menu

Rabu, 27 Mei 2015

Si Kutu Buku dan Sang Putri


Pernikahan: John Nash dan Alicia

Buku memang tak ubahnya dunia lain. Ketika bisa masuk dan tenggalam dalam lautan aksara, seseorang bisa saja mengabaikan dunia nyatanya. Dia akan kesulitan untuk bersosialisasi dan ujung-ujungnya akan mengantarkannya pada kejombloan akut. Memang tidak semua begitu, tapi setidaknya ini berlaku pada kisah si kutu buku, John Forbes Nash Jr.

John Nash lahir tertanggal 13 Juni 1928 di Bluefield, West Virginia Amerika Serikat. Ia lahir dari pasangan John Nash Sr, seorang electrical engineer dan Margaret Virginia Martin, seorang guru Bahasa Inggris dan Latin. Terlahir ditengah keluarga terpelajar, John Nash junior mendapatkan bimbingan yang menekankan pada ilmu pengetahuan.

Sejak kecil John Nash dijejali oleh bapaknya dengan buku-buku teknik. Dengan sendirinya pun Nash tenggelam dalam aksara dan angka. Keranjingan membaca membentuk John Nash junior menjadi pribadi yang tak pandai bersosialisasi. Tak heran jika banyak teman sejawatnya yang menganggap John Nash sebagai pribadi yang aneh dan sombong.

Cibiran dari teman-temannya tak mempengaruhi kebiasaan John Nash membaca. Berawal dari kebiasaannya membaca itulah, John Nash membentuk “masa depannya” yang terinspirasi buku Eric Temple Bell berjudul Men of Mathematic. Buku yang membahas tentang matematika ini, memberikan motivasi kepada John Nash untuk menggeluti matematika yang kelak akan mengantarkannya menjadi seorang profesor dan meraih penghargaan Nobel.

Beasiswa dari Westinghouse yang dimenangkannya mengantarkan John Nash untuk mengenyam kuliah di Institut Teknologi Carnegie. Disinilah John Nash meraih gelar sarjana dan gelar masternya pada tahun 1948. Kecerdasannya yang luar biasa terus ditempa oleh John Nash di Universitas Princeton. Di kampus ini, puncak kegemilangan pemikiran John Nash memancar.

Tatkala teman-teman sekelasnya telah menentukan judul tesisnya, John Nash masih belum menentukannya. Sungguh aneh, John Nash yang terkenal dengan begitu cerdasnya belum menemukan judul tesis yang akan diajukan untuk meraih gelar Ph.D. John Nash berhari-hari mendekam di perpustakaan, bergelut dengan buku-buku. Dia ingin menuliskan sebuah tesis yang benar-benar original. Tanpa terpengaruh oleh hasil penelitian ilmuwan matematika lainnya. Albert W. Tucker, profesor pembimbingnya bahkan sampai menyarankan untuk mencari judul yang lebih mudah dikerjakan.

Kegigihan John Nash tidak sia-sia. Setelah banyak waktu dihabiskannya menelusuri referensi dan riset, John Nash berhasil menemukan suatu pemikiran yang orisinil (Original thinking) ketika menikmati segelas teh bersama teman sekamarnya. John Nash menemukan suatu teori permainan yang dikenal dengan Equilibrium Nash. Tak begitu tebal hasil penelitiannya tersebut. Penelitian yang diberi judul Equilibrium Points in N-person Games itu mengantarkannya mendapatkan gelar Ph.D diusianya yang baru menginjak 22 tahun.
Setelah lulus, John Nash memilih untuk mengabdikan diri di kampusnya, Massachusetth Institute of Technology (MIT) Universitas Princeton. Dia menjadi staf pengajar dan melakukan beberapa penelitian yang fenomenal. Pada 1953 John Nash menulis tentang ekonometrika yang konon lebih hebat dari metafora infisible hand-nya Adam Smith.

