menu

Sabtu, 14 Januari 2012

Hidayah VS Nafsu


Bertas – tas masalah tak pernah tuntas. Menumpuk hingga keatas. Tidak pernah tau kapan akan diberantas. Berbagai masalah semakin mengeras tanpa tau mana batas bawah, mana batas atas.
Ketika ada yang dibawah mencoba mengurai masalah yang beranak –pinak dan semakin pedas dan panas ini, selalu kan terbentur, “mohon petunjuk Yang Di Atas.”
 “Taukah apa yang akan terjadi?”
“Semuanya akan kandas.”
“Kenapa kandas?”
 “Karena petunjuk Yang Di Atas.”
Saat emas-emas terpancar siap menjadi palu kuning yang akan menggempur berhala – berhala masalah yang semakin keras, terdengar,
“Bagus!”
“Aku mendukungmu.”
“Jalankan.”
“Oke!”
sambutan berdatangan menyonsong cahaya palu kuning untuk melunakkan kerasnya berhala –berhala yang selama ini menggelayut mengganggu siapa saja yang ingin berlarimenembus cakrawala. “Taukah kalian kawan apa yang terjasi?”
“Mohon petunjuk Yang Di Atas.”
“Selanjutnya bagaimana?”
“sudah pasti: semuakan terhempas.”
“Bahkan taukah kalian kawan?”
“Tidak hanya palu kuning yang meleleh menjadi barang bekas yang tak berharga dan hanyut di saptitank – saptitank hina, tapi si empunya emas juga bisa –bisa tertebas menjadi mayat tanpa kepala ditumbuhi belatung – belatung atau singgat yang menggrogoti kerongkongan dan otak si kepala yang bergulir diseret arus amarah.”
“Makanya jangan  macam –macam usul, mendikte, apalagi “sok” mengajari Yang Di Atas,  jika kalian tak mau terhempas.”
“Hati –hati kawan. Yang Di Atas bahkan bisa mengalahkan Yang Ter-Atas.”
“Taukah kalian kawan siapa Yang Ter-Atas itu?”
“Yang Ter-Atas tentu lebih hebat dari  Yang Di Atas, tapi Yang Ter-Atas tak mau mengalahkan Yang Di Atas  sehingga Yang Di Atas Merasa sesakti Yang Ter-Atas.”
“Ssstt… jangan bilang siapa-siapa kawan. Ini rahasia. Jangan sampai tersebar, karena jika sampau tau Yang Si Atas, dia akan memuntahkan lahar-lahar kemarahan dari tenggorokan, telinga, hidung, mata, dubur, dan dari semua yang berlubang.”
“Apa itu?” pelan.
“Yang Di Atas tidak pernah sepaham dengan Yang Ter-Atas. Dan Yang Di Atas juga tidak peduli karena Yang Di Atas menganggap Yang Ter-Atas sama dengan dirinya.”
“Apakah ingin mengkudeta?”
“Tidak!” keras.
“Tapi Yang Di Atas sudah capek berada di atas. Yang Di Atas ingin hancurkan semuanya. Semua bangunan yang dibangun oleh Yang Ter-Atas.” Berbisik.
“Kenapa?.” Lirih.
“Agar tak ada lagi batas atas dan bawah.”
“Kenapa?”
“KOk bisa?”
“Ada apa?”
“Apa sebabnya?”
Berpuluh-puluh pertanyaan menyerbu laksana rentetan peluru.
Hening……
Tak terdengar lagi suara di kamar yang berantakan itu. Padam. Gelap. Sunyi. Senyap.
Berbisik…….
“Kita semua berlindung saja kepada Yang Maha Atas, atas segala yang di atas dan yang merasa teratas karena hanya Yang Maha Atas saja yang mampu mengatasi atas segala masalah.”
Braaak……
Pintu tertutup.
Aku terbangun.


acara perdana RBM

idul fitri adalah hari kemenangan setelah kita melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh, momen itu di isi dengan acara lomba gemar takbir oleh crew RBM, meskipun sempat tertunda acaranya akibat salah prediksi datangnya hari raya idul fitri tapi akhirnya bisa berjalan dengan lancar dan meriah.
terima kasih atas support para sponsor..
ditunggu tahun depan yang lebih meriah ok..
RBM crew galerry nya:

