menu

Senin, 31 Agustus 2015

Melihat Buku Dalam Hidup Tan Malaka (Sebuah Resensi)


Ada suatu keyakinan pada diri saya bahwa perubahan berawal dari membaca. Tentunya, membaca yang paling mudah adalah membaca buku. Keyakinan yang demikian memotivasi saya untuk mencari pembuktian – pembuktian empiris. Salah satu diantaranya adalah dengan membaca sejarah tokoh-tokoh besar dalam perjumpaannya dengan buku.

Dalam penelusuran tersebut, ada semacam pola yang terbentuk dalam interaksi para tokoh itu dengan buku. Mereka mengawali dengan membaca, lalu menulis dan diakhiri ditulis dalam buku. Hal ini pun berlaku dalam kisah hidup tokoh besar bangsa Indonesia, Tan Malaka.

Dalam buku “Tan Malaka: Bapak Republik Yang Dilupakan” terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) dan Tempo (cetakan ketiga: Juli 2015), pun yang menjadi fokus pembacaannya adalah perjumpaan Tan Malaka dengan bacaan dan tulisan (literasi).

Tan Malaka yang bernama lengkap Datuk Ibrahim Tan Malaka ini lahir dikalangan pemeluk Islam yang taat. Maka, tak ayal lagi, interaksi awalnya dengan aksara pun dimulai dari Al-Quran yang menjadi bacaan wajib umat Islam. Bahkan, Tan Malaka pada masa kecilnya pernah hafal Al-Qur’an, sebagaimana pengakua Zulfikar mengutip penuturan Kamaruddin, adik kandung Tan (hal. 95).

Sebagai seorang bocah yang cerdas, Tan memiliki kesempatan untuk meneruskan pendidikannya sampai ke Belanda. Pada 1913, Tan muda (usia 16 tahun) melanjutkan sekolah guru-nya di Rijkweekschool yang berada di kota Haarlem. Sebuah kota kecil di bagian utara Belanda.

Di kota inilah, interaksi Tan dengan buku menemukan momentumnya. Tempat tinggal Tan di Jacobijnestraat berdampingan dengan toko buku De Vries yang menjual buku bekas membantu gairah Tan untuk membaca. Tak hanya toko buku De Vries, tapi toko buku lainnya pun Tan kunjungi.
Tan pun mulai melahap buku-buku para filsuf dan pemikir populer kala itu. Diantaranya Thus Spoke Zarathusta dan Wille zur Macht (Will to Power) karya filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche. Begitu pula buku karya Thomas Carlyle, penulis esai ternama Skotlandia, yang berjudul The French Revolution (hal. 107).

Minatnya yang tinggi dalam membaca buku-buku politik tersebut, membuat nilai sekolah Tan Malaka menurun. Sebagaimana yang dituturkan oleh Arie de Waard, teman sekelasnya di Rijkweekschool (hal. 112).

Selain buku, Tan juga menambah bacaannya dengan beragam surat kabar. Dimana dia sering kali mendiskusikannya dengan teman-teman tempat pemondokannya. Dia membaca De Telegraf, sebuah surat kabar yang anti-Jerman dan Het Volk yang rajin menyerukan pesan anti-kapitalisme dan anti-imperialisme (hal. 107).

