menu

Kamis, 21 Mei 2015

Karya Tulis Ulama Nusantara



Syekh Nawawi Al-Bantani: Ulama nusantara yang sangat produktif dalam dunia penulisan.



Ulama sebagai golongan terpelajar dengan kapasitas intelektualitas yang diakui tidak terlepas dari tradisi literasi, membaca dan menulis. Tradisi membaca kitab keagamaan seperti kitab fiqih, tafsir, hadist, tasawuf maupun akhlaqdan juga kitab – kitab populer seperti tarikh, hikayat, syair, dan lain sebagainya menjadi basis legitimasi terhadap status keulamaannya.


Efek dari menguatnya tradisi membaca, tentu adalah tumbuhnya tradisi menulis. Dalam tradisi pesantren yang merupakan basis terbesar kaderisasi ulama nusantara, ada beberapa tipologi penulisan. Mulai dari berbentuk terjemah, syarah (komentar/ penjelas), hasyiyah (catatan pinggir), mukhtashor (ringkasan),dari karya tulis terdahulu dan adapula berupa karya yang orisinil. Corak tulisannya pun beragam, mulai dalam bentuk kitab serius, hikayat, syair atau nadzom, serat dan babad. Tema yang ditulis tidak hanya berkutat pada ilmu keagamaan, tapi juga merambah keberbagai bidang keilmuwan seperti astronomi, pertanian, sejarah, dan beragam cabang ilmu lainnya. Dan bahasa yang digunakannya didominasi oleh bahasa Arab, Jawa dan Melayu.


Kapasitas intelektual para ulama yang tinggi menjadikan karya – karya ulama Nusantara tidak hanya diakui didalam negeri saja tapi juga diakui oleh kalangan terpelajar Islam diberbagai negara. Karya – karya tersebut didominasi oleh tema – tema keagamaan dengan pengantar berbahasa Arab. Salah satu karya ulama Nusantara yang telah melanglang buana adalah kitab  Aqidatul Awwam karya ulama Aceh, Syekh Ahmad Marzuqi (w. sekitar tahun 1864 M). Kitab yang membahas tentang tauhid dan ditulis dalam bentuk nadzom (puisi), menurut Petrus Voorhoeve dalam bukunya Hadlist of Arabic Manuscripts in the Library of the University of Lieden and the Other Collections in the Netherland (1980), menyebutkan kitab Aqidatul Awwam tersebut telah dicetak dalam bentuk litografi dibeberapa negara seperti di Bombay (1885), Konstatinopel, Turki (1889), dan Singapura (1896).


Intensitas hubungan ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah yang semakin intensif juga berpengaruh pada perkembangan karya tulis ulama nusantara. Pada periode Abad ke-18 banyak bermunculan komunitas ulama nusantara di Mekkah yang biasa dikenal dengan komunitas Jawi atau oleh orang Arab disebut dengan ashhabul jawiyyin. Dengan adanya komunitas tersebut, produktifitas karya tulis ulama nusantara makin pesat dan diakui dunia. Pada masa itu, muncul nama – nama ulama dengan karya – karyanya. Diantaranya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710 – 1812 M) yang menghasilkan Sabilal Muhtadin lit Tafaquh fi Amriddin yang mengkaji tentang ilmu fiqih dan menjadi rujukan umat Islam di Asia Tenggara (Mahsun Fuad:2005).


Adapula Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi (1860 – 1916) yang menghasilkan 49 karya tulis dengan publikasi tersebar di Syiria, Turki dan Mesir. Salah satu karyanya adalah  Hasyiyatun Nafahat ala Syarh al-Waraqat yang diselesaikan pada tahun 1306 H yang merupakan syarah (komentar) dari kitab al-Waraqat fil Ushulil Fiq karya ulama Mekkah, Imam Juwaini (419 – 478 H). selain itu, ada beberapa karya Syekh Khatib dalam bidang umum seperti  Raudhatul Hussab fi A'mali Ilmil Hisab (selesai ditulis 1307 H) yang membahas tentang ilmu matematika dan al-jabar.


