menu

Minggu, 18 Maret 2012

Zaman Tanduk

Ayunk Nitinegara

    Zaman Tanduk

    Zaman tanduk adalah zaman ini
    Tanduk tak sekedar tulang yang muncul di dahi
    Tapi tanduk senjata pamungkas yang sejati
    Yang menaikkan gengsi dan harga diri

    Ayam tak cukup hanya bertaji
    Harimau tak garang hanya bertaring
    Gajah tak jantan hanya bergading
    Tiada yang ampuh selain tanduk

    Ayam ingin bertanduk
    Harimau ingin bertanduk
    Gajah ingin bertanduk
    Semuanya membutuhkan tanduk

    Kenapa semua butuh tanduk
    Tak seramkah seringai taring
    Tak ganskah gagahnya gading
    Tak tebaskah tajamnya taji

    Aku heran dengan kehebatan tanduk
    Jangan-jangan hanya nafsu yang ingin bertanduk
    Tak tahu apa sejatinya tanduk
    Oh…benar-benar zaman tanduk

    Al-anwari 15 maret 2012

    ayung n

Selasa, 06 Maret 2012

buku anak-anak

Kalamun Qodim

Kalämun Qodïmun lä yumallu samä’uhu
Dialah Al-Quran, Kalam Azaliy yang tiada bosan (telinga) mendengarnya

Tanazzaha ‘an Qowlin wa Fi’lin wa Niyyatin
yang Suci Bersih, kosong, dari ucapan, perbuatan, maupun bersit hati

Bihi Asytafï min Kulli Dä-in
Dengan al-Quran, aku berobat dari segala penyakit

wa Nüruhu Dalïlun li Qolbï ‘inda Jahlï wa Khayroti
dan Cahaya Al-Quran menjadi petunjuk bagi hati, di saat tidak tahu dan bimbangku

Fa Yä Robbi Matti’nï bi Sirri Khurüfihi
Maka Duhai Tuhanku, hiburlah aku dengan Rahasia tiap Hurufnya

Wa Nawwir bihi Qolbi wa Sam’iy wa Muqlatiy
Dan terangilah, dengan Al-Quran, hatiku, pendengaranku, dan penglihatanku

Wa Hablï bihi Fatkhan wa ‘Ilman wa Khikmatan
Dan karuniakan padaku, dengan Al-Quran, Keterbukaan Hati, Kepahaman Ilmu, dan Hikmah

Wa Änis bihi Yä Robbi fil Qobri Wakhsyatï
Dan gembirakanlah dengan Al-Quran, Duhai Tuhanku, kesusahan dalam Kuburku

Wa Sahhil ‘alayya Khifdzohu tsumma Darsahu
Dan mudahkanlah bagiku, menghafalkannya, lalu mempelajarinya

Bi Jähin Nabiy wal Äli tsumma shohäbat
Dengan kedudukan mulia Sang Nabi, Keluarga beliau, dan para Sahabat Sang Nabi

Wa Sholli wa Sallim Kulla Yaumin wa Laylatin
Dan Shalawat serta Salam, tiap siang maupun malam

‘Alä Man bihir Ròkhmänu Yaqbalu Da’wati
terhaturkan bagi Sang Nabi, yang dengannya, semoga Allah Ar-Rahman mengabulkan pintaku

Wa Älin wa Ashkhäbin Kirömin A-immatï
dan juga bagi Keluarga Nabi, serta para Shahabat Mulia Para Pemimpinku

Bihim Yaghfirul Ghoffäru Dzanbï wa Zallatï
Dengan mereka, semoga Allah Al-Ghoffar mengampuni dosa dan kelalaianku

Sabtu, 03 Maret 2012

Jumat, 02 Maret 2012

Istilah Islam dan Kata - Kata Arab

Renungan Sepeda : Istilah Islam dan Kata - Kata Arab
oleh Ayunk Nitinegara pada 11 Februari 2012 pukul 13:31 ·

ketika nggoes pergi ke kampus banyak papan nama yang mencantumkan kata – kata berbau islam alias pake’ bahasa arab. Mulai dari laundry at-thohiriyah, laundry syariah, warung makan syariah, bank muamalat, dan juga masih banyak lainnya di tempat lain yang menggunakan kata – kata arab. Penggunaan kata – kata arab yang penulis maksud disini bukan penyerapan kata sebagaimana lazimnya penyerepan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, tapi penggunaan bahasa arab ini sebagai sebuah symbol –simbol tertentu.