Disfungsi Otak

ketika spektrum matahari yang terang terbias gas nitrogen dan oksigen garis horizon bumi
menyebar memancarkan sinar kuning dan jingga yang menembus retina
saat itulah aku duduk
duduk di atas bongkahan tanah yang telah terkikis oleh natrium clorida air laut......
sambil berfikir...
mengapa saat retina menangkap bayang gadis itu menggetarkan syaraf otak ku..
seakan mengaktifkan kembali zat-zat dhopmin yang sudah lama tak bereaksi.....
otak kiriku seakan mengalami disfungsi..
aku seakan tak bisa mengaktifkan fungsi retina secara otomatis.....
saat kau jauh dari pandanganku
aku tau
aku tak sempurna
tapi dengan dirimu hidupku akan lebih sempurna...
aq tak berjanji tuk slalu membuat mu tersenyum
tapi aku akan selalu berusaha mencegah mu agar kau tak menangis.....
"kaulah cintaku"



Banyuwangi 14 januari 2012


Ibnu Hafid

Selasa, 10 Januari 2012

Esensi Sastra


Pengujung Tahun Masehi

Sudah tahu hidup sementara
mengapa manusia masih sulit di kata
sudah tahu hidup sementara
tapi masih ada saja yang ngefans dengan angkara murka
tahun baru
            tapi umur bumi semakin merunduk
            kapan waktu kita untuk tertunduk
            berlutut kepada sang kholiq
ahh....
cukup ..
aku tak kuat memikirnya
di kutip dari buku Menjemput Kesedihan
oleh AKSI 
                                                Surabaya, 29 desember 2009
diperankan oleh model




Sabtu, 07 Januari 2012

setitik mimpi di seribu asa


Ehem….
                Tinggalkanlah gengsi hidup berawal dari mimpi, malam ini aku punya rencana yang tidak begitu hebat, memang hidup tak selalu indah dan kadang tak sesuai dengan harapan kita, dimana tak jarang kita mendapat penolakan, cemoohan, sedikit sanjungan dan banyak hambatan… itulah secuil kehidupan, tapi coba aku cari setitik harapan dari sejuta mimpi yang selama ini aku rajut bersama alam bawah sadarku, di alam bawah sadar ku, aku bebas meng ekspresikan semua yang aku mau, mulai dari hal yang sepele sampai yang kompleks..
                Membaca, dalam kitabku alquran mengajarkan kita harus membaca, membaca apa saja, dengan begitu kita akan tahu sesuatu, kita bisa memilah sesuatu, kita bisa menentukan sesuatu, tapi setelah membaca apa yang akan kita lakukan? Seberapa banyak buku yang aku baca tapi begitu selesai membaca , selesai juga imajinasiku dalam menikmati dunianya…
                Do (mengerjakan) setiap kepala mempunyai tujuan masing-masing yang berbeda, salah satu tujuanku adalah menciptakan suasana yang nyaman untuk membaca, tentunya tak cukup suasananya saja tapi kalau tidak ada yang dibaca sama saja bohong..
                Bagaimana kalau kita menemui sebuah kampong kecil yang ada di sebelah timur pulau jawa ini ada sederet anak-anak, muda-mudi berkumpul di sebuah gubuk yang sederhana  sedang membaca dan berdiskusi, kampong yang sederhana itu tak ada kenakalan remaja, dan semuanya mempunyai pekerjaan dan rajin ketempat ibadah, dan para pemuka agama yang hidup berdampingan meskipun berbeda keyakinan, sejuk, bersih, tak perlu banyak gedung mewah disana, tak perlu padat alat transportasi disana, hanya ada sepeda onthel dan sedikit motor, dan hanya dongkar yang berlalu lalang,
                Desa itu sangat potensial menurutku, sawah terhampar luas, pantai yang indah membatasi desa itu, apalagi tak jauh telah dibangun lapter, sangat istemewa bukan.
                Dengan kondisi diatas saya mencoba menerapkan sebuah teori yang simple, yaitu tetap mempertahankan budaya dan alamnya, tetapi merubah main set orangnya agar dapat  memfilter semua hal baru yang masuk

Kamis, 05 Januari 2012

Mempertanyakan asumsi, salah satu cara berpikir diluar kotak.
Think outside the box

Sebagai salah satu syarat berpikir diluar kotak, mempertanyakan sebuah asumsi adalah hal yang cukup rumit dilakukan. Mari kita mulai dengan mengerjakan sebuah soal matematika cepat dan tepat dengan pikiran kita. Janganlah anda gunakan kertas dan pensil atau bahkan kalkulator. Cobalah tambahkan angka-angka ini secepat yang anda bisa. Ada 1000 dan tambahkan 40, lalu tambahkan lagi 1000, tambahkan lagi 30. Tambahkan lagi 1000, lalu tambahkan 20. sekarang tambahkan 1000 lagi dan tambahkan 10. Berapa jumlahnya?

