah, agama di kategorikan secara proporsional, yakni Ad-din, millah dan nihlah. kepercayaan Kapitayan ini masuk kedalam kategori Nihlah. Demikian KH Said Aqil Siradj memberikan sedikit gambaran tentang isi buku ini dalam kata pengantarnya. Dan kini bisa anda baca di Rumah Baca Mawar

Tak Sempurna





Novel yang  bercerita tentang dunia pendidikan di suatu kota-yang-tak-disebutkan-namanya di Indonesia. Kami lebih senang menyebutnya Gotham-nya Indonesia. Suatu kota di mana anak-anak dibesarkan di tengah keluarga yang tak memberikan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat yang tak memberi harapan, dan kehidupan bernegara yang tak menjanjikan apa-apa kecuali perang-perang politik kepentingan memuakkan. Di kota semacam itu, sulit sekali menemukan contoh dan teladan yang baik, sekalipun dari kalangan tokoh-tokoh agama. Di kota itulah sekolah menjadi sekadar tempat “penitipan anak” bagi orangtua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orangtua yang tak peduli pada mereka. Juga ajang adu gengsi. Sementara itu, di tengah semua kekacauan sistem pendidikan, rekrutmen tenaga pengajar yang penuh kecurangan, dan kurikulum pendidikan yang berantakan, anak-anak ini masih ditekan dengan beban pelajaran yang kelebihan muatan, tugas-tugas, les panjang persiapan ujian, try out, ujian nasional, dan seterusnya. Dan kini bisa di baca di Rumah Baca Mawar

Minggu, 21 April 2013

MEMAKNAI ULANG KELULUSAN



MEMAKNAI  ULANG KELULUSAN


Yaumul hisab, hari perhitungan, bagi para pelajar telah datang. Hari yang menjadi penentu kelulusan masa pendidikan di sekolah akan segera dihelat. Hari yang bertajuk Ujian Akhir Nasional atau biasa disingkat UAN, UNAS, atau UN ini telah sejak lama dinanti dan diharapkan, namun juga ditakuti oleh segenap pelaku pendidikan. Mulai Menteri Pendidikan, Gubenur, Wali Kota/ Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, Guru dan terutama Murid dan Wali Murid. Tak ayal lagi persiapan untuk menyambut UN telah dimulai jauh-jauh hari. Mulai dari penambahan jam pelajaran, baik masuk lebih pagi atau pulang lebih sore, les dan melakukan bimbingan belajar diluar jam sekolah pun diakoni oeh para pelajar. Tak cukup itu, simulasi ujian (try out) dan latihan penyelesaian soal menjadi menu sehari-hari. Praktis selama semester dua hanya latihan-latihan soal yang didapat disekolah.


Tak hanya persiapan yang bersifat teknis, persiapan mental dan spiritual pun tak kalah pentingnya mereka persiapkan untuk menghadapi UN. Doa bersama digelar dimana-mana, bahkan ada salah satu sekolah yang menjadikannya menjadi rutinitas mingguan.

Sakralitas dan mandragunanya UN sebagai faktor (ter)utama kelulusan pelajar juga didukung oleh pemerintah. Tak tanggung-tanggung, dana sebesar 600 milyar rupiah digelontorkan pemerintah pusat untuk menyukseskan perhelatan akbar ini. Jangan bayangkan betapa banyaknya uang enamratus milyar tersebut. Jika ditukar dengan uang seribu lembaran mampu menutupi beribu-ribu kali luas kabupaten Banyuwangi. Atau pun jika uang ribuan tersebut disusun berjajar maka akan mampu mengelilingi bumi lebih dari 663 kali atau setara dengan jarak bolak-balik antara bumi dan bulan. Atau jika ingin lebih humanis, uang ribuan tersebut dibagikan kepada fakir miskin, katakanlah membagi satu lembar uang seribu membutuhkan waktu sepuluh detik, sedangkan kita bekerja sehari selama delapan jam dan lima ari dalam sepekan, maka waktu yang diperlukan untuk menghabiskannya selama 868 tahun 17 hari lebih 160 menit. Mungkin orang Osing hanya bia bilang, “Byeeeek...” sambil salto-salto tujuh kali ke belakang.

Terlepas dari beragam polemik dan kontroversi tentang penyelenggaran ujian nasional, tentunya terdapat niatan mulia untuk menaikkan standard pendidikan di Indonesia. Namun niatan mulia tersebut banyak tak sampai ke relung nurani para kompenen yang terlibat penyelenggaraan UN. Pandangan-pandangan pragmatis untuk meraih kelulusan mengantarkan terhadap tindak kecurangan yang terkesan sistemik. Mulai kebocoran soal, contek masal, joki, pembelian kunci jawaban, sampai-sampai kongkalikong antar pihak pengawas dan pihak sekolah demi “amannya” proses ujian.