Menurut penulis, fenomena penggunaan kata – kata islam (dalam hal ini bahasa arab) sekurangnya dipicu dua motivasi. Pertama, ingin menunjukkan jati diri keislamannya. Dengan menggunakan kata – kata dalam bahasa arab yang berbau islam ingin menunjukkan bahwa sang pengguna merupakan orang islam yang sejati. Penggunaan bahasa sebagai penunjukan identitas ini terkadang menimbulkan suatu keeksklusifan bagi penggunanya. Contohnya adalah penggunaan panggilan ikhwan sebagai kata panggilan kepada sesame kelompoknya. Hal ini  akan mengesankan ketertutupan (eksklusif) kelompok tersebut terhadap kelompok yang lain.

 Kesan lain dari penggunaan kata adalah terkesan memisahkan diri dari bentuk lokalitasnya serta bentuk arogansi. Misalnya, menggunakan kata ta’lim sebagai kata ngaji (mengaji) ataupun kata mushollah  daripada kata surau atau langgar. Hal ini seakan –akan melegetemasi bahwa hanya orang – orang yang pergi ta’lim saja yang mempelajari islam dan yang mengaji tidak murni mempelajari islam dan orang yang berada di surau atau langgar tidak bisa dipastikan untuk beribadah kepada Tuhan dibandingkan dengan orang yang berada di mushollah yang pasti melakukan sholat. Benarkah hal ini? Tidak tentunya. Dan jika prasangka – prasangka itu benar, bukankah suatu bentuk arogansi dan pemisahan diri dari tradisi lokalnya?

 Bentuk penggunaan bahasa arab terkadang juga menimbulkan ambiguitas antara makna kata dan maksud penggunaan. Misalnya, dalam penggunaan kata sholat. Sebagian orang islam lebih suka menggunakan kata sholat karena merupakan ajaran islam dan mempresentasikan islam yang benar dan seakan-akan mengharamkan penggunaan kata sembayang sebagai kata ganti dari sholat dengan dalih kata sembayang adopsi dari agama lain yang akan mengancam identitas keislaman, jarene!. Padahal jika kita mau meneliti agak dalam penggunaan kata sholat maupun sembayang adalah hal yang sama dari sudut kebahasaan (etimologi). Sembayang merupakan gabungan dari kata sembah  yang artinya menyembah dan kata hyang yang artinya Tuhan, maka sembayang adalah menyembah Tuhan sebagaimana yang dimaksud dengan sholat. Dan jika mau jujur, kata sholat sendiri juga bukan meerupakan kata asli dari islam, namun merupakan kata yang digunakan bangsa Arab jahiliyah untuk menunjukkan arti mohon ampun kepada Tuhan. Dengan begitu, bukankah kita mengikuti ajaran jahiliyah? Tidak kan.

Kedua, motivasi penggunaan kata – kata arab ini mengindikasikan bentuk pencitraan demi kepentingan pragmatis. Banyaknya suatu industri, apapun bidang dan bentuknya, menggunkan nama – nama islam hanya ingin menampakkan kesan “islami” – sebagaimana fenomena yang penulis sebut diawal tulisan –  sehingga akan menarik minat konsumen muslim. Jika pada prakteknya industri yang menggunakan kata – kata Arab ini juga menerapkan apa yang diatur oleh islam sebagaimana yang tercermin dari namanya maka hal ini sah –sah saja dan bagus karena mempermudah konsumen. Namun apabila antara nama dan praktek itu berbeda apakah tidak disebut munafiq? Misalnya, ada suatu tempat pencucian pakaian (laundry) menggunakan kata – kata arab agar terkesan islami, tapi dalam mencuci pakaian tidak memperhatikan najis-suci. Atau ada bank yang menggunakan embel – embel islami namun pada prakteknya cenderung kearah riba. Bukankah hal seperti ini bisa berbahaya? 