Gairah membaca Tan Malaka tak pernah surut. Bahkan saat tinggal di Rawajati, Kalibata, Tan Malaka kerap meyambangi Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen – sekarang Museum Nasional – untuk mencari dan membaca buku. Bila hendak kesana, Tan bangun jam setengah lima subuh lalu berangkat kesana. Sekitar pukul sembilan Tan baru sampai di museum (hal. 52).
Pergumulan Tan dengan dunian bacaan merangsangnya untuk menulis. Buku yang pertam kali ditulisnya berjudul Parlemen atau Soviet yang ditulisnya tahun 1920. Sepulangnya dari Belanda, Tan mengajar di sekolah rendah perkebunan teh Belanda di Deli. Disini, dia menulis Dasar Pendidikan (1921). Tak lama menjadi seorang guru, Tan hijrah ke Semarang. Disana Tan terlibat dalam dunia pergerakkan. Tan aktif di organisasi Sarekat Islam (SI). Dalam keterlibatannya di SI, Tan menulis “SI Semarang dan Onderwijs” (1921).
Keterlibatan Tan di SI mengantarkannya ke Belanda lagi. 13 Februari 1922 Tan Malaka dibuang ke Amsterdam, Belanda. Dalam pembuangannya, Tan aktif dalam gerakan Partai Komunis Belanda. Kemudian pada November 1922, Tan mewakili Partai Komunis Indonesia dalam Konferensi Komunis Internasiona (Komitern), di Moskow, Rusia. Setelah kongres usai, Tan diminta Karl Radek (pemimpin komitern urusan Asia) untuk menulis.
Tan dibebaskan untuk menulis apa saja. Ia pun memilih menulis tentang sejarah dan statistik yang berkaitan dengan Indonesia. Bahan-bahan tulisannya dipesankan dari Belanda. Tulisan-tulisan tersebut diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1924 dengan judul Indonezija; ejo mesto na proboezdajoesjtsjemsja Vostoke (Indonesia dan Tempatnya di Timur yang Sedang Bangkit). Setahun kemudian, buku ini kembali diterbitkan oleh Pemerintah Rusia untuk dibagikan sejumlah 5.000 ekslempar (hal. 75).
Namun, Tan tak sempat menunggu “lahirnya” buku tersebut. Tan keburu pergi ke Kanton, Tiongkok sebagai wakil Komitern untuk Asia Timur. Di Kanton (1924), Tan dipercaya untuk menerbitkan surat kabar produk Komitern dengan nama, The Dawn. Di Kanton pula, Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia).
Buku yang ditulis 1924 dan diterbitkan pertama kali pada April, 1925 tersebut merupakan buku pertama yang menggagas tentang Republik Indonesia. Ketika berada di Filipina pada 1925, Tan kembali mencetak buku ini. Lantas, buku tersebut masuk ke Indonesia dan menjadi viral dengan cara diketik ulang (bahkan sampai dengan tujuh lapis kertas karbon), dikalangan aktivis dan terpelajar.
Tak ayal, buku tersebut menjadi buku favorit para tokoh pergerakan. Ir. Soekarno, sebagaimana pengakuan Sayuti Melik, selalu membawa buku tersebut. Begitu pula Muhammad Yamin juga menyuaki buku tersebut (hal. 82-83).
Pada 1925 Tan berpindah dari Kanton ke Filipina. Di tahun itu pula Tan menyelesaikan bukunya yang berjudul Semangat Muda. Tak banyak catatan tentang buku ini. Namun kepindahan Tan ke Filipina kembali mengantarkannya pada aktivitas tulis-menulis. Dia menjadi koresponden surat kabar El Debate (hal.87).
Awal tahun 1926 Tan memasuki Singapore. Kala itu, di Indonesia, PKI sedang menggelorakan untuk melakukan revolusi melawan Kolonial Belanda. Tan yang berada dipersembunyiannya (Geylang Serai, Singapore), buru-buru menulis buku guna, menurutnya, mencegah lahirnya revolusi yang masih prematur. Namun, buku tersebut telat cetak dan tak menemui sasaran awalnya, karena revolusi keburu dibekuk Belanda (hal. 89).
Namun buku berjudul Massa Actie in Indonesia menjadi sumber inspirasi massa untuk melakukan gerakan revolusi selanjutnya. Buku setebal 129 halaman tersebut, Tan menulis tentang sejarah ringkas akan arti sebuah imajinasi bernama Indonesia. Dari buku ini, WR. Supratman terinspirasi menuliskan lagu Indonesia Raya (hal. 90).
Tahun-tahun berikutnya, Tan Malaka tetap menggerakkan revolusi dimanapun berada. Baik di dalam maupun di luar negeri seraya tetap menulis. Diantaranya adalah Manifesto Bangkok (1927), Pari dan International (1927),  Aslia Bergabung (19430, Manifesto Jakarta (1945), Politik (1945), Rencana Ekonomi Berjuang (1945), Muslihat (1945), Thesis (1946), Pidato Purwokerto (1946), Pidato Solo (1946), Islam Dalam Tinjauan Madilog (1948), Gerpolek (Gerakan, Politik dan Ekonomi) (1948), Pandangan Hidup (1948), Kuhandel di Kaliurang (1948), Pidato Kediri (1948), Proklamasi 17-8-45, Isi dan Pelaksanaannya (1948) (hal. 9).
Selain buku-buku tersebut, magnum opus dari karya-karya Tan Malaka adalah buku berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Buku tersebut ditulis sejak 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943 di Desa Rawajati, dekat sebuah pabrik sepatu di Kalibata, Jakarta. Disebuar ruangan seluas 15 meter persegi itu, Tan menuliskan gagasannya sedari pukul enam pagi sampai 12 siang. Naskah Madilog tersebut dibawa Tan berpetualang ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. (hal. 52-53).
Menurut Rizal Adhitiya Hidayat, Madilog merupakan sebuah sintesis perantauan yang dilakukan oleh Tan. Perantauan yang mengantarkannya berkenalan dengan segal dinamika pemikiran dan pergerakan. Perantauan yang berluma dari kota Haarlem, Belanda sampai di Rawajati (Hal.164-167).
Karya autobiografi Tan Malaka yang berjudul Dari Penjara ke Penjara pun menjadi karya yang melegenda. Buku berjumlah tiga jilid yang berisi tentang kisah hidup dan pemikirannya tersebut terus menjadi bacaan orang-orang yang ingin mengenal Tan Malaka. Banyak buku-buku yang menulis tentang Tan berhutang banyak pada buku tersebut.
Gerakan penulisan Tan Malaka terakhir berupa pamflet-pamflet tentang kecaman terhadap Belanda dan Soekarno-Hatta yang menolak bergerilya. Pamflet itu diterbitkannya dari Markas Murba Terpendam. Yaitu sebuah tempat persembunyian Tan pada tahun 1949 di Kediri atas ajakan seorang Mayor bernama Sabaarudin (hal. 135).
Di persembunyian terakhirnya, tepatnya di Dusun Selopanggung, Semen, Kediri itu, Tan menghembuskan nafas terakhirnya. Menurut Tolu, seorang warga Dusun Selopanggung, menceritakan bahwa dirinya melihat seseorang yang ditawan bersama tumpukan buku disebuah lumbung padi oleh  Pasukan Batalion Sikatan.  Kemudian terjadi letusan dan tahanan itu tak pernah dilihatnya kembali (hal. 128)
Kejadian di lereng Gunung Wilis itu, menurut Harry Poeze, merupakan peristiwa pembunuhan Tan Malaka oleh militer. Dimana kejadian tersebut terjadi pada tanggal 21 Februari 1949 (hal. 129).
Kematian Tan Malaka tak lantas menutup keterlibatannya dalam dunia buku. Setelah sepanjang hidupnya diisi dengan membaca dan menulis buku, sepeninggalnya pun Tan Malaka memasuki tahapan untuk ditulis dalam buku. Banyak karya yang mengupas tentang Tan Malaka, baik pemikiran maupun kisah perjuangannya. Salah satu karya yang paling otoritatif adalah buku setebal 2.200 halaman yang ditulis oleh Harry Albert Poeze. Buku yang ditulis berdasarkan hasil penelitiannya terhadap tokoh asli Minang ini dilakukan selama 36 tahun. Baru pada akhir Juli 2007, ia meluncurkannya dengan judul Vurguisd en Vergeten, Tan Malaka, de Linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949 (Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949).
Selain karya sejarah dan pemikiran, ada juga karya tulis berjenis roman-fiksi yang berkisah tentang Tan Malaka. Seperti buku berjudul Patjar Merah Indonesia (1938),  karya Hasbullah Parendurie. Adapula yang berjudul Tan Malaka di Kota Medan karya Mochtar Nasution yang diterbitkan pada tahun 1941 (hal.127).
Begitulah kisah Tan Malaka. Perjuangannya tak berhenti sebatas usianya, namun dengan buku-buku yang ditulisnya, Datuk Ibrahim Tan Malaka terus berjuang hingga kelak. Sebagaimana Tan Malaka tulis dalam bukunya, Dari Penjara ke Penjara:
“Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”  
Banyuwangi, 1 September 2015
Ayung Notonegoro (Penggiat Literasi Banyuwangi)

Kamis, 20 Agustus 2015

MERDEKA: AYO BERLITERASI

Merdeka: Penggiat Literasi Merayakan Kemerdekaan Indonesia di Puncak Ijen

“Negeri Indoensia ketika itu merdeka, tetapi penduduk Indonesia, rakyat jelata Indonesia, Marhaen Indonesia adakah ia merdeka? Marhaen Indonesia tidak pernah merdeka.” Mereka hanya menjadi perkakas saja dari raja-raja itu dengan segala bala keningratannya...”