Namun dibalik kegemilangan intelektualitas John Nash dia tak lebih hanya seorang kutu buku yang hidup dilembaran aksaranya. Kesulitannya bersosialisasi membuatnya pun sulit untuk mendapatkan seorang kekasih. Pernah pada suatu saat John Nash hanya berdansa dengan setumpuk kursi karena begitu sulitnya meraih pasangan. Perawakannya sebagai anak veteran perang dunia pertama, John Nash dianugerahi badan yang tegap dan wajah yang rupawan. Namun, ketampanan dan kecerdasannya tertutup dengan sikap dinginnya terhadap lawan jenis. John Nash pun tetap menjomblo dikarir intelektualitasnya yang gemilang.

Sang Putri

Udara Amerika sedang panas, begitu pula di Universitas Princeton. John Nash dengan setumpuk buku dan wajah yang kaku masuk ke dalam kelas. Seperti biasanya, pintu dan jendela kelas semuanya ia tutup untuk mengurangi kebisingan. Udara yang panas dan jendela yang tertutup membuat suasana kelas semakin pengap. Para mahasiswa taka da yang berani menegur, kecuali satu orang mahasiswi.

Seorang mahasiswi dengan paras ayu dan penampilan yang begitu elegan, tiba-tiba maju kedepan. Membuka jendela yang sebelumnya ditutup oleh John Nash. Tatapan wanita jelita itu lekat ke pelupuk mata sang profesor. Kejengkelan John Nash pun sirna dengan kelembutan tutur kata gadis itu. Ya, dialah Alicia, sang putri.

Alicia bernama lengkapAlicia Lopez-Harrison de Lardé. Dia adalah perempuan jelita keturunan bangsawan El Salvador. Gadis kelahiran tahun 1933 itu adalah salah satu dari 16 perempuan angkatan pertama di M.I.T tahun 1955. Mahasiswi fakultas fisika nuklir ini lah yang kelak akan menjadi sang putri bagi si kutu buku ini.
Pada suatu saat, Alicia mengumpulkan tugas tatkala John Nash sedang berada di perpustakaan. Tak hanya mengumpulkan tugas, Alicia juga mengajak makan malam John Nash. Itulah awal mula John Nash berkencan dengan seorang perempuan. John Nash dan Alicia pun merajut hubungan asmara. Dan pada tahun 1957 keduanya melansungkan pernikahan.

Pernikahan seorang profesor jenius nan tampan dengan seorang putri bangsawan jelita nan cerdas, John Nash dan Alicia menjadi pernikahan yang luar biasa. Semua orang pun akan mendambakannya. Namun ternyata tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1959 kala Alicia mengandung, John Nash dideteksi mengidap penyakit Schizophrenia. Penyakit yang menyerang kesadaran seseorang ini, mengantarkan John Nash mendekam di rumah sakit jiwa. Akhirnya, Alicia memutuskan untuk bercerai dengan John Nash pada tahun 1963.

Meski bercerai Alicia tetaplah sang putri bagi si kutu buku. Alicia terus merawat dan menemani John Nash yang hidup dalam halusinasi itu. Dengan mengorbankan tenaga, karir dan hartanya Alicia mendampingi John Nash. Keikhlasan dan ketulusan Alicia pun membuahkan hasil. Berangsur-angsur kesadaran John Nash pulih. 

Seiring sembuhnya John Nash, mereka pun kembali rujuk, tepatnya pada tahun 1990. John Nash pun kembali menemukan kejeniusannya. Kiprah intelektualnya kembali dibangun. Dan pada tahun 1994, ia bersama  Reinhard Selten dan John Harsanyi mendapatkan penghargaan Nobel dalam bidang ekonomi. Dan pada tahun 2015, John Nash bersama Louis Nirenberg meraih penghargaan Abel atas penelitiannya mengenai persamaan diferensial parsial nonlinier.

****

Si kutu buku jenius itu kembali merengkuh kebahagiaan bersama sang putrinya. Kebersamaan mereka pun abadi sepanjang masa tatkala sebuah taksi yang mengangkut keduanya terlibat kecelakaan lalu lintas di New Jersey, AS. Sabtu, 23 Mei 2015 mereka meninggalkan dunia yang menjadi saksi kebersamaan abadi itu.


Nb: Penggalan kisah hidup keduanya dibukukan dan difilmkan dengan judul yang sama, A Beatiful Mind.