Tentunya hal tersebut mencederai tujuan dasar diselenggarakannya ujian. Ujian yang tujuan dasarnya menguji kemampuan peserta didik dalam menyerap materi yang diujikan untuk menilai layak ataukah tidak untuk dinyatakan lulus akhirnya berubah hanya menjadi ajang “sandiwara” formaliltas bahwa sekolah itu harus diakhiri dengan ujian. Ujian nasional 2013 yang menggunakan dua puluh variasi soal menjadi indikator betapa parahnya praktek kecurangan pada pelaksanaan UN.

Bukannya tanpa alasan adanya oknum-oknum yang melakukan kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Banyak faktor yang menyebabkannya. Salah satunya adalah pengkultusan terhadap kelulusan yang ditandai dengan mendapatkan ijazah. Bagaimana tidak, ijazah telah menjadi keris empu gandring yang ampuh untuk menaklukan kerasnya zaman yang disebut-sebut sebagai zaman globalisasi ini. Hampir semua bidang pekerjaan mulai yang remeh temeh sampai yang berbobot membutuhkan kartu truf bernama ijazah. Jadi tidak heran jika banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan selembar ijazah dengan menggunakan berbagai cara, baik yang halal maupun yang haram, demi “menjamin” masa depannya.

Paradigma seperti diatas tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena sistem yang berlaku saat ini ebih senang terhadap hal yang sah secara formal ketimbang bukti nyata. Namun perlu diingat ijazah kelulusan bukanlah modal utama kesuksesan seseorang dalam mengarungi kehidupan. Banyak orang yang berijazah (maaf) yang nganggur, dan tak sedikit orang yang tak berijazah yang meraih sukses dan kaya raya. Kelulusan pun bukan menjadi penanda seseorang itu pandai dan yang tidak lulus itu tidak pintar. Banyak siswa yang berprestasi di sekolahnya justru ketika UN divonis tidak lulus, sedangkan yang biasa-biasa saja justru mendapatkan kelulusan dengan nilai yang baik. 

Banyak contoh orang sukses tanpa ijazah.  Subhash Chandra merupakan salah satu konglomerat India, pendiri Essel Propack Limited mampu menjadikannya menjadi orang kaya.  Majalah Forbes edisi Maret 2009 menempatkan Chandra di urutan 647 orang terkaya dunia dengan kekayaan mencapai 1,1 miliar dollar AS. Bahkan Alan Gerry yang juga tidak menamatkan pendidikan SMA, mampu menjadi biliuner dengan menjadi pengusaha TV kabel yang sukses.

Di Indonesia juga terdapat  orang sukses tanpa ijazah. Sebut saja seorang motivator dan pengusaha sukses bernama Andrie Wongso yang bergelar SDTT alias akronim dari Sekolah Dasar Tidak Tamat. Begitu pula dalam sejarah negara Indonesia yang pernah memiliki Wakil Presiden yang tak berijazah yaitu Adam Malik. Namun wapres ketiga Republik Indonesia ini jangan diragukan agi dalam kemampuan politik dan diplomasinya.

Yang menjadi titik tekan bukan pada penting atau tidaknya nilai kelulusan ataupun ijazah, tapi bagaimana memandang kelulusan maupun ijazah sebagai suatu yang porposional. Pengkultusan terhadap kelulusan dan ijazah yang membabi buta dengan menghalalkan segala cara tanpa peduli baik buruk itulah yang menjadi fokus kajian ini. Selamanya ijazah dan kelulusan itu penting dan sangat berguna dalam kehidupan yang menuntut formalitas pendidikan ini.

Kisah Ajib Rosidi, seorang sastrawan kawak Indonesia, bisa menjadi renungan bersama. Beliau memutuskan tidak mengikuti ujian akhir semasa SMA dikarenakan tersebar isu bahwa telah terjadi kecurangan dengan membocorkan soal-soal ujian. Agar tidak terkena imbas dari kecurangan tersebut dan menjaga “ke-syubhat-an” kelulusannya, beliau mogok ujian. Lalu beliau banyak belajar dan membaca sebagai upaya tandingan bahwa tanpa ijazah dan kelulusan mampu menjadi orang sukses. Akhirnya, beliau menjadi dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di negara Jepang dengan mengajar bahasa Indonesia. Beliau juga mengarang tidak kurang dari lima puluh buku.

