Ketika sesuatu mengalami suatu tekanan (pressure) maka sesuatu yang tertekan tersebut akan balik menekan kepada penekan ataupun kepada sekitarnya, baik dengan tekanan yang sama ataupun tekanan yang lebih kecil bahkan lebih besar. Itulah hukum kekekalan energi. hukum kekekalan energi mungkin dapat dijadikan titik berangkat untuk menjelaskan relasi barat (Kristen) – timur (islam).
Kedua peradaban (agama dan kebudayaan) ini dalam lintasan sejarah saling melakukan “penekanan” satu sama lain. Ketika satu peradaban menjadi superior dan menekan peradaban yang lain, maka peradaban yang ditekan – otomatis merupakan peradaban yang lebih lemah – akan melakukan penekanan balik.
Memang, tekanan peradaban – the clash of civilizations dalam istilah Samuel Hutington – yang superior terhadap ke peradaban lebih kecil tidak melulu melahirkan serangan balik yang destruktif, namun juga menghasilkan apresiasi yang menimbulkan kolaborasi dan akulturasi peradaban.
Dari tesis inilah dapat dijadikan benang merah untuk menjelaskan kesamaan antara barat (Kristen) – timur (islam) dalam upaya saling mempengaruhi satu sama lain.
Kondisi umat (Negara) islam dewasa ini sama dengan kondisi barat (Kristen) pada abad kedelapan masehi dimana barat berada dalam masa kegelapan dan berada dibawah peradaban islam (timur). Ketika islam (bangsa Arab) pada abad kedelapan mulai memasuki Eropa (barat) yang masih barbar dan mulai membangun peradaban islam di Eropa merupakan awal “invasi perdaban” islam ke barat. Invasi peradaban ini mulai mengubah warna Eropa dengan wajah “islam”.
Invasi peradaban islam ke Eropa berpengaruh terhadap agama dan kebudayaan barat yang sebelumnya “gelap” menjadi lebih “terang”, minadz dzulumati ilaan nur. Proses invasi peradaban ini menimbulkan komunitas Mozarabs atau Arabisers , yaitu komunitas yang setuju dan banyak mengambil manfaat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang dibawa peradaban islam. Namun invasi peradaban ini juga menimbulkan kelompok – kelompok yang kontra, seperti para martir yang mengorbankan nyawanya dengan melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad sebagai bentuk perlawanan terhadap peradaban islam (lihat: Karen Amstrong: Muhammad, A History of Prophet).
Saat ini kondisi berbalik 180 derajat dimana dulu islam (timur) menginvasi barat tapi sekarang justru barat yang menginvasi peradaban timur (islam). Invasi kebudayaan ini juga menimbulkan reaksi yang sama dengan reaksi bangsa barat dulu. Banyak umat islam (orang timur) yang menimba ilmu ke barat karena kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan sehingga membentuk komunitas yang pro-barat dengan sederet filterasi maupun dengan mutlak dalam menerimanya. Namun juga menimbulkan kelompok – kelompok yang kontra terhadap kebudayaan barat sehingga menimbulkan aksi – aksi ekstrimis dan fundamentalis.
Para martir pada abad kedelapan ataupun para ekstrimis muslim saat ini merupakan orang-orang yang tercerabut dari akar kebudayaannya. Dimana akar – akar budaya yang ada tergantikan dengan unsur budaya yang lain. Pergantian kebudayaan ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi sebagian orang bahkan bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan. Ketika dua kebudayaan bertemu dan terjadi benturan – benturan maka itu merupakan pemicu suatu konflik, sebagaimana tesis Samuel Hutington.
Menurut Karen Amstrong, ketika suatu akar-akar kebudayaan ini tercerabut maka akan timbul gejala pelarian terhadap kehidupan keberagamaan yang semakin agresif. Keberagamaan yang agresif inilah yang akan menjadi pemicu konflik sebagaimana yang terlihat, baik dari para martir Kristen abad kedelapan maupun para ekstrimis muslim saat ini.