Penggalan dari buku Mencapai Indonesia Merdeka, tulisan Ir. Soekarno itu dibacakan oleh Saifudin Zuhri – kelak dia menjadi Menteri Agama, begitupula anaknya yang bernama Lukman Hakim Saifudin juga menjadi Menteri Agama RI untuk saat ini - dihadapan para pengurus takmir masjid. Kemudian para takmir itu berdiskusi tentang kemerdekaan dan penjajahan. [1]

Kisah masa kecil KH. Saifudin Zuhri yang ditulis autobiografinya, Berangkat Dari Pesantren, itu menggambarkan bahwa dunia literasi ikut memainkan peran penting dalam mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Dengan segala keterkungkungan penjajah Belanda, media tulis menulis menjadi solusi. Lewat tulisan – tulisan, baik berupa buku, koran ataupun pamflet – gagasan kemerdekaan, propaganda perlawanan terhadap penjajah dan hal ihwal upaya pencerdasan segenap anak bangsa disebarkan.

Setelah era politik etis – akhir abad ke-19 – yaitu dengan dibukanya lembaga pendidikan (sekolah) yang mengajarkan cara membaca dan menulis dalam huruf latin, perkembangan dunia literasi latin pun bergeliat. Pada awal kebangkitan nasional, hampir setiap organisasi atau kumpulan apapun mempunyai produk literasi. Baik berupa buku, jurnal, majalah ataupun koran. Misalnya, dr. Wahidin Soedirohoesodo (1857-1917) – inspirator berdirinya organisasi Budi Utomo – menerbitkan majalah Ratnadoemilah. Adapula jurnal Bintang Hindia yang diterbitkan pertama kali di Belanda pada tahun 1902 oleh Abdul Rivai (l. 1871). Dan banyak lagi terbitan lainnya.

Memang pada beberapa dekade menjelang kemerdekaan (1900-1930) itu, tak banyak orang yang bisa membaca huruf Latin. Sebagaimana sensus yang dilakukan pemerintah kolonial pada tahun 1930, jumlah penduduk seluruh kepulauan di Indonesia tak lebih dari 7,4 % saja. Perinciannya: di Sumatera 13,1 %, di Jawa dan Madura 6% serta di Bali dan Lombok 4%. Dan presentase terbesar berada di Ambon yang mencapai 50% [2]. Namun hal tersebut tidak menghalangi rakyat Indonesia untuk berliterasi.

Sebagaimana dikisahkan oleh Saifudin Zuhri diawal tulisan ini, orang yang bisa membaca bertugas untuk membacakan buku tersebut didepan para audien yang tidak bisa mengakses bacaan. Kemudian yang mendengarkan itu mendiskusikannya antar sesama pendengar dan pembaca itu sendiri. Proses yang demikian tak ubahnya sistem pengajaran di pesantren, yaitu sistem bandongan. Sistem bandongan adalah sistem pembelajaran kitab kuning di pesantren dimana qori (pembaca kitab), membacakannya dihadapan para santri.

Namun sebenarnya, peranan literasi dalam membangun kesadaran nasional dan kemerdekaan serta perlawanan terhadap penjajah tidak hanya baru muncul pada awal abad ke-20 saja. Sebelum diterapkannya politik etis yang mengajarkan aksara Latin, penduduk Indonesia sejatinya telah berliterasi. Baik dengan menggunakan aksara Jawa, aksara Pegon maupun aksara Arab.

Proses literasi dalam kerangka melawan penjajah berkembang pada abad ke-17. Banyak karya tulis yang mengabadikan dan menyerukan perlawanan terhadap penjajah. Diantaranya adalah karya Syekh Abdus Samad al-Falimbani (1116 -1203 H / 1704-1788 M), yang berjudul Nasihatul Muslimin wa Tazkiratul Mukminin fi Fada’ilil Jihad fi Sabilillah wa Karamatil Mujahidin (Nasihat bagi orang-orang muslim dan pengingat bagi orang-orang mukmin tentang keutamaan jihad di jalan Allah dan kemulyaan orang-orang yang berjihad). Kitab yang ditulis menggunakan aksara dan bahasa Arab ini sendiri merupakan kajian dalam bidang fiqih dan tasawuf, namun sarat dengan seruan untuk melawan penjajahan. Dari kitab inilah, salah satu pahlawan nasional dari Aceh, Tengku Cik Di Tiro terinspirasi untuk melakukan perlawan terhadap penjajah [3].

Di Indonesia timur juga muncul banyak karya tulis yang menyerukan tentang perlawanan terhadap penjajah. Rijali, seorang penulis asal Ambon, menulis Hikayat Tanah Hitu, dalam bahasa Melayu dan menggunakan aksara Arab Pegon yang mekonstruksi sejarah Ambon, dimana meletakkan Portugis dan Belanda sebagai penjajah “kafir” yang harus dilawan. Di Makasar juga muncul karya literasi berjudul  Syair Prang Makasar yang dianggit oleh Encik Amin. Tulisan tersebut menggunakan aksara Arab Pegon dan bahasa Melayu. Isinya berupa pujian pada Pangeran Hasanudin yang melawan penjajah Belanda [4].

Pasca perang Jawa (1725 – 1730 M), banyak para pengikut Pangeran Diponegoro yang notabane-nya adalah para ulama dan pendakwah mengubah stategi perlawanan terhadap penjajah. Selain masih menggunakan konfrontasi fisik, mereka juga mulai melakukan kaderisasi strategis dengan mengedepankan pendidikan (pesantren). Lewat pesantren itulah, dunia literasi sebagai bagian dari perjuangan melawan penjajah dilaksanakan.

Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Kyai Abdus Salam. Selain seorang pendekar pilih tanding, eks pasukan Pengeran Diponegoro ini juga merupakan juru dakwah dan ulama. Usai ditangkapnya Pangeran Diponegoro, Kyai Abdus Salam menggeser area perjuangannya dari Tegalrejo menuju ke arah timur, Tambakberas Jombang. Disini beliau mendirikan pesantren yang kelak dikenal dengan pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang. Dari keturunan Kyai Abdus Salam dikemudian hari lahir para faunding faather bangsa Indonesia. Diantaranya adalah KH. Hasyim Asyari dan KH. Wahab Hasbullah yang kelak memprakarsai resolusi jihad pada perang kemerdekaan [5].

Keberadaan pesantren kala itu, tidak hanya mengajarkan literasi ilmu-ilmu keagamaan saja. Namun, beragam ilmu militer guna melawan penjajah juga diajarkan. Diantara naskah yang diajarkan dan kemudian dirampas Belanda dan kini tersimpan di perpustakaan Lieden, yaitu satu teks dengan kode Lor 5738 bis yang berjudul Mbedil (menembak) [6].