Komunitas Jawi  di Mekkah semakin menancapkan reputasinya sebagai ulama dengan produksi karya tulis kaliber dunia. Ulama nusantara yang produktif menulis dan karya – karyanya bestseller serta masih dicetak di luar negeri maupun di Indonesia dan senantiasa dikaji sampai saat ini adalah kitab – kitab karya Syekh Nawawi al-Bantani (1813 – 1897 M). Karya – karyanya mencapai ratusan dalam beragam tema. Hal ini setidaknya berdasarkan kajian yang dilakukan oleh ulama Mesir, Syaikh 'Umar 'Abdul Jabbâr dalam kitabnya al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Harâm. Karya – karyanya yang ternama dan masih menjadi rujukan utama di dunia pesantren adalah al-Tausyîh / Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb, Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn, Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ dalam bidang fiqih. Karya – karyanya dalam bidang tauhid dan tasawuf meliputi Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah, Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd, Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm. Sedangkan dalam bidang tafsir dan hadist karya fenomenalnya adalah al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd dan Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts. Selain itu juga terdapat puluhan kitab lainnya dalam beragam tema.


Pada perkembangan selanjutnya juga banyak karya tulis ulama Nusantara yang mendunia selain dari komunitas Jawi  diatas. Salah satunya adalah KH. Ihsan Jampes (1901 – 1952 M), yang menulis kitab Sirajuth Tholibin yang merupakan syarah dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali. Kitab ini pertama kali diterbitkan oleh penerbit Musthafa al-Babul Halab Mesir pada tahun 1936. Kemudian kitab ini menyebar ke penjuru dunia dan tetap menjadi bahan kajian dalam bidang tasawuf dibeberapa perguruan tinggi Islam di Afrika dan Amerika.


Adapula KH Maksum bin Ali (w. 1933 M) yang mengarang kitab Amtsilatut Tasrifiyah, sebuah kitab yang berisi sistematika perubahan kata dalam bahasa Arab (ilmu shorof) dalam bentuk tabel. Karena begitu praktisnya, kitab ini tetap menjadi rujukan awal untuk pemula yang belajar bahasa Arab, baik di Indonesia maupun para pelajar di luar negeri.


Yang terbaru adalah karya almarhum KH. Sahal Mahfud (1937 – 2014). Ulama yang berasal dari Kajen Pati ini menelurkan beberapa karya. Salah satu karya fenomenalnya yang diakui dunia adalah Thariqat al-Hushul ila Ghayat al-Ushul yang merupakan syarah  dari kitab Ghayatul Wushul karya Syekh Zakariya al-Anshori pada abad ke-9. Kitab ini ditulis pada tahun 1960-an ketika beliau masih berusia duapuluh tahunan.


Masih banyak lagi karya – karya ulama nusantara yang berkwalitas dunia. Hal ini menggambarkan betapa hebatnya kapasitas intelektual ulama nusantara. Meskipun nusantara bukan termasuk pengguna bahasa Arab dalam percakapan sehari – hari, namun banyak ilmuwannya yang menelurkan karya.

Lantas, bagaimana dengan kita?



Ayung Notonegoro
Pegiat Rumah Baca Mawar


Selasa, 20 Januari 2015

Kemarin

Rasanya baru kemarin nenek itu duduk dengan suaminya tercinta
Rasanya baru kemarin nenek itu melayani suaminya yang sedang sakit
Rasanya baru kemarin nenek itu menceritakan kepergian suaminya yang telah tiada
Rasanya baru kemarin nenek itu mengeluh dengan sakit yang di deritanya
nenek yang selalu menyayangi anak dan cucunya
nenek yang selalu menutupi kesedihan nya di depan anak dan cucunya
nenek yang selalu bertekad menjadikan anak cucunya menjadi orang-orang baik
kini
hari ini
nenek itu telah pergi untuk selamanya...
bertemu dengan suami tercinta semasa hidupnya
aku panggil beliau nyai...
Nyai Mutiah...