Untuk bisa menghindari adanya konflik peradaban, perlu adanya penguatan kebudayan local agar tak tergerus kebudayaan asing yang pada akhirnya akan meninmbulkan kepanikan budaya sehingga memunculkan gerakan – gerakan ekstrim dan brutal.
Senin, 13 Februari 2012
Banyuwangi dan Lapternya.
Kemajuan Banyuwangi dan Lapter Blimbingsari
Banyuwangi adalah kabupaten tertimur dari propinsi Jawa Timur. Kabupaten yang pada jaman kerajaan bernama Blambangan ini sekarang mulai menatap masa depan lebih jauh. Dengan diresmikannya lapangan terbang ( lapter) Blimbingsari diharapkan akan menjadi pintu gerbang kabupaten yang berbatasan dengan selat Bali ini. Dengan begitu, lapter Blimbingsari akan menjadi alternatif transportasi sehingga akan memudahkan aktifitas warga Banyuwangi dalam berbagai hal, terutama dalam masalah perekonomian. Lapter yang terletak di Desa Blimbingsari Kecamatan Rogojampi akan menjadi tonggak pembangunan di Banyuwangi.
Posisi lapter di desa Blimbingsari ini merupakan sesuatu yang menarik. Dari tinjauan sejarah, Blimbingsari merupakan pintu gerbang Banyuwangi sejak kabupaten ini masih berupa kerajaan Blambangan. Dalam catatan sejarah, setidaknya ada dua peristiwa penting dimana Blimbingsari berperan menjadi pintu gerbang.
Pertama, peristiwa pendaratan utusan dari Buleleng (Bali). Dalam babad blambangan diceritakan ketika Prabu Tawang Alun (raja Blambangan yang berkedudukan di Macan Putih) meninggal dunia terjadi suksesi kekuasaan ke tangan anaknya, Pangeran Sasranegara. Namun karena suksesi ini tanpa perundingan dengan sanak kelurga dan para sesepuh kerajaan, maka terjadi huru – hara yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Sasranegara. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1697.
Mendengar peristiwa itu, kerajaan Bali mengutus Gusti Made Karang Asem dan Gusti Gede Panji Kertanegara beserta 400 bala tentara dan 500 pasukan pemikul yang bertujuan untuk mengatasi huru – hara di Blambangan agar kembali aman seperti masa Prabu Tawang Alun. Gede Panji Kertanegara beserta 500 pasukannya mendarat di “pintu gerbang” Banyualit. Kemudian bersama dengan Gusti Made Karang Asem dan pasukannya yang mendarat di Watu Dodol menuju ke kerajaan Blambangan di Macan Putih.
Banyualit yang menjadi lokasi masuknya pasukan Bali ini merupakan daerah pelabuhan pada zaman kerajaan Blambangan. Banyualit ini sekarang berada di desa Blimbingsari. Tapi, Banyualit sendiri sekarang sudah terbagi menjadi dua dusun, yaitu dusun bentengan yang berbatasan lansung dengan selat bali dan dusun krajan yang menjadi lokasi lapangan terbang.
Setelah kunjungan kerajaan Bali tersebut, kerajaan Blambangan kembali normal dibawah kepemimpinan Prabu Danureja (putra Pangeran Sasranegara) dan Patih Pangeran Sutanegara.
Peristiwa kedua yang terjadi di Blimbingsari (Banyualit) adalah pendaratan pasukan Belanda (VOC).
Pada tahun 1765/ 1766 para pedagang Inggris mulai melakukan aktifitas perdagangan di wilayah Blambangan, tepatnya di daerah Tirta Ganda. (sekarang adalah kampung Inggrisan di depan gesibu Blambangan, Kelurahan Kepatihan Kecamatan Banyuwangi). Aktifitas para pedagang Inggris ini menimbulkan “kecemburuan” VOC. Pada tanggal 23 maret 1766 pasukan VOC dibawah pimpinan Edwin Blanke mendarat di Banyualit. Pendaratan pasukan VOC di Banyualit inilah awal mula penjajahan di bumi Blambangan.