Kepercayaan diri mengenai kemampuan kita dalam penjumlahan mendorong kita berasumsi dan langsung melompat kepada kesimpulan. Jika hasil penjumlahan anda adalah 5.000, anda salah seperti 96% orang yang melakukan penjumlahan ini. Angka-angka ini disusun sedemikian rupa supaya orang-orang mendapatkan jawaban yang salah ketika menambahkan yang puluhan. Hasil yang benar adalah 4.100. Itu adalah kebiasaan manusia. Ketika kita berasumsi bahwa kita tahu bagaimana melakukan sesuatu, kita langsung bertindak tanpa berpikir lagi tentang asumsi yang kita buat. Sejarah penuh dengan ribuan contoh dari apa yang terjadi jika seseorang tidak mempertanyakan asumsi.
Berkutat dengan asumsi, bukan pemikiran

Sekali kita menganggap bahwa kita tahu bagaimana seharusnya sesuatu dikerjakan, kita tetap mengerjakan itu, lalu kita mengajarkan orang untuk melakukan hal yang sama, lalu mereka mengajarkannya pada yang lainnya. Begitu seterusnya sampai pada akhirnya orang tidak pernah tahu kenapa hal itu harus diselesaikan dengan cara itu, namun mereka tetap melakukannya. Sikap manusia yang seperti ini mengingatkan saya kepada sebuah penelitian psikologi yang diceritakan oleh dosen saya sewaktu kuliah dulu.

Penelitian dimulai dengan menempatkan lima monyet kedalam satu kandang yang cukup besar. Di dalam kandang, digantung setandan pisang dan dibawahnya ditaruh tangga untuk menjangkau pisang tersebut. Ketika ada seekor monyet yang berusaha untuk mengambil pisang itu, empat monyet yang lain akan disemprot dengan air es. Berikutnya ketika monyet yang berbeda mencoba mengambil pisang itu. Saat kakinya menyentuh tangga, empat monyet yang lain disemprot dengan air es. Tidak berapa lama, semua monyet akan menghalangi setiap ada monyet yang ingin memanjat tangga itu.
Monyet yang ditukar

Setelah beberapa waktu, peneliti mengganti satu monyet dengan monyet baru. Monyet baru itu melihat ada pisang dan berusaha untuk mendapatkannya dengan menaiki tangga. Hal yang sangat mengejutkan dan juga mengerikan adalah keempat monyet yang lainnya menyerang monyet baru itu. Setelah mencoba lagi dan mendapat serangan lagi, monyet baru itu mengerti bahwa jika dia berusaha untuk menaiki tangga, maka ia akan diserang.

Selanjutnya peneliti mengganti salah satu dari empat monyet awal. Monyet pendatang baru ini menuju tangga untuk meraih pisang tapi dia diserang oleh monyet yang lainnya. Monyet baru yang pertama juga ikut menyerang dengan antusias. Selanjutnya monyet-monyet lama itu diganti satu persatu sampai lima monyet awal tidak ada disitu tetapi ketika ada monyet baru yang masuk kesitu dan berusaha menaiki tangga, dia akan diserang oleh monyet yang lain.

Monyet-monyet yang terakhir ini sebenarnya tidak tahu kenapa mereka dilarang untuk menaiki tangga atau kenapa mereka menghajar monyet yang berusaha melakukannya. Setelah semua monyet diganti, tidak ada satupun dari monyet-monyet itu yang pernah merasakan disiram dengan air es. Pada akhirnya tidak ada seekor monyet pun yang mendekati tangga apalagi menginginkan pisang itu. Kenapa begitu? Karena sejauh yang mereka tahu hal itu akan membuat mereka diserang oleh monyet lain.
Kesimpulan

Seringnya orang mengerjakan hal yang sama dengan monyet-monyet tadi. Berapa kali anda mendengar, “nenek moyang kami melakukannya begini, anda jangan mengacau,” alih-alih mempertanyakan asumsi ini, banyak dari kita seperti monyet diatas, hanya meniru apa yang sudah “benar” dikerjakan oleh orang-orang sebelum kita. Memang, ini adalah hal termudah untuk dikerjakan. Cara berpikir seperti ini membuat sebuah komunitas tidak akan pernah maju.