Ayung Notonegoro
Penggiat Literasi

Kamis, 21 Mei 2015

Karya Tulis Ulama Nusantara



Syekh Nawawi Al-Bantani: Ulama nusantara yang sangat produktif dalam dunia penulisan.



Ulama sebagai golongan terpelajar dengan kapasitas intelektualitas yang diakui tidak terlepas dari tradisi literasi, membaca dan menulis. Tradisi membaca kitab keagamaan seperti kitab fiqih, tafsir, hadist, tasawuf maupun akhlaqdan juga kitab – kitab populer seperti tarikh, hikayat, syair, dan lain sebagainya menjadi basis legitimasi terhadap status keulamaannya.


Efek dari menguatnya tradisi membaca, tentu adalah tumbuhnya tradisi menulis. Dalam tradisi pesantren yang merupakan basis terbesar kaderisasi ulama nusantara, ada beberapa tipologi penulisan. Mulai dari berbentuk terjemah, syarah (komentar/ penjelas), hasyiyah (catatan pinggir), mukhtashor (ringkasan),dari karya tulis terdahulu dan adapula berupa karya yang orisinil. Corak tulisannya pun beragam, mulai dalam bentuk kitab serius, hikayat, syair atau nadzom, serat dan babad. Tema yang ditulis tidak hanya berkutat pada ilmu keagamaan, tapi juga merambah keberbagai bidang keilmuwan seperti astronomi, pertanian, sejarah, dan beragam cabang ilmu lainnya. Dan bahasa yang digunakannya didominasi oleh bahasa Arab, Jawa dan Melayu.


Kapasitas intelektual para ulama yang tinggi menjadikan karya – karya ulama Nusantara tidak hanya diakui didalam negeri saja tapi juga diakui oleh kalangan terpelajar Islam diberbagai negara. Karya – karya tersebut didominasi oleh tema – tema keagamaan dengan pengantar berbahasa Arab. Salah satu karya ulama Nusantara yang telah melanglang buana adalah kitab  Aqidatul Awwam karya ulama Aceh, Syekh Ahmad Marzuqi (w. sekitar tahun 1864 M). Kitab yang membahas tentang tauhid dan ditulis dalam bentuk nadzom (puisi), menurut Petrus Voorhoeve dalam bukunya Hadlist of Arabic Manuscripts in the Library of the University of Lieden and the Other Collections in the Netherland (1980), menyebutkan kitab Aqidatul Awwam tersebut telah dicetak dalam bentuk litografi dibeberapa negara seperti di Bombay (1885), Konstatinopel, Turki (1889), dan Singapura (1896).


Intensitas hubungan ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah yang semakin intensif juga berpengaruh pada perkembangan karya tulis ulama nusantara. Pada periode Abad ke-18 banyak bermunculan komunitas ulama nusantara di Mekkah yang biasa dikenal dengan komunitas Jawi atau oleh orang Arab disebut dengan ashhabul jawiyyin. Dengan adanya komunitas tersebut, produktifitas karya tulis ulama nusantara makin pesat dan diakui dunia. Pada masa itu, muncul nama – nama ulama dengan karya – karyanya. Diantaranya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710 – 1812 M) yang menghasilkan Sabilal Muhtadin lit Tafaquh fi Amriddin yang mengkaji tentang ilmu fiqih dan menjadi rujukan umat Islam di Asia Tenggara (Mahsun Fuad:2005).


Adapula Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi (1860 – 1916) yang menghasilkan 49 karya tulis dengan publikasi tersebar di Syiria, Turki dan Mesir. Salah satu karyanya adalah  Hasyiyatun Nafahat ala Syarh al-Waraqat yang diselesaikan pada tahun 1306 H yang merupakan syarah (komentar) dari kitab al-Waraqat fil Ushulil Fiq karya ulama Mekkah, Imam Juwaini (419 – 478 H). selain itu, ada beberapa karya Syekh Khatib dalam bidang umum seperti  Raudhatul Hussab fi A'mali Ilmil Hisab (selesai ditulis 1307 H) yang membahas tentang ilmu matematika dan al-jabar.