Dua peristiwa sejarah yang bermula dari pelabuhan Banyualit ( Blimbingsari ) menarik jika kita jadikan refleksi bagi keberadaan lapangan terbang yang juga berada di lokasi yang sama – Blimbingsari – dan fungsi yang sama, sebagai “pintu gerbang” Banyuwangi (Blambangan pada tempo dulu). Akankah Lapter Blimbingsari ini mampu mendaratkan “utusan-utusan kerajaan Bali” yang membawa kestabilan dan kemajuan bagi Banyuwangi ke depan? Atau malah mendaratkan “serdadu-serdadu VOC” yang akan mendatangkan malapetaka?
Keberadaan Lapter Blimbingsari ini, mampukah mewujudkan ekspetasi awal masyarakat Banyuwangi sebagai jalur transportasi baru yang nantinya akan mendatangkan para investor yang akan meningkatkan perekonomian di Banyuwangi dan peningkatan kunjungan pariwisata ke kota gandrung ini?. Jika ekspetasi ini terwujud berarti keberadaan Lapter Blimbingsari bisa menjadi seperti pelabuhan Banyualit yang mendaratkan utusan-utusan kerajaan Bali. Namun, tentunya kemajuan-kemajuan yang akan didapat Banyuwangi ke depan tidak akan terlepas dari hal-hal negatif.
Sebagaiamana di maklumi bersama, kemajuan akan berkibat pada perubahan moralitas dan budaya. Jika efek perubahan moralitas dan budaya yang menuju kearah destruktif ini lebih dominan dari pada efek-efek positif kemajuan maka keberdaan Lapter Blimbingsari tak ubahnya pelabuhan Banyualit yang mendatangkan serdadu-serdadu VOC.
Harapan kita sebagai masyarakat Banyuwangi tentunya Lapter Blimbingsari ini bisa menjadi salah satu katalisator kemajuan masyarakat Banyuwangi dengan ke-mudharat-an seminimal mungkin. Amin!
Banyuwangi adalah kabupaten tertimur dari propinsi Jawa Timur. Kabupaten yang pada jaman kerajaan bernama Blambangan ini sekarang mulai menatap masa depan lebih jauh. Dengan diresmikannya lapangan terbang ( lapter) Blimbingsari diharapkan akan menjadi pintu gerbang kabupaten yang berbatasan dengan selat Bali ini. Dengan begitu, lapter Blimbingsari akan menjadi alternatif transportasi sehingga akan memudahkan aktifitas warga Banyuwangi dalam berbagai hal, terutama dalam masalah perekonomian. Lapter yang terletak di Desa Blimbingsari Kecamatan Rogojampi akan menjadi tonggak pembangunan di Banyuwangi.
Posisi lapter di desa Blimbingsari ini merupakan sesuatu yang menarik. Dari tinjauan sejarah, Blimbingsari merupakan pintu gerbang Banyuwangi sejak kabupaten ini masih berupa kerajaan Blambangan. Dalam catatan sejarah, setidaknya ada dua peristiwa penting dimana Blimbingsari berperan menjadi pintu gerbang.
Pertama, peristiwa pendaratan utusan dari Buleleng (Bali). Dalam babad blambangan diceritakan ketika Prabu Tawang Alun (raja Blambangan yang berkedudukan di Macan Putih) meninggal dunia terjadi suksesi kekuasaan ke tangan anaknya, Pangeran Sasranegara. Namun karena suksesi ini tanpa perundingan dengan sanak kelurga dan para sesepuh kerajaan, maka terjadi huru – hara yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Sasranegara. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1697.
Mendengar peristiwa itu, kerajaan Bali mengutus Gusti Made Karang Asem dan Gusti Gede Panji Kertanegara beserta 400 bala tentara dan 500 pasukan pemikul yang bertujuan untuk mengatasi huru – hara di Blambangan agar kembali aman seperti masa Prabu Tawang Alun. Gede Panji Kertanegara beserta 500 pasukannya mendarat di “pintu gerbang” Banyualit. Kemudian bersama dengan Gusti Made Karang Asem dan pasukannya yang mendarat di Watu Dodol menuju ke kerajaan Blambangan di Macan Putih.