Surabaya 12/1/2015

Jumat, 11 April 2014

Pulau Sempu

Indonesia Bagus, kata yang tepat untuk mendiskripsikan secara singkat tentang negara kita ini, tak perlu kita. harus ngurus paspor atau apapun kalau hanya ingin menikmati keindahan alam. salah satunya pulau sempu, yang terletak di kabupaten malang jawa timur.
bergerak dengan mobil rentalan dari surabaya menuju pulau sempu sekitaran 4 jam, Untuk menuju ke sana, kita harus menyambung perjalanan dengan menyewa kapal. Kalau di Palembang sih disebutnya kapal ketek karena bunyi mesinnya yang berbunyi, "etek..ketek..ketek.." Entah kalau di Sendang Biru disebutnya apa, saya juga lupa menanyakannya pada penduduk setempat.
Apa itu Sendang Biru? bukannya kita lagi membicarakan Pulau Sempu? Sendang Biru itu dermaga, mungkin seperti Pelabuhan Merak atau Bakaheuni dalam skala yang lebih besar. Kalau mau main air di sini tidak terlalu disarankan. Karena memang kurang seru menempuh perjalanan jauh-jauh hanya untuk bermain di Sendang Biru, yang sangat biasa pemandangannya. Belum bau anyirnya yang agak menyengat. Jadi kalau sudah ke Sendang Biru, jangan tanggung-tanggung, sekalian saja menyeberang ke Pulau Sempu.
hal yang perlu dilakukan pertama adalah mengurus perijinan terlebih dahulu, di pos penjagaan di sendang baru, dengan membayar ijin masuk Rp. 20.000 perkelompok, dan apabila menggunakan jasa pemandu jalan akan dikenakan biaya Rp.100.000, tapi pengunjung tidak usah khawatir karena jalan menuju pulau sempu tidak lah susah, meskipun masih hutan belantara jalan yang dilewati tidak sesusah yang di ceritakan oleh petugas pos alias sudah jelas dan tidak akan kesasar..heheheh
Tempat Perijinan ke Pulau Sempu

yang kedua mencari perahu untuk menyebrang dengan menunjukkan surat ijin yang telah di urus maka akan dihantarkan oleh bapak-bapak pemilik perahu, jangan lupa minta nomer HP sang empu perahu, perjalanan perahu ini dikenakan biaya Rp.100.000 pulang pergi.
Perahu yang nganter ke pulau sempu
Perjalanan ini menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit sampailah di pulau sempu, tapi perjalalnan belum selesai, yang ketiga kita harus ngetrip lagi kira-kira 1 jam untuk sampai tujuan, pemandangan hutan dan ditemani kera-kera liar seperti di pantai uluwatu, tapi jalannya hutan tapi enak (kalau ga ujan)
Jalan menuju segoro anakan 

nah setalah capek jalan barulah capek-capek kita dibayar dengan pemandangan yang haya satu di dunia, anaknya pantai (segoro anakan) cepat-cepat ganti baju yang mau renang atau dirikan tenda yang mau kemping, airnya dingin seger banget...
Segoro anakan
Dibalik tebing yang menutupi segoro anakan bisa langsung lihat induknya, samudra luas dengan tebing batu yang terjal membuat kita merasa kecil dan tidak penting di alam ini, sepatutnya kita menjaga dan melestarikannnya, sehingga anak cucu kita bisa menikmati keindahan alam indonesia
kalau naik ke tebing batu ini penampakannya
Hahh ... sangat memuaskan sekali perjalanan menuju segoro anakan bersama Foot Traveler (FT)

Jumat, 12 Juli 2013

Ramadan Bulan Membaca



ilustrasi

Ramadan adalah bulan spesial. Begitu spesialnya bulan ini sehingga banyak julukan yang disematkan. Ramadan disebut bulan ampunan (syahrul magfiroh) karena pada bulan ini Allah menebar ampunan kepada hamba yang memohonnya. Ramadan juga disebut bulan ibadah (syahrul ibadah) karena anjuran untuk memperbanyak ibadah dengan imbalan pahala yang berlipat. Ramadan juga layak disebut dengan syahrul qiroah, bulan membaca.