Bagi penulis sendiri, penggunaan kata – kata arab untuk mencitrakan keislaman bukanlah hal yang tepat. Karena bagi penulis islam akan tampak islam, dalam artian rahmatan lil alamin, tidak dalam istilah tapi akan tampak dari perbuatan dan sikap. Sebagaimana…… Dengan ini, bukan berarti penulis tidak setuju menggunakan istilah islami atau kata  - kata arab dalam rangka dakwah dan memasyarakatkan islam, tapi perlu digaris bawahi bahwa penggunaannya dalam bentuk kewajaran dan sepatutnya agar tidak timbul apa yang penulis kwatirkan diatas dan timbul islam yang terformalkan dalam istilah. Bukankah islam tersebar di Nusantara karena keberhasilan beradaptasi dengan budaya setempat?

Sampai disini tulisan ini, karena tulisan ini adalah hasil perenungan dan diskusi selama mengayuh sepeda ke kampus STAI Ibrahimy II di Panderejo Banyuwangi dari PP. Al-Anwari Kertosari Banyuwangi bersama Uut (Utlub Karom) dan Irul (Choirul Iksan). Akhir kata, ini hanya sebuah renungan pribadi yang berkemungkinan salah dan hanya kebenaran Allah lah yang benar – benar
benar.



Sabtu, 25 Februari 2012


Ayunk Nitinegara

Faktor Ekstrinsik Kelulusan.
.
Ujian Nasional (UN) sebentar lagi. Kalau tidak salah tanggal 16 april 2012. Sebagian pelajar harap-arap cemas menghadapinya, bisa lulus ataukah tidak.
Sepintas, untuk bisa lulus dari ujian nasional ini, para peserta ujian cukup hanya mempersiapkan faktor-faktor yang berkaitan lansung dengan UN, seperti peningkatan penguasaan materi pelajaran. Namun pada realitanya UN banyak menimbulkan berbagai “misteri”. Adakalanya, peserta ujian yang menonjol ketika masa pembelajaran di sekolah, namun ketika pengungumuman kelulusan mendapat hasil yang sangat mengecewakan, tidak lulus. Tapi, peserta ujian yang biasa-biasa saja ketika sekolah, namun dengan sangat mengejutkan menempati urutan pertama dalam perolehan danum kelulusan. Sobat, believe or not itulah faktanya.
Dari fakta seperti itulah, penentuan kelulusan UN tidak hanya dipengaruhi faktor-faktor instrinsik (dari dalam diri sendiri) saja, seperti peningkatan kompetensi intlektual, persiapan mental dan performa tubuh, serta kecakapan dalam prosedural teknis UN, misalnya pengisian LJK. Tapi juga ada faktor-faktor ekstrinsik yang ikut berperan dalam menentukan kelulusan, yaitu ridho dan doa orang tua, baik ayah-ibu maupun guru.
Ridho dan doa guru tidak kecil peranannya dalam kelulusan dan terlebih lagi pasca kelulusan. Karena ridho dan doa guru bersangkutan erat dengan kemanfaatan ilmu. Banyak kejadian dimana seorang pelajar yang berprestasi disekolah, tetapi ketika terjun kemasyarakat tidak menjadi apa-apa, seolah-olah sederet prestasinya ketika bersekolah tak ada gunanya. Hal-hal seperti inilah berkorelasi penuh pada ridho dan doa guru untuk menyampaikan ilmunya pada anak didiknya. Sedangkan anak yang tidak terlalu menonjol kemampuan akademisnya, karena kebaikan dan akhlaknya pada guru sehingga mendapat ridho dan doa dari guru, bisa mendapat posisi yang terhormat ketika berkecimpung pada masyarakat luas.