 Dari kisah ini semakin jelas bahwa kemampuan lah yang menjadi faktor utama kesuksesan. Jadi  tak perlu menghalalkan cara-cara curang untuk meraih kelulusan. Banyak cara untuk meraih kesuksesan. Caranya tergantung seberapa besar kemauan kita untuk belajar dan berjuang. Nabi Muhammad bersabda pada Siti Aisyah: “Ajruki alaa qodri nasbik- ganjaran untukmu tergantung seberapa usahamu.”
Jika kita belajar dan berjuang secara sungguh-sungguh kita akan eraih kelulusan dan kesuksesan.
Selamat belajar dan berjuang, selamat berujian tanpa kecurangan.

Ayung Nitinegara, Aktivis IPNU Banyuwangi.

Rabu, 27 Februari 2013

Bhotho Lurah


Desa Pelaosan begitu meriah. Gambar-gambar bertebaran di setiap sudut desa. Mulai dari yang ukuran polio sampai ukuran baliho. Ada yang bergambar orang memakai dasi yang dipadu dengan jas sebagai bukti keprofisionalan dan keintelektualannya. Ada juga yang berkopiah dan baju koko putih seolah-olah menampakkan keberagamaannya. Dan adapula yang bersafari sambil mengacungkan genggaman tangannya untuk menggambarkan semangatya.

Pilihan kepala desa kali ini berbeda dengan pemilihan kepala desa – kepala desa sebelumnya, dimana hanya memasang gambar hasil kebun, seperti jagung, kelapa, pisang, singkong, dan lainnya sebagai lambang setiap kandidat. 


Tak hanya sebatas gambar wajah, tapi juga sudah memakai berbagai slogan yang saling bersaing mutu untuk merebut simpati rakyat.

“Lanjutkan kepemimpinan cerdas dan bersih”. Begitu bunyi slogan dari Drs. Soeharto yang menjadi calon incumbent.

Beda latar belakang kandidat beda slogan pula. Haji Abdullah atau akrab dipanggil Haji Dullah, salah seorang tokoh masyarakat yang memimpin salah satu ormas keagamaan, memakai jargon, “Wujudkan desa agamis yang sejahtera”.

Begitu pula calon ketiga yang menjadi representasi para pemuda, Mulyono atau familiar disebut Cak Mul, mungusung jargon, “Dengan semangat muda, mengubah desa menjadi kota”.

Demam pemilihan kepala desa menjalar ke berbagai penjuru, tidak hanya dalam desa bahkan sampai pula ke luar desa. Pemilihan kepala desa selalu menjadi topik utama.

“Kaya’e Pak Lurah bakal kepilih lagi.” Ujar Sarmin di pos ronda.

“Iya.. Keputusannya membuat lapangan bola baru akan mampu merebut simpati para pemuda untuk memilihnya.” Timpal Kardi menganalisis kebijakan Pak Lurah dengan gaya bak pengamatan politik yang sering muncul di televisi.

“Kalau saya menjagokan Haji Dullah.” Rahmat menanggapi.

“Dia sosok yang baik dan agamis, gak neko-neko hidupnya. Pasti banyak yang simpatik kepada beliau.” Lanjutnya.

“Benar Haji Dullah berpeluang menempel ketat Pak Lurah. Setelah saya melakukan survey kecil-kecilan dibeberapa kantong suaranya Pak Lurah banyak yang mendukung Haji Dullah.” Ujar sang pengamat politik kampung, Kardi.

“Kalau menurutmu peluangnya Mulyono bagaimana?” Tanya Sarmin ke Kardi.

“Dia tak ubahnya pion yang hanya dijadikan tumbal dalam setiap pertarungan. Tumbang dia.” Jawab Kardi.
“Alah sok tahu kamu Kar.” Bentak Karmin yang merupakan saudara jauhnya Mulyono.

“Kamu saja Min yang kurang pergaulan.” Kardi tersulut emosinya.

“Wes..wes…” Sarmin melerainya.

Semakin dekat waktu pemilihan semakin panas dan sensitif perbincangan tentang pilkades, pemilihan kepala desa. Apalagi dibumbui gerak para petaruh yang memanaskan situasi. Namun perbincangan calon kepala desa mengerucut kepada dua kandidat, Lurah lama dan Haji Dullah. Pada bursa taruhan para Bhotho Lurah, menempatkan keduanya sebagai calon kuat. Sedangakan Cak Mul dianggap sebagai bawang alias pelengkap.

“Kamu cari sebanyak mungkin bhotho-bhotho cilik dari dalam desa yang pegang Mulyono. Kamu kasih penawaran yang menguntungkan mereka agar mereka mau memilih Mulyono. Gunakan uang ini untuk notoi Pak Lurah dan Haji Dullah.” Tarmin, si Bhotho besar, menginstruksikan kepada kedua anak buahnya, Udin dan Tarjo.