Ramadan layak disebut bulan membaca karena intensitas membaca umat Islam semakin meningkat dibanding bulan-bulan lainnya. Setidaknya hal ini terlihat dari tradisi tadarus dan huduran. Tadarus adalah tradisi membaca al-qur’an secara bersama-sama –  ada yang membaca dan ada yang menyimak –  setelah melaksanakan sholat tarawih atau setelah sholat-sholat fardu yang lain. Sedangkan huduran  adalah tradisi khas pesantren dimana para santri mengkhatamkan beberapa kitab kuning secara kilat selama Ramadan dengan metode bandongan. Huduran rata-rata ditempuh selama delapan jam per hari bahkan lebih. Seperti halnya di Pesantren Al-Anwari Kertosari Banyuwangi yang memulai huduran seusai sholat subuh sampai jam 08:30 WIB. Kemudian dilanjutkan setelah sholat duhur sampai menjelang magrib dengan istirahat sebentar untuk sholat ashar. Setelah sholat tarawih dilanjutkan lagi hingga jam sepuluh malam.

Ramadan juga layak disebut  bulan membaca karena pada bulan ini al-qur’an untuk pertama kalinya diwahyukan. Sebagaimana diketahui bersama, ayat yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca, iqra’ bismirobbikalladzi kholaq – bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (QS. Al-Alaq [96]:1). Hal ini berarti Ramadan tidak hanya diperingati sebagai hari turunnya al-qur’an (nuzulul qur’an), namun juga sebagai momentum peringatan perintah untuk membaca.

Peringatan perintah untuk membaca menjadi penting mengingat besarnya manfaat membaca. Terkait hal ini, Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan lafad iqra (bacalah) dikaitkan dengan bentuk ilmu. Menurutnya ilmu terbagi menjadi tiga, yaitu ilmu yang berbentuk ingatan/pemahaman (ilmud dahni), ilmu yang berbentuk ucapan (ilmul lisan), dan ilmu yang berbentuk tulisan (ilmul kitabah). Masing-masing ilmu memiliki ujung yang berupa ingatan, lafad, dan huruf. Sedangkan huruf itu sendiri telah menghimpun ingatan dan lafad. Dengan demikian melalui membaca dapat memperoleh tiga jenis ilmu sekaligus, sehingga Allah memerintah manusia untuk membaca.

Minggu, 07 Juli 2013

Atlas Wali Songo

Kepercayaan Kapitayan termasuk dalam kategori Nihlah, ada bekasnya tetapi tidak lagi diketahui siapa pembawanya dan ritual keagamaannya. meskipun demikian, berbagai hikmah yang ada di dalamnya patut kita ambil dan perlu kita selamatkan, sehingga keberagamaan kita berakar kuat dan memiliki pijakan historis. Menurut ahlusunnah waljamaah, agama di kategorikan secara proporsional, yakni Ad-din, millah dan nihlah. kepercayaan Kapitayan ini masuk kedalam kategori Nihlah. Demikian KH Said Aqil Siradj memberikan sedikit gambaran tentang isi buku ini dalam kata pengantarnya. Dan kini bisa anda baca di Rumah Baca Mawar

Tak Sempurna





Novel yang  bercerita tentang dunia pendidikan di suatu kota-yang-tak-disebutkan-namanya di Indonesia. Kami lebih senang menyebutnya Gotham-nya Indonesia. Suatu kota di mana anak-anak dibesarkan di tengah keluarga yang tak memberikan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat yang tak memberi harapan, dan kehidupan bernegara yang tak menjanjikan apa-apa kecuali perang-perang politik kepentingan memuakkan. Di kota semacam itu, sulit sekali menemukan contoh dan teladan yang baik, sekalipun dari kalangan tokoh-tokoh agama. Di kota itulah sekolah menjadi sekadar tempat “penitipan anak” bagi orangtua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orangtua yang tak peduli pada mereka. Juga ajang adu gengsi. Sementara itu, di tengah semua kekacauan sistem pendidikan, rekrutmen tenaga pengajar yang penuh kecurangan, dan kurikulum pendidikan yang berantakan, anak-anak ini masih ditekan dengan beban pelajaran yang kelebihan muatan, tugas-tugas, les panjang persiapan ujian, try out, ujian nasional, dan seterusnya. Dan kini bisa di baca di Rumah Baca Mawar