Dalam kitab Ta’limul Muta’alim karya Syekh Az Zarnuji (w. 597 H) menerangkan, untuk bisa mendapatkan ridho dan doa guru, yaitu dengan menghormatinya, menghindari membuat guru murka dan menjunjung tinggi segala perintahnya selama tidak melanggar perintah agama. Jika hal itu bisa dilakukan, insyallah kelulusan akan kita gapai dan kenikmatan hidup pun akan dapat kita peroleh.
Selain doa dan ridho guru, doa dan ridho orang tua sangatlah penting dalam setiap langkah hidup kita, apalagi hanya sekedar untuk mendapat kelulusan, doa dan ridho orang tua sangatlah penting.
Ada cerita – entah nyata atau fiktif – dari guruku ketika masih duduk di bangku SMA, tepat saat menjelang UNAS, seperti saat ini. Ada salah seorang siswa di sebuah sekolah di Banyuwangi. Si siswa tersebut tergolong siswa yang cerdas. Pada suatu hari ketika anak tersebut akan pergi untuk bimbingan pelajaran, ternyata sang ibu dari siswa tersebut memanggilnya dan menyuruhnya untuk membelikan sesuatu di toko, namun dengan ketus anak tadi menolak dan ngeluyur pergi. Malihat reaksi anaknya yang seperti itu, sang ibu murka, “ percuma kamu Nak, pintar dan rajin belajar, tapi kalu seperti itu (kurang ajar, pen ) tidak akan lulus kamu Nak…”.
Di luar dugaan, si siswa tadi yang pandai dan menjadi rujukan teman-temannya dikelas ketika UNAS dan digadang-gadang bakal memperoleh nilai tertinggi, ternyata menjadi satu-satunya siswa yang tidak lulus dari kelasnya, padahal teman-temannya yang notabene-nya dia beri jawaban, lulus semua dengan nilai yang cukup memuaskan. Sungguh doa dan ridho orang tua itu sangat penting. Rosulullah bersabda:
“ridhonya Allah tergantung ridhonya orang tua, murkanya Allah juga tergantung murkanya orang tua”
Untuk bisa memperoleh ridho dan doa yang baik dari orang tua kita harus mempunyai adab atau tatakrama kepada beliau. Dalam kitab Maroqil Ubudiyah karya Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi mengklasifikasikan adab pada orang tua itu ada tiga belas yang intinya yaitu berlaku sopan santun, menyayanginya, mematuhi perintahnya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama, berbuat baik, lemah lembut dan rendah hati, serta selalu bepergian setelah mendapat izinnya. Bahkan kepada orang tua kita yang kafir pun kita harus mempergauli beliau dengan baik dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan agama
Lalu bagaimana jika kita telah terlanjur menyakiti hati guru dan orang tua kita?
Memohon maaf dan segera merubah segala perangai kita yang bisa membuat beliau-beliau murka kepada kita sehingga menghalangi ridho dan doa baiknya kepada kita.
Sobat, lagi-lagi ada cerita tentang hal ini. Temanku sekolah, sebut saja Bejo (nama samaran), [hampir] tidak ada kelakuan terpuji darinya. Orang tua, Guru, teman-temannya mengakui kenakalannya. Tidak hanya nakal tapi juga “kurang pandai” dalam hal pelajaran. Jika harus ikut ujian UN, mungkin setiap orang akan memprediksinya tidak akan lulus. Saya pun berani bertaruh apapun, jangankan taruhan motong telinga, terlalu kecil, atau potongan leher, terlalu besar, tapi terserah wez mau milih yang mana? Hehehehe….., dia tidak akan lulus UN. Tapi ternyata, keajaiban datang, anak yang super nakal dan lemot tadi lulus dengan nilai yang tidak terlalu mengecewakan dan tergolong besar untuk tingkatan dia. Lalu pertanyaannya, “Apa rahasianya?”