Meluncurlah dua bhotho suruhan Tarmin untuk melakukan transaksi perjudian. Ada yang model ashor setengah yaitu dua suara Pak Lurah atau Haji Dullah sama denga satu suara Cal Mul. Ada juga yang model ngepoor yaitu perhitungan suara Pak Lurah atau Haji Dullah dimulai dari min, mulai min seratus, min seratus limapuluh, bahkan sampai min duaratus suara.

Taruhannya beragam. Mulai dari uang limaratus ribu, satu juta, bahkan sampai mendekati sepuluh juta. Ada pula yang mempertaruhkan kambing, sapi, sepeda motor atau bahkan menggadaikan sertifikat rumah atau kebun dan sawahnya. Perjudian yang tak hanya bemotif uang tapi juga gengsi dan tradisi.

Udin dan Tarjo sukses menjalankan perintah sang bos. Semua petaruh-petaruh kelas rencek menjagokan Cak Mul. Sedangkan Pak Lurah dan Haji Dullah dimonopoli oleh Udin dan Tarjo saja. Jika ada yang menjagokan Pak Lurah dan Haji Dullah, Udin atau Tarjo akan menantangnya dengan penawaran yang menguntungkan lawannya. Jika tidak mau, maka musuh dari lawannya tersebut dibeli agar mau bertaruh dengan Udin atau Tarjo saja. Tentunya juga dengan penawaran yang lebih menggiurkan.

Malam menjelang hari pemilihan adalah malam yang paling mendebarkan. Disetiap sudut desa banyak masyarakat yang bergadang. Malam itu menjadi malam penentuan siapa yang bakal menjadi kepala desa. Dari kalangan pemercaya mistis, mereka akan sering melihat ke langit untuk memastikan jatuhnya andaru, si bintang jatuh yang dipercaya sebagai perlambang keberuntungan. Rumah yang terlihat kejatuhan andaru ini dipercaya akan menjadi pemenang. Berbeda dengan para simpatisan kandidat kepala desa, mereka akan menjaga sekitar rumah si calon untuk memastikan tidak ada serangan ghaib, semacam sihir, yang dipercaya bisa merusak suara si calon. Selain itu, mereka juga berjaga-jaga dibeberapa tempat yang rawan dan sepi dari bentuk serangan fajar yaitu pembagian uang atau sembako untuk membeli suara masyarakat besok di hari pemilihan. Serangan fajar tidak hanya diotaki oleh tim sukses salah satu kandidat, tapi yang paling bahaya adalah yang dilakukan oleh para bhotho.

Ratusan masyarakat tumplek blek di lapangan untuk menyaksikan perhitungan suara setelah jam satu ditutup kesempatan pemungutan suara. Para bhotho hilir mudik memantau jalannya perhitungan. Ada yang berwajah tegang, harap-harap cemas, ada yang khusu’ seolah memanjatkan doa, ada pula yang menahan senyum melihat jagoannya memperoleh suara banyak. Tampak pula Udin dan Tarjo yang juga tidak kalah tegangnya. Maklum dia berdua menjadi bintang diantara ratusan bhotho yang hadir.
“Bos celaka, jagoan kita kalah semua.” Udin melaporkan hasil perhitungan suara pemilihan kepala desa kepada sang bos, Tarmin.

“Ha…ha…ha….” Diluar dugaan, Tarmin malah ketawa keras memperlihatkan gigi-gigi emas di gerahamnya.

“Kalah kok malah ketawa Bos?” Tarjo tidak memahami prilaku bosnya yang telah memodalinya duaratusan juta untuk taruhan kepala desa.

“Goblok kamu. Kalian berdua itu hanya umpan. Saya sengaja mengarahkan bhotho-bhotho cilik itu untuk menjagokan Mulyono. Sehingga mereka nantinya yang akan menggembosi suaranya Lurah dan Haji Dullah. Kita tidak perlu berkeringat mencari suara, biar mereka yang menyogok dan membujuk saudara dan teman-temannya.” Tarmin menjelaskan dengan diiringi gelak tawa.

“Terus uangnya gimana bos?” Udin masih belum faham.

“Hahahaha… saya ini bhotho kelas kakap musuhnya pun kelas kakap. Aku megang Mulyono melawan Koh Liong, bos tambak desa sebelah. Kamu tahu tidak?” Tanya Tarmin.

Udin dan Tarjo menggeleng.

“Empat ratus juta.” Ujar Tarmin memberitahu anak buahnya.

“HA HA HA….” Tarmin tertawa sekali lagi diikuti oleh Udin dan Tarjo. Mereka mentertawakan proses demokrasi yang telah dikangkangi oleh para bhotho lurah protolan sekolah dasar. 


Ayung Notonegoro