Minggu, 21 April 2013

MEMAKNAI ULANG KELULUSAN



MEMAKNAI  ULANG KELULUSAN


Yaumul hisab, hari perhitungan, bagi para pelajar telah datang. Hari yang menjadi penentu kelulusan masa pendidikan di sekolah akan segera dihelat. Hari yang bertajuk Ujian Akhir Nasional atau biasa disingkat UAN, UNAS, atau UN ini telah sejak lama dinanti dan diharapkan, namun juga ditakuti oleh segenap pelaku pendidikan. Mulai Menteri Pendidikan, Gubenur, Wali Kota/ Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, Guru dan terutama Murid dan Wali Murid. Tak ayal lagi persiapan untuk menyambut UN telah dimulai jauh-jauh hari. Mulai dari penambahan jam pelajaran, baik masuk lebih pagi atau pulang lebih sore, les dan melakukan bimbingan belajar diluar jam sekolah pun diakoni oeh para pelajar. Tak cukup itu, simulasi ujian (try out) dan latihan penyelesaian soal menjadi menu sehari-hari. Praktis selama semester dua hanya latihan-latihan soal yang didapat disekolah.


Tak hanya persiapan yang bersifat teknis, persiapan mental dan spiritual pun tak kalah pentingnya mereka persiapkan untuk menghadapi UN. Doa bersama digelar dimana-mana, bahkan ada salah satu sekolah yang menjadikannya menjadi rutinitas mingguan.

Sakralitas dan mandragunanya UN sebagai faktor (ter)utama kelulusan pelajar juga didukung oleh pemerintah. Tak tanggung-tanggung, dana sebesar 600 milyar rupiah digelontorkan pemerintah pusat untuk menyukseskan perhelatan akbar ini. Jangan bayangkan betapa banyaknya uang enamratus milyar tersebut. Jika ditukar dengan uang seribu lembaran mampu menutupi beribu-ribu kali luas kabupaten Banyuwangi. Atau pun jika uang ribuan tersebut disusun berjajar maka akan mampu mengelilingi bumi lebih dari 663 kali atau setara dengan jarak bolak-balik antara bumi dan bulan. Atau jika ingin lebih humanis, uang ribuan tersebut dibagikan kepada fakir miskin, katakanlah membagi satu lembar uang seribu membutuhkan waktu sepuluh detik, sedangkan kita bekerja sehari selama delapan jam dan lima ari dalam sepekan, maka waktu yang diperlukan untuk menghabiskannya selama 868 tahun 17 hari lebih 160 menit. Mungkin orang Osing hanya bia bilang, “Byeeeek...” sambil salto-salto tujuh kali ke belakang.

Terlepas dari beragam polemik dan kontroversi tentang penyelenggaran ujian nasional, tentunya terdapat niatan mulia untuk menaikkan standard pendidikan di Indonesia. Namun niatan mulia tersebut banyak tak sampai ke relung nurani para kompenen yang terlibat penyelenggaraan UN. Pandangan-pandangan pragmatis untuk meraih kelulusan mengantarkan terhadap tindak kecurangan yang terkesan sistemik. Mulai kebocoran soal, contek masal, joki, pembelian kunci jawaban, sampai-sampai kongkalikong antar pihak pengawas dan pihak sekolah demi “amannya” proses ujian.

Tentunya hal tersebut mencederai tujuan dasar diselenggarakannya ujian. Ujian yang tujuan dasarnya menguji kemampuan peserta didik dalam menyerap materi yang diujikan untuk menilai layak ataukah tidak untuk dinyatakan lulus akhirnya berubah hanya menjadi ajang “sandiwara” formaliltas bahwa sekolah itu harus diakhiri dengan ujian. Ujian nasional 2013 yang menggunakan dua puluh variasi soal menjadi indikator betapa parahnya praktek kecurangan pada pelaksanaan UN.

Bukannya tanpa alasan adanya oknum-oknum yang melakukan kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Banyak faktor yang menyebabkannya. Salah satunya adalah pengkultusan terhadap kelulusan yang ditandai dengan mendapatkan ijazah. Bagaimana tidak, ijazah telah menjadi keris empu gandring yang ampuh untuk menaklukan kerasnya zaman yang disebut-sebut sebagai zaman globalisasi ini. Hampir semua bidang pekerjaan mulai yang remeh temeh sampai yang berbobot membutuhkan kartu truf bernama ijazah. Jadi tidak heran jika banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan selembar ijazah dengan menggunakan berbagai cara, baik yang halal maupun yang haram, demi “menjamin” masa depannya.