Ilmu-ilmu kemiliteran ini, dipelajari dari teks-teks Spanyol-Portugis dan Turki-Utsmaniyah yang diterjemahkan oleh kalangan santri-mustami’ (meminjam istilah Ahmad Baso), di Bontoala-Makasar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Bugis dan Makasar. Diantara teks tersebut ditulis oleh komandan artileri Raja Katela (spanyol), Andrea Ri Monyona dibuat pada tahun 1635 dan 1652. Dan juga tulisan Haji Bankatasi (dialek Bugis dari Haji Bektash), yang merupakan komandan artileri Kesultanan Turki Utsmani asal Anatolia [7].

Banyaknya pesantren yang menjadi basis perlawanan terhadap penjajah, membuat Belanda seringkali melakukan razia ke pesantren. Salah satu diantara targetnya adalah dengan merampas kitab-kitab pesantren yang menjadi media perjuangan literatif. Sebagaimana sebuah surat yang ditulis oleh Snouck Hurgronje tentang perampasan ini:

“Akhirnya saya memperoleh sejumlah naskah yang saya bawa dari Hindia-Belanda untuk saya sampaikan. Berikut ini terlampir koleksi naskah-naskah yang sebagian berbahasa Arab, sebagian lagi dalam bahasa Jawa (dalam huruf Jawi atau Arab Pegon). Beberapa tahun lalu naskah-naskah itu saya peroleh sari kota Serang (Banten) yang sebelumnya tersimpan dan ditahan selama 16 tahun, yang kemudian saya bawa ke Batavia. Kebanyakan naskah-naskah tersebut bertema keagamaan, yang disita dari seorang pribumi yang dituduh melakukan agitasi anti pemerintah [kolonial].” [8].

Dari fakta sejarah diatas dapat disimpulkan bahwasannya literasi memiliki peranan yang tidak kecil dalam mencapai kemerdekaan bangsa ini. Dengan literasi menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemerdekaan dan perjuangan melawan penjajah serta peningkatan aneka ragam ilmu pengetahuan. Maka, diperingatan 70 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia kali ini, kesadaran akan pentingnya literasi pun harus kembali digalakkan. Membaca dan menulis tentang penyadaran dan pencerdasan kehidupan bangsa menjadi instrumen penting dalam mengisi kemerdekaan ini.

Ayo berliterasi...!

Ayung Notonegoro
Penggiat Literasi

Fotenoot:
1.      Berangkat Dari Pesantren, KH. Saifudin Zuhri, LkiS: Yogyakarta, Cet. 1, 2013. Hal. 99 – 102.
2.      Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008 (terjemah), MC. Ricklefs. Serambi: Jakarta, Cet. 1, 2008. Hal. 346.
3.      Ensiklopedi Penulis Pesantren: Biografi Singkat Para Penulis Pesantren (Mulai Abad 14 Hingga 21 Masehi), A. Mubarok Yasin. Pustaka Tebuireng: Jombang, Cet. 1, 2009. Hal. 39-41.
4.      Pesantren Studies 2a, Ahmad Baso, Pustaka Afid: Jakarta, Cet. 2, 2013. Hal. 275
5.      Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad, Zainul Milal Bizawie. Pustaka Compass: Jakarta. Cet. 1. 2014. Hal.50-51
6.      Ibid, Ahmad Baso. Hal. 303
7.      Ibid, Ahmad Baso. Hal. 275-276.
8.      Naskah surat asli tersebut dapat dilihat di , Witkam, Inventory, vol.6 hal.159-60. Diterjemahkan oleh Ahmad Baso dalam catatan kaki buku Pesantren Studies 2a, halaman 144.



Minggu, 28 Juni 2015

PETUALANGAN KITAB TA'LIMUL MUTA'ALLIM

Kitab Ta'limul Muta'allim

Siapa yang tak mengenal dengan kitab Ta’limul Muta’alim ? Ya, hampir semua orang yang pernah berkecimpung di dunia pendidikan pesantren mengenal dengan kitab ini. Kitab yang berisi tentang tata cara dan etika menjadi seorang penuntut ilmu ini seakan menjadi kitab wajib yang harus diajarkan kepada para santri. Terutama para santri baru.

Kitab yang ditulis oleh Syekh al-Zarnuji ini ditulis sekitar abad ke-VI Hijriyah. Tak ada catatan pasti tentang kapan awal kali ditulisnya kitab tersebut. Hal ini sama misteriusnya dengan biografi penulisnya sendiri. Al-Zarnuji sendiri bukanlah nama yang spesifik mengacu terhadap satu orang. Al-Zarnuji adalah nama yang disandangkan berdasarkan daerah asal si penulis, yaitu daerah Zarnuj. Daerah ini menurut al-Quraisy dalam al-Jawahirul Mudliah diduga berada di daerah Iraq. Sedangkan menurut Yusuf al-Hamawi dalam Mu’jamul Buldan diduga berada di daerah Turkistan yang kini masuk wilayah Afganistan.

Tak ada identitas lain yang bisa dilacak dari Syekh al-Zarnuji. Hanya ada beberapa nama gurunya yang tertulis dalam kitab Ta’limul Muta’alim  tersebut yang bisa dilacak. Seperti Burhanuddin Ali bin Abu Bakar al-Marghinani (w. 593 H / 1197 M), Ruknul Islam Muhammad bin Abu Bakar yang terkenal dengan nama Imam Zadeh (w. 573 H / 1177 M), Syekh Hammad bin Ibrahim (w. 576 H / 1180 M), Syekh Fakhruddin al Kasyani (w. 587 H / 1191 M), Syekh Fakhruddin Qadli Khan al Ouzjandi (w. 592 H / 1196 M), dan Rukhuddin al Farghani (w. 594 H / 1198 M). Kesemuanya adalah ulama fiqih bermadzab Hanafiyah. Dapat diduga Syekh al-Zarnuji ini pun adalah seorang ahli fiqih dari madzab Hanafiyah pula.

Perjalanan kitab yang berjudul lengkap Ta’limul Muta’alim Thariqatut Ta’allum  tersebut pun tak ada catatan yang menjelaskan. Baru pada tahun 996 H, Syekh Ibrahim bin Ismail menuliskan syarah (penjelas) untuk kitab tersebut. Dalam syarah yang berjudul sama tersebut, Syekh Ibrahim bin Ismail menjelaskan bahwa kitab tersebut adalah kitab populer dilingkungan pendidikan kala itu. Terutama pada Kerajaan Ottoman dibawah pemerintahan Sultan Murad III (Murad Khan bin Salim Khan). Sultan Murad III sendiri memimpin pada rentang waktu 908 – 1003 H / 1574 – 1595 M.