Banyualit yang menjadi lokasi masuknya pasukan Bali ini merupakan daerah pelabuhan pada zaman kerajaan Blambangan. Banyualit ini sekarang berada di desa Blimbingsari. Tapi, Banyualit sendiri sekarang sudah terbagi menjadi dua dusun, yaitu dusun bentengan yang berbatasan lansung dengan selat bali dan dusun krajan yang menjadi lokasi lapangan terbang.
Setelah kunjungan kerajaan Bali tersebut, kerajaan Blambangan kembali normal dibawah kepemimpinan Prabu Danureja (putra Pangeran Sasranegara) dan Patih Pangeran Sutanegara.
Peristiwa kedua yang terjadi di Blimbingsari (Banyualit) adalah pendaratan pasukan Belanda (VOC).
Pada tahun 1765/ 1766 para pedagang Inggris mulai melakukan aktifitas perdagangan di wilayah Blambangan, tepatnya di daerah Tirta Ganda. (sekarang adalah kampung Inggrisan di depan gesibu Blambangan, Kelurahan Kepatihan Kecamatan Banyuwangi). Aktifitas para pedagang Inggris ini menimbulkan “kecemburuan” VOC. Pada tanggal 23 maret 1766 pasukan VOC dibawah pimpinan Edwin Blanke mendarat di Banyualit. Pendaratan pasukan VOC di Banyualit inilah awal mula penjajahan di bumi Blambangan.
Dua peristiwa sejarah yang bermula dari pelabuhan Banyualit ( Blimbingsari ) menarik jika kita jadikan refleksi bagi keberadaan lapangan terbang yang juga berada di lokasi yang sama – Blimbingsari – dan fungsi yang sama, sebagai “pintu gerbang” Banyuwangi (Blambangan pada tempo dulu). Akankah Lapter Blimbingsari ini mampu mendaratkan “utusan-utusan kerajaan Bali” yang membawa kestabilan dan kemajuan bagi Banyuwangi ke depan? Atau malah mendaratkan “serdadu-serdadu VOC” yang akan mendatangkan malapetaka?
Keberadaan Lapter Blimbingsari ini, mampukah mewujudkan ekspetasi awal masyarakat Banyuwangi sebagai jalur transportasi baru yang nantinya akan mendatangkan para investor yang akan meningkatkan perekonomian di Banyuwangi dan peningkatan kunjungan pariwisata ke kota gandrung ini?. Jika ekspetasi ini terwujud berarti keberadaan Lapter Blimbingsari bisa menjadi seperti pelabuhan Banyualit yang mendaratkan utusan-utusan kerajaan Bali. Namun, tentunya kemajuan-kemajuan yang akan didapat Banyuwangi ke depan tidak akan terlepas dari hal-hal negatif.Sebagaiamana di maklumi bersama, kemajuan akan berkibat pada perubahan moralitas dan budaya. Jika efek perubahan moralitas dan budaya yang menuju kearah destruktif ini lebih dominan dari pada efek-efek positif kemajuan maka keberdaan Lapter Blimbingsari tak ubahnya pelabuhan Banyualit yang mendatangkan serdadu-serdadu VOC.
Harapan kita sebagai masyarakat Banyuwangi tentunya Lapter Blimbingsari ini bisa menjadi salah satu katalisator kemajuan masyarakat Banyuwangi dengan ke-mudharat-an seminimal mungkin. Amin!
Sabtu, 04 Februari 2012
Puisi untuk Nabiku
Walaupun aku tak pernah bertemu dengan mu
akupun belum pernah menatap wajahmu
tapi aku selalu menyebut namamu
aku selalu ada dalam ingatanku
Aku merindukanmu Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembuat-wibawamu
Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengan suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu
Aku Merindukanmu. Muhammadku.
oleh "Gus Mus"
Surabaya 02042012
akupun belum pernah menatap wajahmu
tapi aku selalu menyebut namamu
aku selalu ada dalam ingatanku
Aku merindukanmu Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembuat-wibawamu
Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengan suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu
Aku Merindukanmu. Muhammadku.
oleh "Gus Mus"
Surabaya 02042012
Jumat, 03 Februari 2012
Available @ RMB
Warisan Pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid
Banyak orang melihat Gus Dur sebagai misteri, sebagai sosok
manusia yang tak terjangkau rasionalitas. Adanya pandangan ini sesungguhnya
merupakan cerminan dari kenyataan bahwa tak mudah bagi setiap orang untuk dapat
memahami Gus Dur, tokoh yang memiliki wilayah jelajah pemikiran yang teramat
luas, kompleks, dan multidimensional.