Komunitas Jawi  di Mekkah semakin menancapkan reputasinya sebagai ulama dengan produksi karya tulis kaliber dunia. Ulama nusantara yang produktif menulis dan karya – karyanya bestseller serta masih dicetak di luar negeri maupun di Indonesia dan senantiasa dikaji sampai saat ini adalah kitab – kitab karya Syekh Nawawi al-Bantani (1813 – 1897 M). Karya – karyanya mencapai ratusan dalam beragam tema. Hal ini setidaknya berdasarkan kajian yang dilakukan oleh ulama Mesir, Syaikh 'Umar 'Abdul Jabbâr dalam kitabnya al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Harâm. Karya – karyanya yang ternama dan masih menjadi rujukan utama di dunia pesantren adalah al-Tausyîh / Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb, Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi MuÄ¥immâh al-Dîn, Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ dalam bidang fiqih. Karya – karyanya dalam bidang tauhid dan tasawuf meliputi Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah, Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd, Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm. Sedangkan dalam bidang tafsir dan hadist karya fenomenalnya adalah al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd dan Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts. Selain itu juga terdapat puluhan kitab lainnya dalam beragam tema.


Pada perkembangan selanjutnya juga banyak karya tulis ulama Nusantara yang mendunia selain dari komunitas Jawi  diatas. Salah satunya adalah KH. Ihsan Jampes (1901 – 1952 M), yang menulis kitab Sirajuth Tholibin yang merupakan syarah dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali. Kitab ini pertama kali diterbitkan oleh penerbit Musthafa al-Babul Halab Mesir pada tahun 1936. Kemudian kitab ini menyebar ke penjuru dunia dan tetap menjadi bahan kajian dalam bidang tasawuf dibeberapa perguruan tinggi Islam di Afrika dan Amerika.


Adapula KH Maksum bin Ali (w. 1933 M) yang mengarang kitab Amtsilatut Tasrifiyah, sebuah kitab yang berisi sistematika perubahan kata dalam bahasa Arab (ilmu shorof) dalam bentuk tabel. Karena begitu praktisnya, kitab ini tetap menjadi rujukan awal untuk pemula yang belajar bahasa Arab, baik di Indonesia maupun para pelajar di luar negeri.


Yang terbaru adalah karya almarhum KH. Sahal Mahfud (1937 – 2014). Ulama yang berasal dari Kajen Pati ini menelurkan beberapa karya. Salah satu karya fenomenalnya yang diakui dunia adalah Thariqat al-Hushul ila Ghayat al-Ushul yang merupakan syarah  dari kitab Ghayatul Wushul karya Syekh Zakariya al-Anshori pada abad ke-9. Kitab ini ditulis pada tahun 1960-an ketika beliau masih berusia duapuluh tahunan.


Masih banyak lagi karya – karya ulama nusantara yang berkwalitas dunia. Hal ini menggambarkan betapa hebatnya kapasitas intelektual ulama nusantara. Meskipun nusantara bukan termasuk pengguna bahasa Arab dalam percakapan sehari – hari, namun banyak ilmuwannya yang menelurkan karya.

Lantas, bagaimana dengan kita?



Ayung Notonegoro
Pegiat Rumah Baca Mawar


Selasa, 20 Januari 2015

Kemarin

Rasanya baru kemarin nenek itu duduk dengan suaminya tercinta
Rasanya baru kemarin nenek itu melayani suaminya yang sedang sakit
Rasanya baru kemarin nenek itu menceritakan kepergian suaminya yang telah tiada
Rasanya baru kemarin nenek itu mengeluh dengan sakit yang di deritanya
nenek yang selalu menyayangi anak dan cucunya
nenek yang selalu menutupi kesedihan nya di depan anak dan cucunya
nenek yang selalu bertekad menjadikan anak cucunya menjadi orang-orang baik
kini
hari ini
nenek itu telah pergi untuk selamanya...
bertemu dengan suami tercinta semasa hidupnya
aku panggil beliau nyai...
Nyai Mutiah...