Dalam catatan Yusuf Alyan Sarkis pada Mu`jam al-matbu`at al-`arabiyah wa-al-mu`arrabah menjelaskan perjalanan panjang kitab Ta’limul Muta’alim tersebut. Naskah kitab tersebut diketahui pertama kali dicetak di Jerman pada tahun 1709 oleh seorang orentalis bernama Ralandus. Kemudian pada tahun 1838 M dicetak ulang oleh orentalis Jerman, Kaspari di kota Liepzig, Jerman. Dalam edisi ini mendapatkan catatan tambahan oleh M. Plessner. Diketahui pula pada tahun 1265 H dicetak  di Marsadabad. Lalu, dicetak di Qazan pada tahun 1898 M dengan format 32 halaman. Lantas pada tahun 1901 M dicetak dengan masih 32 halaman namun dengan sedikit penambahan dihalaman belakang.

Kitab ini juga ditemukan dicetak di Tunisia pada tahun 1286 H dengan format 40 halaman. Lalu, di Tunisia Astana pada tahun 1292 H berubah menjadi 46 halaman dan tahun 1307 H diringkas menjadi 24 halaman saja. Sedangkan di Mesir baru diketahui dicetak pada tahun 1300 H dengan format 40 halaman, lalu pada tahun 1307 H membengkak menjadi 52 halaman dan bertahan sampai cetakan pada tahun 1311 H. Perbedaan jumlah halaman tidak dipengaruhi isi kitab yang berubah, hanya disebabkan oleh penggunaan huruf dan tata letak saja.

Haji Khalifah dalam Kasyfud Dhunun juga mencatat kitab tersebut pernah dialihbahasakan dalam beberapa bahasa. Diantaranya dalam bahasa Turki oleh Abdul Majid bin Nushuh bin Israel dengan judul Thalibin fi Ta’limil Muta’allimin.

Petualangan di Indonesia

Lantas, bagaimana naskah kitab Ta’limul Muta’alim bisa sampai ke Indonesia? Ada beberapa asumsi yang disampaikan. Pertama, diduga kitab ini masuk ke nusantara bersama dengan masuknya Islam awal yang dibawa oleh Wali Songo. Menurut Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menilai aturan tata krama dalam Ta’limul Muta’alim menyerupai aturan Guru Bakti. Yaitu sistem pendidikan yang menjadi cikal bakal pesantren.

Sedangkan ada pula yang menduga masuknya kitab tersebut bersama dengan meningkatnya intensitas pendidikan ke Timur Tengah. Yaitu berkisar pada abad ke-XVIII akhir dan ke-XIX. Adapun jika dilihat dari kemadzaban, diduga kitab ini masuk lebih akhir. Syekh az-Zarnuji  yang bermadzab hanafiyah masuk akhir-akhir ini, karena pada dasarnya Islam di Nusantara menganut madzab syafi’iyah.

Terlepas dari awal masuknya kitab tersebut ke Nusantara, namun penyebarannya begitu masif. Selain banyak dikaji di pesantren – pesantren salaf hingga saat ini, juga banyak karya yang dilahirkan oleh ulama Indonesia. Ada sebuah naskah yang dikeluarkan oleh Penebit Al Miftah, Surabaya yang berupa naskah berharakat (musyakalah). Lalu ada pula karya KH. Hammam Nasiruddin dari Grabag, Magelang yang menerbitkan naskah kitab ini dalam format bahasa Jawa dengan makna jenggot. Yaitu sistem pemaknaan yang dituliskan artinya dibawah kalimat yang diartikan dengan huruf Arab Pegon dengan model italic.

Makna Gandul: Arab Pegon yang tertulis italic ke bawah

Terjamah terbitan Menara Kudus


Adapula terjemah kitab Ta’limul Muta’allim karya Drs. Aly As’ad, MM dengan judul Terjemah Ta’limul Muta’allim Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan. Buku yang diterbitkan oleh Menara Kudus. Buku yang pertama kali dicetak pada tahun 1976 tersebut telah mengalamai cetak ulang berulang kali. Pada tahun 2007 saja telah mencapai cetak ulang ke-27.


Dan begitulah sekelumit petualangan kitab Ta’limul Muta’allim di dunia pendidikan Islam. Kitab tersebut terus bergulir menebar manfaat hingga batas yang jauh ke depan. Selama pendidikan pesantren masih eksis, maka selama itu kitab Ta’limul Muta’allim akan terus dipergunakan.

Ayung Notonegoro
Penggiat Literasi

Kamis, 25 Juni 2015

ADA EKSAK DI PESANTREN

suasana pembelajaran pesantren tempo dulu

Ketika berbicara pesantren maka yang terbayang adalah hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam saja. Mulai dari pelajaran tentang al-Qur’an, ibadah, fiqih, tasawuf, akhlaq, dan hal-hal komplementer seperti pelajaran bahasa Arab dan sejarah Nabi. Namun ternyata pesantren-pesantren dahulu ketika sebelum penjajahan Belanda tidak hanya melulu mengajarkan tentang seluk-beluk agama saja.

Pesantren kala itu, benar-benar menjadi pusat pendidikan masyarakat Nusantara. Baik dalam pendidikan agama maupun pendidikan yang bersifat duniawi. Sebut saja pelajaran-pelajaran ilmiah atau biasa dikenal dengan ilmu eksak.

Setidaknya hal ini terlihat dari buku – buku yang beredar dikalangan pesantren pada masa – masa itu. Banyak ditemukan teks – teks khas pesantren yang membahas tentang ilmu kedokteran, biologi, geografi, astronomi, bahkan tentang ilmu teknik. Selain ditulis dalam bahasa Arab, buku – buku tersebut juga banyak yang ditulis dengan huruf Arab Pegon dengan bahasa pengantar Melayu atau Jawa.

Dalam bidang kedokteran, misalnya, ada beberapa teks yang tersimpan di Perpustakaan Lieden. Teks dengan kode LOr 5684 yang berjudul Kitab al-Mawahib al-Laduniyah fil Minah al-Muhammadiyah yang ditulis oleh al-Qastallani dalam bahasa Arab yang berisi tentang perihal kedokteran. Begitu pula teks Lor 5777 ditulis dengan model tembang dalam bahasa dan tulisan Jawa yang mengupas diantaranya adalah penyakit pes.