Paradigma seperti diatas tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena sistem yang berlaku saat ini ebih senang terhadap hal yang sah secara formal ketimbang bukti nyata. Namun perlu diingat ijazah kelulusan bukanlah modal utama kesuksesan seseorang dalam mengarungi kehidupan. Banyak orang yang berijazah (maaf) yang nganggur, dan tak sedikit orang yang tak berijazah yang meraih sukses dan kaya raya. Kelulusan pun bukan menjadi penanda seseorang itu pandai dan yang tidak lulus itu tidak pintar. Banyak siswa yang berprestasi di sekolahnya justru ketika UN divonis tidak lulus, sedangkan yang biasa-biasa saja justru mendapatkan kelulusan dengan nilai yang baik. 

Banyak contoh orang sukses tanpa ijazah.  Subhash Chandra merupakan salah satu konglomerat India, pendiri Essel Propack Limited mampu menjadikannya menjadi orang kaya.  Majalah Forbes edisi Maret 2009 menempatkan Chandra di urutan 647 orang terkaya dunia dengan kekayaan mencapai 1,1 miliar dollar AS. Bahkan Alan Gerry yang juga tidak menamatkan pendidikan SMA, mampu menjadi biliuner dengan menjadi pengusaha TV kabel yang sukses.

Di Indonesia juga terdapat  orang sukses tanpa ijazah. Sebut saja seorang motivator dan pengusaha sukses bernama Andrie Wongso yang bergelar SDTT alias akronim dari Sekolah Dasar Tidak Tamat. Begitu pula dalam sejarah negara Indonesia yang pernah memiliki Wakil Presiden yang tak berijazah yaitu Adam Malik. Namun wapres ketiga Republik Indonesia ini jangan diragukan agi dalam kemampuan politik dan diplomasinya.

Yang menjadi titik tekan bukan pada penting atau tidaknya nilai kelulusan ataupun ijazah, tapi bagaimana memandang kelulusan maupun ijazah sebagai suatu yang porposional. Pengkultusan terhadap kelulusan dan ijazah yang membabi buta dengan menghalalkan segala cara tanpa peduli baik buruk itulah yang menjadi fokus kajian ini. Selamanya ijazah dan kelulusan itu penting dan sangat berguna dalam kehidupan yang menuntut formalitas pendidikan ini.

Kisah Ajib Rosidi, seorang sastrawan kawak Indonesia, bisa menjadi renungan bersama. Beliau memutuskan tidak mengikuti ujian akhir semasa SMA dikarenakan tersebar isu bahwa telah terjadi kecurangan dengan membocorkan soal-soal ujian. Agar tidak terkena imbas dari kecurangan tersebut dan menjaga “ke-syubhat-an” kelulusannya, beliau mogok ujian. Lalu beliau banyak belajar dan membaca sebagai upaya tandingan bahwa tanpa ijazah dan kelulusan mampu menjadi orang sukses. Akhirnya, beliau menjadi dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di negara Jepang dengan mengajar bahasa Indonesia. Beliau juga mengarang tidak kurang dari lima puluh buku.

 Dari kisah ini semakin jelas bahwa kemampuan lah yang menjadi faktor utama kesuksesan. Jadi  tak perlu menghalalkan cara-cara curang untuk meraih kelulusan. Banyak cara untuk meraih kesuksesan. Caranya tergantung seberapa besar kemauan kita untuk belajar dan berjuang. Nabi Muhammad bersabda pada Siti Aisyah: “Ajruki alaa qodri nasbik- ganjaran untukmu tergantung seberapa usahamu.”
Jika kita belajar dan berjuang secara sungguh-sungguh kita akan eraih kelulusan dan kesuksesan.
Selamat belajar dan berjuang, selamat berujian tanpa kecurangan.

Ayung Nitinegara, Aktivis IPNU Banyuwangi.