Surabaya 12/1/2015

Jumat, 11 April 2014

Pulau Sempu

Indonesia Bagus, kata yang tepat untuk mendiskripsikan secara singkat tentang negara kita ini, tak perlu kita. harus ngurus paspor atau apapun kalau hanya ingin menikmati keindahan alam. salah satunya pulau sempu, yang terletak di kabupaten malang jawa timur.
bergerak dengan mobil rentalan dari surabaya menuju pulau sempu sekitaran 4 jam, Untuk menuju ke sana, kita harus menyambung perjalanan dengan menyewa kapal. Kalau di Palembang sih disebutnya kapal ketek karena bunyi mesinnya yang berbunyi, "etek..ketek..ketek.." Entah kalau di Sendang Biru disebutnya apa, saya juga lupa menanyakannya pada penduduk setempat.
Apa itu Sendang Biru? bukannya kita lagi membicarakan Pulau Sempu? Sendang Biru itu dermaga, mungkin seperti Pelabuhan Merak atau Bakaheuni dalam skala yang lebih besar. Kalau mau main air di sini tidak terlalu disarankan. Karena memang kurang seru menempuh perjalanan jauh-jauh hanya untuk bermain di Sendang Biru, yang sangat biasa pemandangannya. Belum bau anyirnya yang agak menyengat. Jadi kalau sudah ke Sendang Biru, jangan tanggung-tanggung, sekalian saja menyeberang ke Pulau Sempu.
hal yang perlu dilakukan pertama adalah mengurus perijinan terlebih dahulu, di pos penjagaan di sendang baru, dengan membayar ijin masuk Rp. 20.000 perkelompok, dan apabila menggunakan jasa pemandu jalan akan dikenakan biaya Rp.100.000, tapi pengunjung tidak usah khawatir karena jalan menuju pulau sempu tidak lah susah, meskipun masih hutan belantara jalan yang dilewati tidak sesusah yang di ceritakan oleh petugas pos alias sudah jelas dan tidak akan kesasar..heheheh
Tempat Perijinan ke Pulau Sempu

yang kedua mencari perahu untuk menyebrang dengan menunjukkan surat ijin yang telah di urus maka akan dihantarkan oleh bapak-bapak pemilik perahu, jangan lupa minta nomer HP sang empu perahu, perjalanan perahu ini dikenakan biaya Rp.100.000 pulang pergi.
Perahu yang nganter ke pulau sempu
Perjalanan ini menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit sampailah di pulau sempu, tapi perjalalnan belum selesai, yang ketiga kita harus ngetrip lagi kira-kira 1 jam untuk sampai tujuan, pemandangan hutan dan ditemani kera-kera liar seperti di pantai uluwatu, tapi jalannya hutan tapi enak (kalau ga ujan)
Jalan menuju segoro anakan 

nah setalah capek jalan barulah capek-capek kita dibayar dengan pemandangan yang haya satu di dunia, anaknya pantai (segoro anakan) cepat-cepat ganti baju yang mau renang atau dirikan tenda yang mau kemping, airnya dingin seger banget...
Segoro anakan
Dibalik tebing yang menutupi segoro anakan bisa langsung lihat induknya, samudra luas dengan tebing batu yang terjal membuat kita merasa kecil dan tidak penting di alam ini, sepatutnya kita menjaga dan melestarikannnya, sehingga anak cucu kita bisa menikmati keindahan alam indonesia
kalau naik ke tebing batu ini penampakannya
Hahh ... sangat memuaskan sekali perjalanan menuju segoro anakan bersama Foot Traveler (FT)

Jumat, 12 Juli 2013

Ramadan Bulan Membaca



ilustrasi

Ramadan adalah bulan spesial. Begitu spesialnya bulan ini sehingga banyak julukan yang disematkan. Ramadan disebut bulan ampunan (syahrul magfiroh) karena pada bulan ini Allah menebar ampunan kepada hamba yang memohonnya. Ramadan juga disebut bulan ibadah (syahrul ibadah) karena anjuran untuk memperbanyak ibadah dengan imbalan pahala yang berlipat. Ramadan juga layak disebut dengan syahrul qiroah, bulan membaca.