Ada pula satu teks dengan kode Lor 5606 yang membahas tentang palmoscopy, yaitu cabang ilmu kedokteran dan fisiognomi. Dalam teks berbahasa Jawa dan menggunakan huruf pegon tersebut, palmoscopy disebut dengan ilmu ikhtilaj. Ilmu ini membahas tentang gejala suatu penyakit dan tanda-tandanya.

Di Museum Pusat (Perpustakaan Nasional Jakarta), ada juga teks dengan kode MI 832. Teks tersebut ditulis dengan bahasa Melayu aksara Arab Pegon. Judulnya adalah Kitab Tib, tebal 440 halaman dan membahas perihal manusia dan pengobatannya, jenis-jenis penyakit dan juga tentang membuat jimat.
Dina Nawangningrum, dkk dalam tulisannya di jurnal Makara; Sosial Humaniora, vol.8, no.2, Agustus 2008 dengan judul “Kajian Terhadap Naskah Kuna Nasantara Koleksi Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia: Penyakit dan Pengobatan Ramuan Tradisional” mengupas lebih banyak.  Ada delapan naskah yang diteliti yang ditulis dengan  Arab Pegon berbahasa Melayu dan berbahasa Jawa. Dari teks berbahasa Melayu diidentifikasi ada 118 penyakit, sedangkan dalam teks berbahasa Jawa ada 282 penyakit. Adapun tanaman obat yang diidentifikasi ada 500 jenis dalam bahasa Jawa dan 265 jenis tanaman obat pada teks bahasa Melayu.

naskah kuno pesantren

Tak hanya dalam bidang kedokteran, ada pula ilmu Matematika. Dalam Perpustakaan Nasional Jakarta ada teks ilmu matematika dalam bahasa Arab berjudul Mukhtashar fi Ilmi-l-Hisab dengan kode A 455a dan 455b. Ada pula teks kode A 436 dengan judul an-Nuzhah fli Ilmi-l-Hisab. Demikian pula, dalam koleksi naskah A 655 ada teks dengan judul Jadawilu Ilmi-l-Faraidh karangan Ahmad bin Muhammad bin Ali Ibnu al-Ha’im (w. 815 / 1412). Teks – teks tersebut berisi penerapan rumus – rumus aritmatika.

Sedangkan pada naskah MI 262 berbahasa Melayu dengan aksara Arab Pegon dari abad 19 koleksi Perpustakaan Nasional berisi tentang ilmu bumi (geografi). Dalam naskah yang setebal 31 halaman tersebut terdiri dari 22 pelajaran. Dalam ilmu biologi pesantren banyak belajar dari Kitab Ajaibul Makhluqat wa Gharai’bul Maujudat yang ditulis oleh Syekh Zakariya bin Muhammad al-Qazwini (w. 682 / 1283). Naskah ini berada di Perpustakaan Nasional dengan kode  A 413 berbahasa Arab yang berasal dari abad ke-19.

Naskah – naskah tersebut, meski sudah tidak dipelajari lagi di pesantren saat ini, begitu identik dengan pesantren. Pola penulisan dengan menggunakan huruf Arab Pegon diperkenalkan dan dikembangkan oleh masyarakat pesantren. Huruf Arab Pegon tersebut masih dapat dikenal di pesantren dewasa ini.

Ilmu eksak yang dikembangkan di pesantren sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Pesantren selain mengelaborasi khazanah keilmuwan asli Nusantara juga melanjutkan keilmuwan Islam di Timur Tengah. Berbicara keilmuwan Islam di Timur Tengah maka akan banyak jejak ilmuwan muslim yang menekuni  ilmu pasti disamping ilmu agama. Sebut saja Ibnu Sina atau dikenal dengan nama Avicena.

Ibnu sina yang lahir tahun 980 M semasa Dinasti Samaniyah adalah seorang ulama dan juga ilmuwan. Pada usia 10 tahun Ibnu Sina telah berhasil menghafalkan al-Qur’an. Karirnya semakin cemerlang dalam berbagai bidang, mulai filsafat, matematika, astronomi, dan kedokteran. Pada bidang terakhir itulah Ibnu Sina mencapai puncak karir akademisnya dengan masterpiece-nya berjudul al-Qonun fil Thibb. Buku tersebut menjadi salah satu buku pelajaran standar di Eropa selama enam abad setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Menurut Nancy G. Siraisi dalam Avicenna in Renaissance Italy (Princenton University Press, 2005), buku Ibnu Sina tersebut diterbitkan sampai 60 edisi dari tahun 1500 sampai 1674 M.

Pesantren dewasa ini, umumnya kurang memperhatikan terhadap keilmuwan eksak. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh penjajahan Belanda yang berlangsung ratusan tahun. Banyak aturan yang diterapkan oleh penjajah Belanda dalam rangka memangkas kehebatan pesantren. Pesantren yang dulu kala menjadi basis perlawanan terhadap penjajah Belanda mengakibatkan Belanda berupaya keras untuk mengkerdilkan pesantren. Diantara upayanya adalah merazia buku-buku yang berpotensi menggelorakan perlawanan dan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Pesantren pun diarahkan hanya berkutat pada bidang keagamaan saja. Lambat laun pun kajian pesantren dibidang eksak semakin memudar.

Daftar Pustaka:

Ahmad Baso, Pesantren Studies 2a, Jakarta: Pustaka Afid. 2013

Ehsan Masood, Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern, Jakarta:   Gramedia. 2009.

 Ayung Notonegoro
 Pegiat Literasi

Rabu, 24 Juni 2015

PETHUK, PAHLAWAN LITERASI ISLAM NUSANTARA

Santri dan tumpukkan kitab kuning produksi Pethuk
Bulan Ramadhan, bagi santri pesantren, adalah waktunya huduran. Yaitu ngaji kilatan beberapa kitab kuning. Biasanya yang populer dikaji adalah kitab pethuk-an. Yaitu kitab yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren Hidayatut Thullab yang berada di Dusun Pethuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Pesantren Hidayatut Thullab atau lebih dikenal dengan Pesantren Pethuk layak disebut dengan pahlawan literasi bagi keberlansungan Islam Nusantara. Bagaimana tidak, Pesantren Pethuk tersebut banyak memproduksi kitab kuning yang menjadi langganan pesantren – pesantren di Indonesia. Bahkan konon juga dipergunakan di luar negeri seperti Malaysia, Brunai, Singapore, sampai Mesir.