Kumpulan tulisan ini diterbitkan kembali untuk mengenang
jasa-jasa Gus Dur, sang guru bangsa. Selama hidup, dalam kiprah sosial dan
politiknya Gus Dur dikenal sebagai tokoh kontroversial. Apakah karakter
kontrovesial itu juga terefleksikan dalam pemikiran-pemikirannya? Jawabannya
bisa diperoleh setelah Anda membaca buku ini.
Koleksi Buku RBM
"Demokrasi itu
harga mati.
Demokrasi itu kebenaran sejati.
Demokrasi itu la roiba fi h, tak ada keraguan padanya."
Dengan pandangan yang jernih, Cak Nun mengulas masalah
demokrasi dinegeri kita. Demokrasi itu bak ”perawan”, yang merdeka dan
memerdekakan. Watak utama demokrasi adalah ”mempersilakan”. Tidak punya konsep
menolak, menyingkirkan, atau membuang. Semua makhluk penghuni kehidupan berhak
hidup bersama ”si perawan” yang bernama demokrasi, bahkan berhak memperkosanya:
yang melarang memperkosa bukan si perawan itu sendiri, melainkan ”sahabat”-nya
yang bernama moral dan hukum.
Di mata Cak Nun, berbagai persoalan apa saja
menjadi sangat menarik. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi mengulas masalah
pemilihan presiden, golput, paguyuban ahli surga, bahkan menyentil negeri kita
layaknya Gatotkaca gagah perkasa tetapi menderita sakit lupus. Dan yang tak
kalah penting, bagaimana soal Islam Indonesia yang bersikap ”look up” kepada
Koleksi Buku RBM
Judul : Jilbab Pakaian Wanita Muslimah
M. Quraish Shihab berusaha
membentangkan aneka pendapat, baik pandangan ulama terdahulu yang terkesan
ketat, maupun cendekiawan kontemporer yang dinilai longgar mengenai jilbab.
Penulis menghidangkan dalil dan argumentasi masing-masing pendapat seobjektif
mungkin, sesuai nalar dan pertimbangan penulis, dengan harapan kita dapat
memahami jalan pikiran semua pihak, dan tidak saling mengkafirkan dan
tuduh-menuduh antar kita. Yang terpenting, buku ini mengungkapkan hal-hal yang
perlu anda perhatikan agar pakaian dan tingkah laku anda tidak bertentangan
dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Kerajaan Indonesia
Sudah tersedia di RBM
Cak Nun adalah sosok yang memiliki pandangan, pendekatan,
dan analisis yang khas terhadap pelbagai macam persoalan yang ada di
masyarakat. Mulai dari masalah sosial, politik, kesenian, hingga persoalan
keagamaan. Itu sebabnya, media kerap memintanya menuturkan
pandangan-pandangannya seputar isu-isu aktual yang tengah hangat.
Buku ini merupakan himpunan wawancara Cak Nun oleh
sejumlah media. Di dalamnya terdapat topik-topik konseptual seperti
relegiusitas, sekularisme, politik nasional, politik Islam, hingga soal-soal
aktual seperti Islam Yes Parpol Islam Yes, ekspresi kebudayaan umat Islam, dan
lain sebagainya. Termasuk juga ada wawancara tentang Padhang Mbulan, sebuah
forum pengajian yang hingga saat ini sudah 14-an tahunan diampunya. Sebuah
forum yang menjadi "mbarep"-nya forum sejenis di empat kota lainnya:
(Mocopat Syafaat di Yogyakarta, Kenduri Cinta di Jakarta, Gambang Syafaat di
Semarang, dan Bangbang Wetan di Surabaya)
Langganan:
Postingan (Atom)