Ramadan layak disebut bulan membaca karena intensitas membaca umat Islam semakin meningkat dibanding bulan-bulan lainnya. Setidaknya hal ini terlihat dari tradisi tadarus dan huduran. Tadarus adalah tradisi membaca al-qur’an secara bersama-sama –  ada yang membaca dan ada yang menyimak –  setelah melaksanakan sholat tarawih atau setelah sholat-sholat fardu yang lain. Sedangkan huduran  adalah tradisi khas pesantren dimana para santri mengkhatamkan beberapa kitab kuning secara kilat selama Ramadan dengan metode bandongan. Huduran rata-rata ditempuh selama delapan jam per hari bahkan lebih. Seperti halnya di Pesantren Al-Anwari Kertosari Banyuwangi yang memulai huduran seusai sholat subuh sampai jam 08:30 WIB. Kemudian dilanjutkan setelah sholat duhur sampai menjelang magrib dengan istirahat sebentar untuk sholat ashar. Setelah sholat tarawih dilanjutkan lagi hingga jam sepuluh malam.

Ramadan juga layak disebut  bulan membaca karena pada bulan ini al-qur’an untuk pertama kalinya diwahyukan. Sebagaimana diketahui bersama, ayat yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca, iqra’ bismirobbikalladzi kholaq – bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (QS. Al-Alaq [96]:1). Hal ini berarti Ramadan tidak hanya diperingati sebagai hari turunnya al-qur’an (nuzulul qur’an), namun juga sebagai momentum peringatan perintah untuk membaca.

Peringatan perintah untuk membaca menjadi penting mengingat besarnya manfaat membaca. Terkait hal ini, Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan lafad iqra (bacalah) dikaitkan dengan bentuk ilmu. Menurutnya ilmu terbagi menjadi tiga, yaitu ilmu yang berbentuk ingatan/pemahaman (ilmud dahni), ilmu yang berbentuk ucapan (ilmul lisan), dan ilmu yang berbentuk tulisan (ilmul kitabah). Masing-masing ilmu memiliki ujung yang berupa ingatan, lafad, dan huruf. Sedangkan huruf itu sendiri telah menghimpun ingatan dan lafad. Dengan demikian melalui membaca dapat memperoleh tiga jenis ilmu sekaligus, sehingga Allah memerintah manusia untuk membaca.

Minggu, 07 Juli 2013

Atlas Wali Songo

Kepercayaan Kapitayan termasuk dalam kategori Nihlah, ada bekasnya tetapi tidak lagi diketahui siapa pembawanya dan ritual keagamaannya. meskipun demikian, berbagai hikmah yang ada di dalamnya patut kita ambil dan perlu kita selamatkan, sehingga keberagamaan kita berakar kuat dan memiliki pijakan historis. Menurut ahlusunnah waljamaah, agama di kategorikan secara proporsional, yakni Ad-din, millah dan nihlah. kepercayaan Kapitayan ini masuk kedalam kategori Nihlah. Demikian KH Said Aqil Siradj memberikan sedikit gambaran tentang isi buku ini dalam kata pengantarnya. Dan kini bisa anda baca di Rumah Baca Mawar

Tak Sempurna





Novel yang  bercerita tentang dunia pendidikan di suatu kota-yang-tak-disebutkan-namanya di Indonesia. Kami lebih senang menyebutnya Gotham-nya Indonesia. Suatu kota di mana anak-anak dibesarkan di tengah keluarga yang tak memberikan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat yang tak memberi harapan, dan kehidupan bernegara yang tak menjanjikan apa-apa kecuali perang-perang politik kepentingan memuakkan. Di kota semacam itu, sulit sekali menemukan contoh dan teladan yang baik, sekalipun dari kalangan tokoh-tokoh agama. Di kota itulah sekolah menjadi sekadar tempat “penitipan anak” bagi orangtua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orangtua yang tak peduli pada mereka. Juga ajang adu gengsi. Sementara itu, di tengah semua kekacauan sistem pendidikan, rekrutmen tenaga pengajar yang penuh kecurangan, dan kurikulum pendidikan yang berantakan, anak-anak ini masih ditekan dengan beban pelajaran yang kelebihan muatan, tugas-tugas, les panjang persiapan ujian, try out, ujian nasional, dan seterusnya. Dan kini bisa di baca di Rumah Baca Mawar