Kutib kuning produksi Pesantren Pethuk dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama kitab yang dikenal dengan sebutan kitab bima’na Pethuk. Kitab ini adalah kitab kuning pada umumnya karya ulama Timur Tengah maupun ulama asli Nusantara. Misalnya, seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali atau kitab Sirajuththalibin anggitan KH. Ihsan Jampes. Uniknya, kitab – kitab tersebut, tidak seperti umumnya kitab kuning yang tampak kosong tanpa harakat. Kitab kuning keluran Pethuk telah diberi makna gandul. Yaitu makna kitab dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab Pegon.

Kitab bima’na Pethuk ini sangat membantu para pengkaji kitab yang memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa Arab. Selain itu, kitab jenis tersebut juga sering dijadikan muqabbalah  (pembanding), bagi para pengkaji kitab kuning ketika mengkaji kitab yang sama.

Jenis kedua yang diterbitkan Pesantren Pethuk adalah kitab karya pengasuh maupun santri senior di pesantren tersebut. Yaitu kitab dengan tema – tema tertentu yang bertema ringan. Biasanya berkisar antara 60 sampai 100 lembar. Diantara judul-judul kitabnya seperti Tafsir Surat Yasin, Tafsir Muqaddimah Al-Fatihah, Tafsir Muawwidzatain, Masailus Shiyam, Mauidotun bil Hikayah, dan lain sebagainya.

Menariknya, kitab-kitab jenis kedua ini berbentuk nukilan-nukilan dari berbagai sumber kitab muktabarah. Dari puluhan kitab dikutip pada bagian-bagian yang sesuai dengan tema kitab yang dibahas. Misalnya kitab Masailus Shiyam. Kitab tersebut berisi permasalahan seputar puasa, dimana isinya berupa permasalahan yang jawabannya berupa kutipa-kutipan dari kitab-kitab fiqih yang sudah masyhur. Seperti Ianatuth Tholibin, Al-Majmu’, Fathul Wahab dan lainnya.

Karena kitab-kitab tersebut merupakan nukilan dari sekian kitab-kitab, maka istilah yang dipergunakan penulisnya bukanlah muallif  (penulis), sebagaimana kitab kuning pada umumnya. Namun menggunakan istilah jama’a (mengumpulkan). Biasanya, sebelum diterbitkan kitab-kitab tersebut di-tashhih kebenarannya oleh KH. Idris Marzuki, pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri.

Kitab Pethuk jenis kedua ini cocok untuk pemula. Santri baru yang pertama kali bersentuhan dengan kitab kuning dan memaknai dengan huruf pegon amat terbantu dengan kitab jenis ini. Selain penggunaan kosakata da susunan gramatika bahasa Arabnya yang sederhana, juga tata letak hurufnya menggunakan font yang agak besar dan spasi yang cukup luas dibanding kitab kuning umumnya. Jadi, para santri baru dapat dengan mudah memaknai gandul.

Contoh kitab kuning terbitan Pethuk
Pesantren Pethuk dengan kitab kuningnya tidak terlepas dari sosok pendiri dan pengasuhnya, KH. Ahmad Yasin Asymuni. Beliau adalah alumni Pesantren Lirboyo, Kediri. KH. Asymuni merasa prihatin dengan nasibnya ketika di pesantren. Tak banyak kitab yang berhasil dipelajarinya karena untuk menghatamkan satu kitab membutuhkan rentang waktu yang lama. Pengalaman itulah yang mendorongnya untuk memproduksi kitab – kitab yang telah diberi makna sebagaimana waktu mengaji dulu (kitab bima’na pethuk).
Keprihatinan tersebut mulai direalisasikannya ketika mulai mendirikan Pesantren Hidayatut Thullab. Pesantren tersebut didirikan sejak tahun 1993. Semenjak itu pula produksi dua jenis kitab sebagaimana diatas dimulai. Rata-rata setiap tahun ada sepuluh judul kitab yang diproduksiya. Sampai tahun 2013 kemarin Pesantren Pethuk telah menghasilkan 188 judul kitab karya sendiri.
Tata kelola penerbitan kitab diurus langsung oleh koperasi pesantren. Omzet harian rata-rata satu juta, namun ketika menjelang Ramadhan bisa mencapa tiga sampai empat juta per hari. Hal ini karena banyaknya pesantren atau majlis taklim yang menyelenggarakan pengajian kilatan dengan mengkaji kitab-kitab Pethuk ini.

Sekali lagi, Pesantren Pethuk layak dianugerahi sebagai pahlawan literasi bagi Islam Nusantara. Bagaimanapun Islam Nusantara tidak bisa terlepas dari namanya kitab kuning. Kitab kuning bagi penganut maupun penggiat Islam Nusantara adalah referensi utama. Sudah barang tentu nasib Islam Nusantara bergantung pada keberlansungan kitab kuning. Atau jika dirunut, bergantung pada penggiat kitab kuning seperti halnya Pesantren Pethuk.


Ayung Notonegoro, Penggiat Literasi

Rabu, 27 Mei 2015

Si Kutu Buku dan Sang Putri


Pernikahan: John Nash dan Alicia

Buku memang tak ubahnya dunia lain. Ketika bisa masuk dan tenggalam dalam lautan aksara, seseorang bisa saja mengabaikan dunia nyatanya. Dia akan kesulitan untuk bersosialisasi dan ujung-ujungnya akan mengantarkannya pada kejombloan akut. Memang tidak semua begitu, tapi setidaknya ini berlaku pada kisah si kutu buku, John Forbes Nash Jr.

John Nash lahir tertanggal 13 Juni 1928 di Bluefield, West Virginia Amerika Serikat. Ia lahir dari pasangan John Nash Sr, seorang electrical engineer dan Margaret Virginia Martin, seorang guru Bahasa Inggris dan Latin. Terlahir ditengah keluarga terpelajar, John Nash junior mendapatkan bimbingan yang menekankan pada ilmu pengetahuan.

Sejak kecil John Nash dijejali oleh bapaknya dengan buku-buku teknik. Dengan sendirinya pun Nash tenggelam dalam aksara dan angka. Keranjingan membaca membentuk John Nash junior menjadi pribadi yang tak pandai bersosialisasi. Tak heran jika banyak teman sejawatnya yang menganggap John Nash sebagai pribadi yang aneh dan sombong.

Cibiran dari teman-temannya tak mempengaruhi kebiasaan John Nash membaca. Berawal dari kebiasaannya membaca itulah, John Nash membentuk “masa depannya” yang terinspirasi buku Eric Temple Bell berjudul Men of Mathematic. Buku yang membahas tentang matematika ini, memberikan motivasi kepada John Nash untuk menggeluti matematika yang kelak akan mengantarkannya menjadi seorang profesor dan meraih penghargaan Nobel.