Monyet-monyet diatas mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh diam dan mengikuti begitu saja apa yang pendahulu kita lakukan. Sangat disarankan bagi kita untuk mencari tahu penyebab kenapa sesuatu dilakukan dengan cara seperti itu. Juga perlu mempertanyakan asumsi kita sendiri tentang segala macam hal. Jangan sampai kita mengikuti sesuatu tanpa tahu ilmunya karena jika anda orang Islam, dengan jelas Allah melarangnya.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.” (Al-Isra’:36)

Bagaimana menurut anda?

Surabaya oh Surabaya


Bismillahirohmanirrohim
                Tahun baru kali ini sangat berkesan, karna telah kulewati dengan teman-teman ATI (arek teknik industri) bukan hanya itu, karna kebaikan temanku yang dari malang, telah percaya padaku dan mau meminjamkan uangnya utuk membeli mini laptop yang kudambakan…
                Tapi aku lhampir lupa tidak berterima kasih secara khusus kepada allah SWT, yang telah member rizki kepada ku, nikmat sehat, dan nikmat kepercayaan kepada temanku untuk saya pinjami uangnya..
                Sungguh nikmat yang tidak di sangka-sangka, apa lagi kalu mengingat setahun lalu tepatnya di penghujung  2011 lalu, aku melewatinya dengan teman dekatku yang tak tau dimana sekarang, apakah ia masih ingat dengan itu atau tidak, ya mudah-mudahan selalu mendapat yang terbaik amin..
                Dua mala ini surabaya diguyur hujan lebat sekali, sepintas aku lihat dikoran yang ada di warong kopi di kolom metropolis,  tertulis suarabaya terancam banjir, mudah-mudahan jangan sampailah, dan mala ini hujan begitu lebat, meskipun aku terbaring di kasur aku bisa melihat dan mendengar dari jendela kamar atas yang terbuka.
                Surabaya termasuk jajaran kota yang sangat padat penduduk setelah Jakarta, tapi yang aku rasakan Surabaya tak ubahnya dengan kota impian, seminggu ini tak ada kemacetan, udara yang tak terlalu panas dan yang lebih anehnya lagi tidak ada hiruk pikuk kesibukan seperti hari-hari biasanya, pada kemana orang Surabaya ini, tapi besok hari senin mungkin punggung jalan Surabaya akan tersiksa lagi
                Ehmm ternyata ini libur panjang teman, .. Surabaya bisa bernafas kalau libur panjang.. tapi kemana orang-orang itu, apa lagi liburan mungkin sih tapi apakah semuanya, apa sebagian besar penghuni kota ini sudah bukan penduduk asli lagi, kalo iya kemana perginya..
                Itulah kawan fenomena yang ada dikota ini, mungkin terjadi hal yang sama dengan kota-kota lain, dimana penduduk local bukan lagi orang yang mendominasi dalam proses pengembangan kota, masih banyak orang miskin kota yang memanggul berjuta masalah, yang berjuang dengan kerasnya hidup, masih banyak kutemui anak asli Surabaya yang pada jam sekolah masih ada di perempatan lampu merah, entah itu jual Koran atau hanya sekedar meminta-minta dan mengharap belas kasihan prngrndara yang lewat.
                Lalu coba kita naik kereta api saja dari stasiun semut sampai stasiun wonokromo, kawan akan melihat tempat tinggal yang sangat tidak layak untuk kota yang selalu meraih Award dari presiden, entah penghargaan apa saja yang telah diperoleh,
                Kemudian kawan kita intip aja mulai dari sisikota sebelah mana nih, okeh aku mulai dari sebelah barat aja yah…
                Jalan Bukit Darmo Boulevard, dari nama jalannya aja kawan bisa bayangkan bagaimana lingkunagan  yang bersih, jalan yang mulus, kanan kiri dihiasai dengan bangunan yang artistic, ada ruko BDG yang meniru gaya eropa, ada PTC yang begitu megah dengan mallya, apa anda ingin menikmati seperti ada dikota singapure, atau di itali, roma, pokoknya buagus kata nenek ku dulu.. kmudian kita ke timur sedikit, aka nada bangunan kembar yang menjulang tinggi dan mall mewah siapa yang bangun?
 Itu Surabaya bagian barat saja, untuk bagian yang lain kapan ajah, otaku sudah pening memikirkan,,