Ketika seminggu sebelum UN dilaksanakan, anak yang begitu nakalnya ini bersimpuh menangis tersedu-sedu di kaki ibunya, memohon maaf atas segala kelakuannya yang telah mengecewakan sang ibu. Sungguh sang ibu tidak menyangka dan dengan reflek sang ibu menangis dan dengan turut menangis itulah keikhlasan memaafkan terjadi sehingga menghapus segala kesalahannya pada orang tuanya. Tidak cukup itu, ibunya lalu diajak kepada masing-masing gurunya untuk memohonkan maaf atas segala kenakalannya di sekolah, reaksi yang hamper sama dang sang ibu pun, dia terima dari setiap guru.
Ada seorang guru kimia yang membenci temanku karena kenakalannya begitu pula temanku tadi. Pada saat berkunjung ke rumah Bu Guru kimia tadi, saya ikut menemani temanku dan ibunya meminta maaf. Sungguh saya disuguhi sebuah drama kehidupan yang sangat mengharukan. Melebihi keharuan dan dramatisnya flim bollywood dan telenovela, apalagi sinetron Indonesia, hehehe….
Dengan mimik yang jujur dan penuh ketulusan, suara yang agak berat keserakan, mata yang yang sendu, serta dengan kepala tertunduk, terdengar kata-kata yang sangat dalam dan Ku kenang hingga sekarang. Kata temanku pada sang bu guru kimia,” Bu, kulo sadar ,,, kulo niki mboten lebih sae dugi romot, duso kulo teng jenengan luwih ageng tinimbang gunung, kulo semerep, jengan angel nyepunten kulo, mboten mungkin jenengan nrimo kelakuane kulo lantaran mong nedi sepunten,,,, sa’niki kulo kerso nopo mawon kang bade jenengan hukumaken teng kulo, lan kulo ikhlas le’ jenengan ngutuk kulo mboten lulus ujian,,, memang terae kulo mbotan pantes lulus,,, Le’ jenengan mboten kerso nyepunten kulo, kulo mong nedi pendungane jenengan mawon, dunga’aken kulo dadi tiang sae kang saged dadi aken penyepurane tiang katah teng sedantene keaslahane tingkah kulo…”.
Kata-katanya mampu menghipnotis bu guru tadi yang sangat terkenal killer di sekolah, air mata mengalir pelan di pipi bu guru seraya terdengar rintihan doa, “ yo wes le,,, mugi-mugi kon dadi tiang sae”. Sajak saat itulah perangai temanku berubah 180 derajat.
Boleh percaya atau tidak, nggak masalah, tapi yang menjadi entry point-nya adalah ridho dan doa orang tua dan guru harus segera kita peroleh. Dan, jika kita terlanjur berbuat salah sesegera mungkin meminta maaf dengan setulus hati.
Semoga teman-teman sekalian yang akan menghadapi ujian nasional lulus semua dengan hasil yang terbaik. Amin!

Catatan: Penulis adalah mantan siswa yang merasakan UN tingkat SMA dua kali berturut-turut dengan sekali tidak ulus dn sekali lulus, plus sekali ikut ujian paket C, hahaha

Senin, 13 Februari 2012

Sudah ada di RMB


Karya A fuad, setelah karya pertamanya Negri 5 menara.
Ranah 3 Warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa. Tuhan bersama orang yang sabar, memang novel ini sekilas tampak seperti novel religi, tetapi sangat informatif, diskriptif sehingga pembaca dapat membayangkan kondisi penulis saat itu. dan novel ini juga mengandung muatan etika komonikasi antar manusia, bangsa, adat dan budaya, selain itu juga mengajarkan kita mempertahankan eksistensi pembaca sebagai manusia, yaitu berusaha, bekerja, dan berdoa..manjadda wajada man shobara zha fira