Beasiswa dari Westinghouse yang dimenangkannya mengantarkan John Nash untuk mengenyam kuliah di Institut Teknologi Carnegie. Disinilah John Nash meraih gelar sarjana dan gelar masternya pada tahun 1948. Kecerdasannya yang luar biasa terus ditempa oleh John Nash di Universitas Princeton. Di kampus ini, puncak kegemilangan pemikiran John Nash memancar.

Tatkala teman-teman sekelasnya telah menentukan judul tesisnya, John Nash masih belum menentukannya. Sungguh aneh, John Nash yang terkenal dengan begitu cerdasnya belum menemukan judul tesis yang akan diajukan untuk meraih gelar Ph.D. John Nash berhari-hari mendekam di perpustakaan, bergelut dengan buku-buku. Dia ingin menuliskan sebuah tesis yang benar-benar original. Tanpa terpengaruh oleh hasil penelitian ilmuwan matematika lainnya. Albert W. Tucker, profesor pembimbingnya bahkan sampai menyarankan untuk mencari judul yang lebih mudah dikerjakan.

Kegigihan John Nash tidak sia-sia. Setelah banyak waktu dihabiskannya menelusuri referensi dan riset, John Nash berhasil menemukan suatu pemikiran yang orisinil (Original thinking) ketika menikmati segelas teh bersama teman sekamarnya. John Nash menemukan suatu teori permainan yang dikenal dengan Equilibrium Nash. Tak begitu tebal hasil penelitiannya tersebut. Penelitian yang diberi judul Equilibrium Points in N-person Games itu mengantarkannya mendapatkan gelar Ph.D diusianya yang baru menginjak 22 tahun.
Setelah lulus, John Nash memilih untuk mengabdikan diri di kampusnya, Massachusetth Institute of Technology (MIT) Universitas Princeton. Dia menjadi staf pengajar dan melakukan beberapa penelitian yang fenomenal. Pada 1953 John Nash menulis tentang ekonometrika yang konon lebih hebat dari metafora infisible hand-nya Adam Smith.

Namun dibalik kegemilangan intelektualitas John Nash dia tak lebih hanya seorang kutu buku yang hidup dilembaran aksaranya. Kesulitannya bersosialisasi membuatnya pun sulit untuk mendapatkan seorang kekasih. Pernah pada suatu saat John Nash hanya berdansa dengan setumpuk kursi karena begitu sulitnya meraih pasangan. Perawakannya sebagai anak veteran perang dunia pertama, John Nash dianugerahi badan yang tegap dan wajah yang rupawan. Namun, ketampanan dan kecerdasannya tertutup dengan sikap dinginnya terhadap lawan jenis. John Nash pun tetap menjomblo dikarir intelektualitasnya yang gemilang.

Sang Putri

Udara Amerika sedang panas, begitu pula di Universitas Princeton. John Nash dengan setumpuk buku dan wajah yang kaku masuk ke dalam kelas. Seperti biasanya, pintu dan jendela kelas semuanya ia tutup untuk mengurangi kebisingan. Udara yang panas dan jendela yang tertutup membuat suasana kelas semakin pengap. Para mahasiswa taka da yang berani menegur, kecuali satu orang mahasiswi.

Seorang mahasiswi dengan paras ayu dan penampilan yang begitu elegan, tiba-tiba maju kedepan. Membuka jendela yang sebelumnya ditutup oleh John Nash. Tatapan wanita jelita itu lekat ke pelupuk mata sang profesor. Kejengkelan John Nash pun sirna dengan kelembutan tutur kata gadis itu. Ya, dialah Alicia, sang putri.

Alicia bernama lengkapAlicia Lopez-Harrison de Lardé. Dia adalah perempuan jelita keturunan bangsawan El Salvador. Gadis kelahiran tahun 1933 itu adalah salah satu dari 16 perempuan angkatan pertama di M.I.T tahun 1955. Mahasiswi fakultas fisika nuklir ini lah yang kelak akan menjadi sang putri bagi si kutu buku ini.
Pada suatu saat, Alicia mengumpulkan tugas tatkala John Nash sedang berada di perpustakaan. Tak hanya mengumpulkan tugas, Alicia juga mengajak makan malam John Nash. Itulah awal mula John Nash berkencan dengan seorang perempuan. John Nash dan Alicia pun merajut hubungan asmara. Dan pada tahun 1957 keduanya melansungkan pernikahan.

Pernikahan seorang profesor jenius nan tampan dengan seorang putri bangsawan jelita nan cerdas, John Nash dan Alicia menjadi pernikahan yang luar biasa. Semua orang pun akan mendambakannya. Namun ternyata tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1959 kala Alicia mengandung, John Nash dideteksi mengidap penyakit Schizophrenia. Penyakit yang menyerang kesadaran seseorang ini, mengantarkan John Nash mendekam di rumah sakit jiwa. Akhirnya, Alicia memutuskan untuk bercerai dengan John Nash pada tahun 1963.

Meski bercerai Alicia tetaplah sang putri bagi si kutu buku. Alicia terus merawat dan menemani John Nash yang hidup dalam halusinasi itu. Dengan mengorbankan tenaga, karir dan hartanya Alicia mendampingi John Nash. Keikhlasan dan ketulusan Alicia pun membuahkan hasil. Berangsur-angsur kesadaran John Nash pulih. 

Seiring sembuhnya John Nash, mereka pun kembali rujuk, tepatnya pada tahun 1990. John Nash pun kembali menemukan kejeniusannya. Kiprah intelektualnya kembali dibangun. Dan pada tahun 1994, ia bersama  Reinhard Selten dan John Harsanyi mendapatkan penghargaan Nobel dalam bidang ekonomi. Dan pada tahun 2015, John Nash bersama Louis Nirenberg meraih penghargaan Abel atas penelitiannya mengenai persamaan diferensial parsial nonlinier.

****

Si kutu buku jenius itu kembali merengkuh kebahagiaan bersama sang putrinya. Kebersamaan mereka pun abadi sepanjang masa tatkala sebuah taksi yang mengangkut keduanya terlibat kecelakaan lalu lintas di New Jersey, AS. Sabtu, 23 Mei 2015 mereka meninggalkan dunia yang menjadi saksi kebersamaan abadi itu.


Nb: Penggalan kisah hidup keduanya dibukukan dan difilmkan dengan judul yang sama, A Beatiful Mind.


Ayung Notonegoro
Penggiat Literasi